
Happy Reading.
Casandra dan Romeo baru saja menyelesaikan sesi percintaan mereka. Apa yang di ancam kan oleh Casandra tidak mempan, nyatanya Romeo tetap juga kalap untuk tidak memakan istrinya.
"Sayang, apa masih sakit?" tanya Romeo mengelus perut Casandra yang tadi tiba-tiba terasa nyeri dan kencang setelah penyelesaian puncak percintaan mereka.
"Hemm, sedikit," jawab Casandra memegang pinggangnya.
Beberapa hari ini Casandra sudah sering mengalami kontraksi palsu. Hari-hari menjelang kelahiran memang membuatnya sedikit stres.
Apalagi dengan kasus yang hampir membuatnya sakit hati.
Untung saja Romeo bisa meyakinkan nya dan membereskan masalah itu dengan cepat. Romeo juga selalu setia mengelus perut nya waktu sakit, atau memijit pelan pinggangnya.
Casandra benar-benar mendapatkan limpahan kasih sayang dari suaminya itu. Bahkan Romeo tidak pernah mengeluh kalau Casandra meminta digendong tengah malam hanya untuk ke kamar mandi.
Saat ini Romeo telah memijit kaki Casandra yang sedikit membengkak.
"Kakimu jadi kaya kaki gajah," celetuk Romeo yang langsung mendapatkan cubitan di lengannya.
Casandra mencebikkan bibirnya saat mendengar ledekan dari suaminya itu.
"Itu kan wajar, aku membawa anakmu ini sampai 9 bulan loh, seharusnya kamu simpati," jawab Casandra manyun.
"Iya-iya sayang, terima kasih telah menjadi wanita ku, istriku, Mama dari anak-anakku, pendamping hidupku, terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu," Romeo mencium bibir Casandra penuh kelembutan.
Dia menyesapi rasa candu istrinya yang tak kan pernah membuatnya bosan. Padahal baru beberapa jam yang lalu Romeo menjamah istrinya, tetapi sekarang dia ingin lagi. Dasar Romeo memang tidak tahu diri.
Casandra tiba-tiba menghentikan ciumannya dan mendorong dada Romeo, membuat pria itu mengerutkan dahi.
"Kenapa berhenti sayang?" tanya Romeo bingung.
"Berhenti saja, nanti jadi kemana-mana kalau sudah seperti ini," jawab Casandra yang tahu jika suaminya itu sudah mulai nakal tangannya.
"Ya tidak apa-apa, aku janji nggak akan nengok lagi, cuma ciuman aja," Casandra menggeleng, dia sudah cukup lelah.
"Sebaiknya kita tidur, aku sudah ngantuk!"
***
"Aaaaggrr ... Romeo!! perutku sakit!!" jerit Casandra.
Romeo yang mendengar Casandra berteriak sontak langsung membuka matanya.
"Sayang, kenapa? Kamu kontraksi lagi? apa sudah mau keluar babynya?" tanya Romeo panik.
Romeo bertambah panik ketika ada cairan yang keluar dari area sensitif istrinya.
"Inhale, exhale, oke aku harus tenang!"
Romeo mencari pakaian nya dan melihat kaos nya teronggok di lantai. Pria itu langsung memakai kaos dan boxer. Ya, mereka masih dalam keadaan polos setelah pertempuran semalam.
Lalu kemudian dia membantu Cassandra memakai pakaian tanpa pakaian dalam.
Romeo langsung membopong Casandra keluar kamar dan memanggil supirnya.
"Jakson, cepat ambil mobil, istriku kesakitan!!" teriak Romeo.
Tentu saja hal itu langsung membuat gaduh seisi rumah. Romeo segera membawa Casandra yang menahan sakit itu untuk keluar dari rumah.
Dengan dibantu beberapa pengawal, Romeo berhasil membawa Casandra masuk kedalam mobil dan langsung meluncur menuju Rumah Sakit.
"Sayang bertahanlah," bisik Romeo sambil memeluk istrinya.
"Sakit," rintih Casandra.
"Jackson, cepat hubungi Wison!!"
"Baik tuan," jawab sopir pribadi Romeo itu.
"Sayang kamu harus kuat," Romeo mencium kening Casandra berkali-kali.
Dia benar-benar khawatir saat ini, sungguh Romeo belum pernah mengalami kepanikan yang luar bisa. Tapi dia harus kuat karena Casandra membutuhkannya.
Casandra yang sudah tidak tahan merasakan sakit tiba-tiba dia tidak sadarkan diri.
"Cassandra, sayang bangun!!!" teriak Romeo yang merasakan jika Casandra melemah.
"CEPATLAH SEDIKIT MENYETIRNYA!!" teriak Rome pada sang sopir.
Romeo pernah melihat kejadian dimana dulu salah satu ibu sahabatnya meninggal ketika melahirkan adiknya. Rahimnya robek dan kehabisan darah. Sungguh Romeo tidak ingin kejadian itu terjadi pada istrinya.
"CASANDRA, BERTAHANLAH ....!!! jangan tinggalkan aku!!"
Bersambung.
Dua bab lagi tamat ya, langsung up hari ini juga.