
Hari Hari terus berlalu Sudah 30 hari lamanya Kania menahan diri untuk tetap menjadi Kekasih Candra terlihat seperti orang bodoh yang sangat begitu mudah untuk di perdaya
Kania memenuh seluruh keingin Candra mulai dari materi dan material Candra selalu menampakkan kesedihannya yang menarik perhatian Kania kini Kania pun melupakan Anisa dan lebih sering bersama sih cupu tapi Anisa tak marah ia lebih kenal siapa Kania
Keenan beberapa kali memperingati adiknya namun Kania seperti enggan untuk mendengarkan dirinya
Seperti pagi ini seluruh keluarga Pradipta melakukan sarapan bersama disana tak hanya ada Pradipta tapi keluarga Gilang ikut serta
"Kania berangkat" pamit Kania
Kania bergegas lari kemobil dan membawahnya membelah jalan raya yang tak begitu padat pagi ini Kania berniat untuk memulai rencananya ia tak ingin pengeluarannya terus mencapai harga fantastis kedua orang tuanya tak masalah hanya saja Kania merasa rugi jika harus terus-menerus membiayai dua orang
Kania tiba di gerbang sekolah memakirkan mobilnya disana sudah terdapat Inti Greenland namun Keenan belum tiba Kania keluar berniat menemui para inti Greenland
"Hai para es batu" teriak Kania
Inti Greenland yang mendengarkan teriakan Kania menutup telinganya Kania tak merasa bersalah sama sekali ia dengan santai berjalan mendekati dan langsung mengandeng tangan Gabriel
"Ada apa?" tanya Gabriel
Kania mendengar kan itu mengerutkan keningnya matanya tertuju pada satu orang yang asing baginya menatap dari atas hingga bawah wajah tampan dan rahang kokoh mata tajam yang dapat membuat para kaum hawa tergila-gila
"Hai" sapa Kania
Pria itu menatap Kania dengan tatap tajam bukannya takut Kania malah membalas tatapan tajam itu
"Cihh" ucap pria itu
Kania memutar bola malasnya kemudian menatap Gabriel seakan bertanya
"Dia wakil ketua Greenland" ucap Gabriel
"Kok bisa lalu kau?" Tanya Kania lagi
"Mami tak izinkan" ucap Gabriel lesuh
Kania ingin sekali tertawa Gabriel dan Keenan dikenal sebagai pria kejam dan dingin namun keduanya takut pada dua wanita siapa lagi kalau bukan Clara dan Tia
Gabriel membekab mulut Kania dengan tangannya ia tak ingin adiknya itu membuatnya malu Kania memberontak berusaha untuk melepaskan tangan besar Gabriel dari mulutnya
Gabriel melepaskan tangan dari mulut Kania dan melototinya Kania hanya mengulurkan lidahnya tak lama Keenan memasuki sekolah melihat kakaknya turun dari motor Kania berlari memeluk kakanya
Keenan yang melihat itu mengerutkan kening pasti Kania melakukan sesuatu atau bisa saja akan meminta sesuatu
"Ka Keenan dia kasar" rengek Kania sambil menunjuk Gabriel
Keenan sudah kau akar permasalahannya pasti adiknya itu menganggu Gabriel dan Gabriel tak mungkin berbuat kasar itu sama saja bunuh diri
"tidak" elak Gabriel
interaksi ketiganya dilihat orang pria baru yang bergabung dalam Greenland ia merasa heran tak mengetahui siapa Kania pria itu tau kalau Keenan dan Gabriel adalah pria yang tak ingin disentuh oleh wanita namun bersama Kania ia begitu dekat
Kania melepas pelukan kakanya ia pun mencium pipi kiri dan berlalu mencium pipi kanan Gabriel kemudian berlari secepat mungkin saat melihat Anisa telah tiba
Anisa yang melihat Kania berlari mengerutkan keningnya
"KANIA PUTRI PRADIPTA" teriak Keenan dan Gabriel secara bersamaan
Seluruh murid yang mendengar itu terkejut dengan teriakkan dua pria itu
Kania mendekati Anisa sambil berjalan dengan Riang Anisa hanya menggelengkan kepalanya
"Sudah ketawanya " sahut Anisa
"Muka kedua es batu itu lucu" ucapnya
"Sudah lihat tuh" tunjuk Anisa pada Rana yang berjalan tergesa-gesa
Kania langsung menarik tangan Anisa mengikuti langkah kaki Rana menuju gudang sekolah
Kembali pada Keenan dan kawan-kawannya mereka semua tertawa melihat Keenan dan Gabriel tak ada yang berani melakukan itu pada seorang Keenan hanya satu yang bisa yaitu ibu dan adik kecilnya
"Dia" sahut pria itu
"Dia apa?" tanya salah satu yang merasa bingung
Pria itu hanya mengangguk mendengar jawaban yang dilontarkan salah satu inti Greenland
para inti Greenland terus tertawa hingga mendapatkan tatapan mematikan dari Keenan dan Gabriel
Kedua pria itu meninggalkan inti Greenland dan berlalu pergi
"Ckk,,di tinggal"
seluruh inti Greenlandpun berlalu menyusul Keenan dan Gabriel
Brakk
"Aww"
Keenan menatap gadis yang terjatuh karena menabraknya semua orang merasa takut Keenan tak suka jika ada yang mengusik ketenangannya
"Gawat" ucap salah satu siswa yang melihat itu
Gadis itupun berdiri dan menatap Keenan dengan berani ia sama sekali tak takut dengan tatapan tajam yang Keenan berikan
Cukup lama keduanya beradu tatap
"Apa kau tak punya hati untuk menolong seseorang" Sahut gadis itu
mendengar itu semua menatap tak percaya pasalnya tak ada yang berani menatap atau pun berbicara pada Keenan tapi gadis itu tak tersirat ketakutan pada dirinya
"Aiss ternyata kau bisu" ucap gadis itu dengan berani
Gadis itupun berlalu pergi meninggalkan Keenan dan inti Greenland yang masih menatapnya tak percaya
Gadis itu terus berjalan akibat ulahnya tadi begitu banyak murid yang menatapnya dengan tatapan tajam dan sinis ada juga yang merasa kasihan
"Apasih" ucapnya merasa risih
Setibanya di kelas ia menduduki bangku kemudian temannya datang dengan tergesa-gesa
"Clarissa" panggilnya
"Hmm" sahut gadis itu
"Loh habis lakuin apa hah?" tanyanya
"Nggak ada" ketua Clarissa
"Clarissa" tekan gadis itu
Brakkk
Clarissa yang emosi mengebrak meja dengan kuat dan menatap tajam pada gadis itu
"Jangan menekan suaramu di depanku" ucap Clarissa
"M-maaf" ucap gadis itu
Clarissa kembali duduk dan tak memperdulikan apapun ia merebahkan kepalanya dimeja dan mulai mejamkan matanya
Disisi lain nampak Kania dan Anisa sedang merekam aksi Panas dari Rana dan Candra keduanya begitu larut hingga tak sadar jika ada yang sedang merekam kejadian itu Kania menatap sinis pada Rana gadis yang berpenampilan cupu namun tidak dengan sifat aslinya
Sang mama sudah menceritakan betapa liciknya mama Rana saat membuat Clara harus meninggalkan negara ini dan karena ia Clara yang asli memilih menyerah
Setelah di rasa cukup Kania menarik tangan Anisa untuk segera menuju kelasnya sepanjang jalan keduanya mendengar perbincangan tentang Keenan dan seorang gadis
Kania penasaran siapa gadis yang berani berbicara seperti itu pada kakanya selama ini yang berani menatap Keenan hanya ia ibunya dan juga Anisa
Kania dengan tingkat kekepoan yang tinggi berlalu mencari sang kakanya namun Anisa menahan tangannya
"ckk,,lepaskan" ketua Kania
"Tuh guru mau masuk", ucap Anisa
Anisa menarik paksa tangan Kania dengan langkah malas Kania mengikuti Anisa Kania Begitu penasaran wanita mana yang mampu berbuat seperti itu pada Keenan
"Apakah wanita itu spesial" lirih seorang gadis dalam hatinya