
pagi seperti biasa keluarga Pradipta membiasakan untuk sarapan tanpa ada yang boleh melewatkannya
Kania masih harus menjalankan hukuman untuk tidak memakai motor kesayangannya Anisa pun masih berasa di mansion Pradipta agar bisa memantau Kania
setelah selesai sarapan Kania dan Anisa pamit kepada Clara dan Leo
"Kami pamit mom dad" ucap Kania dengan lesu
Kania menciumi punggung tangan kedua orang tuanya begitupun Anisa
Anisa sudah seperti anak bagi Clara dan Leo Anisa merupakan anak baik yang Clara asuh dari SMP namun Anisa tak ingin selalu tinggal di mansion Pradipta bagi Anisa orang tua Kania adalah pahlawan untuknya
Anisa tumbuh menjadi anak baik berkat didikan Clara yang tak pernah pilih kasih antar putrinya dan dirinya
"Anisa sayang kamu harus sabar yah hadapi Kania" ucap Clara
Clara tau sifat putrinya yang masih bandel dan kekanak-kanakan Clara berharap Anisa tak menjadi seperti Bella itulah Clara selalu mencoba berlaku adil kepada keduanya dan selalu menasehati keduanya
"Iya mom Anisa berangkat" ucap Anisa
Anisa gadis cantik yang menggunakan hijab untuk menutupi rambut indahnya Clara tak pernah melarang Anisa bagi Clara apapun yang Anisa sukai akan ia coba untuk berikan
Clara berjalan mendekati suaminya sambil tersenyum
"Pa apa kita tak menghukum Kania dengan keras?" ucapnya
"Sayang,,Kania pasti mengerti percayalah" ucap Leo menyakinkan istrinya
Clara takut jika ia terlalu menekan anak-anaknya ia tak ingin anak-anak menjadi tertutup pada orang tuanya Clara ingin kedua anaknya selalu menceritakan harinya pada dirinya
cup
Sebuah kecupan manis mendarat di dahi Clara,, Clara yang menerima itu tersenyum
"Jangan terlalu khawatir pada anak-anak " ucap Leo
Leo selalu mengajarkan anaknya untuk mandiri dan bisa mengatasi masalahnya sendiri ia
"Aku ke kantor dulu"
"Hati-hati pa"
...****************...
Riuh sehebo dari teriakan siswa dan siswi membuat Kania merasa kepo dan berjalan keluar kelas
Ganteng banget
seperti pangeran
cocok untuk masuk di inti Greenland
mendengar itu Kania menjadi penasaran ia menerobos beberapa siswi untuk melihat kearah lapangan matanya membulat takjum melihat pria tampan berparas putih tinggi sedang bermain basket
Anisa yang sibuk mencari Kania menggelengkan kepala saat melihat Kania sedang menatap pria itu tanpa berkedip
"Kania "
"Kania kak Keenan" ucap Anisa
Kania yang mendengar nama kakanya langsung panik Anisa tertawa melihat ia,Kania yang mendengar Anisa tertawa menatap tajam kemudian berlalu masuk ke dalam kelas karena kesal
Anisa mengikuti Kania masuk dan duduk di samping Kania untuk membujuknya
"maafkan aku" ucap Anisa
Kania tak menghiraukannya Kania membuang muka ke sembarang arah sebenarnya ia sedang menahan tawanya melihat wajah Anisa membuatnya ingin sekali tertawa keras
Anisa terus membujuk dan memelas pada Kania
"Pagi anak-anak" ucap guru masuk ke dalam kelas
Kania dan Anisa kembali fokus ke depan kemudian muncul sosok pria tampan yang sejak tadi mengambil perhatian Kania
pria itu menatap Kania kemudian terbit senyum sinis yang tak di sadari oleh siapa-siapa
"Kita kedatangan murid baru,,kamu silahkan perkenalkan diri" suruh dulu pada murid tersebut
"Haii nama gue Candra" ucapnya singkat
setelah itu pria itu berjalan namun berhenti saat ia berada di meja Kania
"Hai cantik" ucapnya kemudian melangkah pergi
Kania yang melihat itu merasakan jantungnya berdetak kencang ia memegang jantungnya dan merasa pipinya panas
"Anisa gue nggak mimpi kan" ucapnya
Anisa hanya memutar bola malasnya Kania selalu begitu banyak pria yang Kania sukai namun tak seorangpun yang berhasil masuk ke dalam hidupnya Anisa juga selalu menjaga agar Kania mendapatkan pria yang baik
"Kania berhenti menghayal" ucapnya
"Dih sirik Luh"
keduanya kemudian kembali fokus pada Pelajaran yang diberikan guru
tak berselang lama kini waktunya istirahat
"Kantin bareng" ajak pria itu kepada Kania
Kania menatap tak percaya rasanya ia ingin menghilang ia mencoba untuk tampak cuek dan biasa saja
keduanya pun berjalan hanya berdua karena Anisa memilih pergi meninggalkan keduanya ia tak ingin menjadi obat nyamuk
saat keduanya memasuki kantin semua mata menatapnya begitu banyak yang menjadi iri pada Kania karena berhasil mendapatkan idola baru mereka
Kania duduk di kursi kosong kemudian memesang makanan yang ia sukai pria tersebut terus menatap Kania ia pikir sangat mudah mengambil hati wanita yang akan di depannya
disisi lain inti Greenland berjalan memasuki kantin mereka tak mendapatkan kursi kosong
"Tuh di Anisa cuma sendiri" ucap salah satu dari mereka
"Anisa sendiri lalu Kania?" ucap Gabriel bertanya
Keenan tak menjawab ia kemudian berjalan menuju meja Anisa
"Hmm" deheman Keenan
Anisa yang mendengar itu mengdokan kepalanya dan menatap Keenan
"Kania"
"Tuh" ucap Anisa menunjuk Kania yang sedang ada bersama pria itu
"Pria itu?"
"Murid baru" ucap Anisa
Anisa sudah biasa dengan bahasa Keenan yang hanya mengeluarkan satu atau dua kata jadi ia lebih paham bagi Anisa Keenan juga seperti kakaknya walaupun ia menyukainya begitu pun Keenan ia tak membedakan antara Anisa dan Kania baginya sama
tanpa ada kata Keenan berjalan kearah Kania yang sedang asik tertawa
"Hm"
Kania yang mendengar itu menatap kakaknya dengan raut kesal
"Ada apa" ketus Kania
"Ikut"
Keenan kemungkinan menarik lembut tangan adiknya Kania tak banyak protes ia tau kakanya pasti akan mengintrogasinya
"Iss lepas es batu" kesal Kania
"Siapa"
"Murid baru" ketusnya
Keenan membuang napas kasar ia hanya tak ingin adik kecilnya menengal pria yang tak pantas untuknya
"Kamu baru kenal dan sudah dekat"
"Lalu?" tanya Kania
"Kania jangan mudah percaya sama orang kamu ingat cerita mommy" ucap Keenan
Clara memang menceritakan hidupnya kepada anak-anaknya saat ia menjadi Cia dan mengapa ia bisa menjadi Clara dan banyak hal lagi
"Kak Kania dan mommy itu beda dan beda takdir" ucapnya
"Mendengarlah Kania" ucap Keenan berusaha menjaga emosinya
"Ckk,, menyebalkan" ucap Kania berlalu
Kania berjalan meninggalkan Keenan tanpa perduli suara teriakan Keenan memanggilnya ia hanya terus berjalan
diperjalanan ia melewati jalan yang sunyi gedung sekolah yang sudah tak di gunakan kakinya terhenti saat mendengar sesuatu dari dalam gedung kosong awalnya Kania takut namun ia mencoba memberanikan diri untuk mendengar
"Dasar cupu loh" ucap seorang wanita
Kania dapat melihat seorang gadis cupu yang sedang di bully oleh tiga gadis
"Maaf"
"Gue mau maafkan loh asal loh jilat sepatu gue" ucapnya gadis itu dengan angkuh
Gadis cupu itu pun menurut saat kepalanya akan tiba di kaki gadis itu Kania masuk
"Stop!!!" teriak kania
Semua menatap Kania dengan bingung apa yang Kania lakukan digedung kosong ini tiga gadis yang melihat tatapan tajam Kania menjadi takut tak ada yang tidak mengenal Kania
tanpa banyak kata ketiganya pun pergi berlalu dari sana ia tak ingin mencari masalah Kania
Kania berjalan mendekati gadis cupu yang saat ini sedang gemetar ketakutan
"Jangan takut gue baik kok" ucap Kania dengan lembut
"Namalo siapa?" tanya Kania
"Rana kak" ucap gadis cupu itu
"Gue Kania"
Kania langsung memeluk tubuh gadis yang gemetar kuat itu Kania bisa merasakan betapa takutnya gadis itu
"Gue ada disini jangan takut "
Gadis cupu itu hanya tersenyum licik dalam pelukan Kania
"Sekarang loh masuk dalam jebakan gue"gumamnya dalam hati