CIARA THE CLARA

CIARA THE CLARA
Kerinduan



Hari telah berlalu waktu begitu cepat berlalu sudah tiga bulan lamanya Keenan hidup manjadi pria dingin yang tak tersentuh Keenan menjadi sangat tertutup dan sendiri tak ada ruang bagi wanita didalam dirinya trauma dan penyesalan menjadi satu dalam diri Keenan


selama tiga bulan Keenan berusaha mencari keberadaan Clara namun ia tak pernah menemukan apapun tentang Clara kisah Clara bagai hilang di telan bumi


Tia tak bersekolah lagi di sana ia memilih untuk menyusul Clara dan Gilang karena tugasnya telah selesai Keenan selalu memohon pada Tia agar mempertemukan dirinya pada Clara namun Tia dengan keras menolak


Keenan hidup dalam penyesalan yang begitu mendalam baginya ia ingin meminta maaf pada Clara namun pintu maaf Clara telah ditutup rencana yang Clara susun berjalan dengan baik bahkan Keenan sampai saat ini merasa menyesal


Keenan selalu berdiam diri disebuah taman tempat dirinya dan Clara sering menghabiskan waktu hanya kenangan dan bayang-bayang manis Clara saat bersamanya hanya itu yang ia punya


"Cla gue rindu" lirihnya menghapus air matanya


Menyesal tentu namun semua telah terlambat Keenan hanya bisa menelan pil pahit dari apa yang ia dapatkan kepercayaan sangat sulit namun Keenan menghancurkan itu semua


Disisi negara lain Clara tersenyum bahagia menhadap cermin menampilkan wajah cantiknya dengan mengunakan gaun diatas lutut


"Anak mommy sangat cantik" puji ibunya


"Mommy Cia malu" lirih Cia dengan wajah merah


Hari ini akan dilaksanakan pertemuan keluarga


Keluarga Pradipta mengundang keluarga Alexander dan keluarga Pratama untuk melakukan makan malam bersama demi menjalin keakraban dan penyatuan kedua putra dan putri mereka


"Sayang" sapa seseorang di balik pintu


"Mami" teriak Clara berhambur pelukan pada maminya seseorang yang tak pernah ia lihat selama hampir setahun


"Cla rindu mami,papi?" tanya Clara


"Disini sayang" ucap seseorang yang baru saja muncul


Clara melihat orang itu langsung berhambur pelukan pada ayahnya


"Papi" ucapnya


"Anak papi sangat cantik" Ucap ayahnya


"Terimakasih" ucap Clara mencium pipi ayahnya


"Clara" sapa Gilang


"Bagaimana?" Tanya Clara


"Sangat cantik" puji Gilang mencubit hidung Clara


Clara tersenyum manis kemudian mengalungkan tangannya dilengan Gilang


Keduanya berjalan meninggalkan para orang tua disana sejujurnya hati Gilang tak ingin namun ia tak bisa memaksa semuanya


Gilang bahagia bisa menyaksikan kebahagiaan Clara hanya itu yang bisa ia lakukan sungguh ia sangat bahagia melihat senyuman Clara yang tak pernah pudar dari bibir indahnya


Seluruh keluarga telah tiba di mansion Pradipta


Keluarga Pradipta menyambut dengan baik kedua keluarga


"Selamat datang di mansion kami tuan dan nyonya" sahut tuan Pradipta


Kedua keluarga dipersilahkan masuk mata nyonya Pradipta tak lepas dari wajah cantik Clara


"Apa ini putri dari tuan Alexander?" Tanyanya


"Iya nyonya dia putri kami" sahut Tuan Alexander


"Kemari sayang" ucapnya pada Clara


Clara melangkah berpindah duduk di samping nyonya Pradipta


"Kau sangat cantik" pujinya


Clara yang mendengar itu wajahnya memerah


tak lama kemudian kedua putra keluarga Pradipta datang mencium punggung tangan kedua orang tua Clara


Perbincangan pun di mulai hingga makan malam pun terjadi setelah selesai Leo mengajak Clara ketaman belakang


Disinilah keduanya Clara suka dengan suasana yang ada di taman belakang itu udara yang segar bibir Clara tak perna berhenti tersenyum


"Cla" panggil Leo


Leo menatap Clara dengan dalam gadis cantik dengan segala yang ia punya siapa yang tak menyukai Clara hanya saja lelaki bodoh telah melukai Clara


"Terimakasih" ucapnya


"Untuk apa?" Tanya Clara menatap bingung pada Leo


"Kau telah memberiku kesempatan untuk bisa dekat dan mengenal keluarga mu" ucap Leo


"Itu harus aku lakukan bukan kah waktu terus berjalan aku tak mungkin memikirkan seseorang yang sama sekali tak memikirkan ku aku ikhlas apapun yang terjadi pada masa lalu yang terpenting sekarang adalah masa depan dan aku harap aku tak terluka lagi" ucap Clara panjang


Huh


Clara menghembus napas panjang mengingat setiap kejadian yang terjadi pada dirinya ia sangat ikhlas sekarang Clara hanya berharap harapannya tak berujung kecewa


Trauma tentu namun bagi Clara waktu tak bisa di putar kembali ia hanya harus bisa menerima semua yang telah terjadi itu jauh lebih baik


Leo meraih Clara dalam dekapannya memberikan kehangatan pada gadis yang begitu ia cintai ia berjanji akan menjaga Clara dengan baik ia tak akan pernah membuat Clara kecewa lagi


Clara tersenyum menatap intens mata lelaki yang telah masuk ke dalam hidupnya dan mulai memberi warna pada hidupnya


...****************...


Setahun telah berlalu waktu terus berputar baik Keenan dan Clara telah memilih hidup masing-masing Clara hidup dengan kedamaian dalam hati sedang Keenan hidup dalam rasa bersalah


Kini keduanya telah masuk perguruan tinggi Keenan tetap menjadi Keenan yang dikagumi kaum hawa namun Keenan menjadi lelaki dingin dan tak perna tersenyum Keenan juga tak pernah dekat dengan wanita manapun ia berharap Clara bisa kembali rasa bersalah terus datang pada dirinya ia tak tahan dengan itu semua


Disisi lain Gilang dan Tia telah menjalin hubungan yang serius bahkan keduanya telah bertunangan itu adalah kebahagiaan yang besar untuk keduanya kapan keduanya dekat hanya Gilang dan Tia yang tau


hubungan keduanya sangat didukung oleh Clara bagi Clara semua masalah telah selesai tak ada lagi yang perlu dipikirkan saatnya untuk kebahagiaan yang lebih besar


"Clara" teriak seorang


Melihat itu Clara memutar bola malasnya melihat kedua pasangan yang selalu bucin di kampus


Clara pun dengan iseng masuk ke tengah-tengah Tia dan Gilang


"Nggak boleh bucin dikampus" ucap Clara tanpa rasa bersalah


Tia mengedus kesal Clara selalu saja mengganggunya dan Gilang namun ia tak pernah marah bagi keduanya Clara adalah adik mereka


"Cla loh ada niatan balik ke Indonesia?" Tanya Tia


"Mungkin sih" jawab Clara


"Loh mau ketemu Keenan?" Kali ini Gilang yang membuka suara


Cukup lama keduanya berada di Italia Gilang tak ingin Clara mengingat kejadian yang pernah membuatnya begitu sakit hati


Clara menyadari tatapan khawatir yang Gilang berikan padanya


"Kalau takdir mempertemukan kami aku tak bisa melawan bukan" ucap Clara


"Tapi cla"


"Takdir tak pernah salah hanya saja harapan yang terlalu rumit " ucap Clara memotong pembicaraan Tia


"Kau tak membenci Keenan?" Tanya Gilang


Mendengar itu Clara tersenyum kemudian menghembuskan nafas masih ada rasa sesak jika ia harus mengingat Keenan


"Aku tak membencinya aku hanya benci perasaan ku untuknya" ucap Clara


"Perasaan tumbuh dengan sendirinya kita tak bisa memaksa seseorang bersama hanya karena perasaan yang kita miliki"


huh


Clara membuang napas panjang


"semua orang punya pilihan begitu pun dengan Keenan aku akui saat itu Keenan egois dengan mempertahankan aku disisinya"


"Harusnya Keenan sadar jika ia mencintaiku harusnya tak ada Chika diantara kami,,Keenan harusnya bisa memutuskan untuk memilih dan ia telah memilih Chika "


"bukan begitu jika kita mencintai dua orang dalam satu hari kita harus melepaskan salah satu atau membiarkan keduanya terluka " ucap Clara


Tia meraih Tubuh mungil Clara dalam dekapannya ia tau perjuangan Clara melupakan Keenan yang tak mudah Gilang pun mengelus rambut Clara ketiganya bagaikan saudara yang tak terpisahkan