Casandra

Casandra
Episode 34



Happy Reading.


"Aku tidak demam, aku sudah sembuh, buktinya aku bisa sampai di sini!"


Romeo memegang tangan Casandra, sedikit menariknya hingga wanita itu reflek berdiri dan lebih mendekat.


Posisinya tadi, Casandra sedang berjongkok sambil membersihkan luka diperut Romeo, luka itu sepertinya terbuka sedikit hingga mengeluarkan darah.


Padahal Casandra sudah menyuruhnya untuk istirahat di rumah, bukannya keluyuran dikantor seperti ini.


Romeo menarik kembali Casandra hingga jatuh terduduk dipangkuan nya. Casandra terkejut dan langsung menahan tubuhnya dengan memegangi bahu Romeo. Namun Romeo mengeratkan pelukannya dipinggang sang istri.


Casandra bisa melihat tatapan Romeo yang sangat berbeda, tatapan itu lembut dan hangat, mata itu memancarkan aura bahagia. Jantung Casandra berdegup kencang, perasaannya yang sudah dia kubur dalam dengan rasa kebencian semakin muncul kembali ke permukaan.


Casandra terlalu lemah jika berhadapan dengan Romeo, dia takut akan jatuh cinta lagi pada suaminya ini.


Padahal Romeo sendiri juga sedang merasakan perasaan yang membuat nya selalu tersenyum, meletup-letup bagai kembang api yang dinyalakan saat berada di dekat Casablanca. Jantungnya sejak tadi juga bergemuruh kencang.


Keduanya masih saling berpandangan, waktu yang seakan terhenti, hanya ada Casandra Dimata Romeo, begitupun sebaliknya. Tatapan mereka terkunci dan mereka masih betah saling memandang satu sama lain.


Namun, tiba-tiba Casandra tersadar dengan luka Romeo yang baru saja dia balut perban. Casandra akan bangun dari atas pangkuan sang suami tapi Romeo masih kekeh menahannya.


"Ja-jangan seperti ini, nanti luka mu bagaimana?"


"Sudah ku bilang, tidak apa-apa! Hanya luka sekecil itu, tidak membuat ku mati," jawab Romeo mengulas senyuman.


Tubuh Casandra tiba-tiba menegang, entah kenapa kejadian dikehidupan sebelumnya tiba-tiba terlintas. Bagaimana suaminya itu telah membunuhnya dengan tangannya sendiri.


Romeo bisa merasakan tubuh Casandra yang bergetar, matanya tiba-tiba terpancar ketakutan yang mendalam.


"Tidak, aku tidak bersalah, jangan bunuh aku!" seru Casandra memejamkan matanya.


Romeo menepuk pipi sang istri, dia bingung dengan apa yang terlontar dari mulut Casandra itu.


"Casey, ada apa? Hey!" Casandra membuka matanya, bulur keringat muncul di pelipis membuat Romeo menjadi khawatir.


"Casey, sebenarnya ada apa! Siapa yang ingin bunuh kamu?"


Casandra menghirup nafas dalam-dalam, dia mencintai mengontrol dirinya sendiri meskipun ketakutan dimatanya masih kelas nampak terlihat.


"Kamu, kamu yang bunuh aku Romeo!"


Romeo mengerutkan keningnya, "kamu hanya bermimpi, kenapa aku harus membunuh mu, itu tidak mungkin sayang!" jawab Romeo menangkup pipi Casandra.


"Karena kamu membenciku, kamu lebih percaya dengan wanita itu, kamu memilih untuk membunuh ku hanya karena ucapan bohong wanita itu, aku benci kamu, Romeo!! Aku benci kamu!!" Casandra memukul tubuh Romeo menggunakan kedua tangannya.


Saking kuatnya pukulan Casandra yang bertubi-tubi, membuat luka diperutnya kini terasa begitu sakit.


"AAAKKKK!!! Aku akan balas dendam sama kalian!! Aku akan membuat kalian menderita!!' Casandra nampak mengeluarkan seluruh tenaganya, dia meraung menangis sambil berteriak memaki Romeo dan Alice.


Awalnya Romeo hanya diam diperlakukan seperti itu oleh sang istri. Mungkin Casandra melampiaskan kemarahannya saat itu juga. Romeo mengaku jika dia diawal pernikahan nya dengan Casandra begitu tidak menyukai wanita itu, Namun setelah melihat sifat asli Casandra, dan juga kelakuan istrinya itu yang dengan terang-terangan menghindari nya, membuat Romeo merasa kehilangan.


Dan kali ini rasa sakit diperutnya semakin menjadi, akhirnya Romeo memegang bahu Casandra untuk menghentikan istrinya itu.


"Sssttt!! Tenang sayang, tenangkan dirimu! Itu semua tidak benar, kamu mungkin hanya bermimpi buruk!" ujar Romeo meringis menahan sakit.


Bayangan akan kehidupan lalu di mana Casandra melihat dadanya yang bersimbah darah kembali berputar.


"Tidak!!!" Casandra histeris kembali. Diapun langsung berdiri dari pangkuan sang suami yang sudah meringis menjaga sakit. Bahkan wajah Romeo sudah begitu pucat.


Apakah kali ini dia yang telah membunuh Romeo? Apakah dikehidupan keduanya ini seakan semua di putar balik seratus delapan puluh derajat??


"Wilson!! Panggil dokter, cepat!!"


*****


Romeo telah di tangani oleh dokter yang dipanggil Wilson tadi, kini kondisi suaminya sudah membaik.


Casandra hanya menatap Romeo tanpa ekspresi, berbagai macam perasaan tidak menentu hadir didalam pikirannya.


"Sebaiknya Tuan Romeo tidak melakukan aktivitas terlebih dahulu, istirahat dirumah dan tidak perlu ke kantor, kondisi Tuan masih belum baik," ujar sang dokter.


"Bisakah kau mencarikan aku obat yang bisa dengan cepat menyembuhkan luka ini? Ini sangat menggangu aktivitas ku!" ucap Romeo.


Sang dokter tersenyum, "kami akan memberi obat terbaik untuk anda Tuan."


"Bagus, aku tidak ingin merepotkan istriku yang selalu khawatir jika luka ini belum kering!" ucap Romeo melirik Casandra yang saat ini juga masih menatapnya.


Setelah itu sang dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


"Wilson, tunda rapat dua jam, aku akan mengantarkan Romeo pulang," ujar Casandra yang langsung dingguki sang sekretaris.


"Aku masih ingin disini, aku ingin ...!"


"Tidak, kamu harus pulang dan beristirahat!" sela Cassandra.


Romeo mengulurkan tangannya pada sang istri, awalnya Casandra hanya diam dan menatap tangan itu, tetapi melihat wajah Romeo yang memohon, akhirnya Casandra menerima uluran tangan dari sang suami.


"Apa kamu sering bermimpi buruk?" tanya Romeo.


Casablanca menggeleng, "aku tidak pernah bermimpi buruk, tapi pernah mengalami kejadian buruk!"


"Benarkah?" Romeo melototkan matanya. Kejadian apa yang menimpa Casandra, sampai istrinya itu histeris seperti tadim


"Iya, kejadian buruk itu sangat nyata dan aku sangat benci ketika mengingat hal itu."


"Katakan Casey, apa yang terjadi sampai kamu histeris seperti itu!" Romeo sudah tidak tahan, dia ingin tahu kejadian apa itu. Dia pastikan akan membuat perhitungan pada orang yang telah membuat Casandra seperti tadim


"Kamu Romeo, kamu menembak ku tepat di bagian dada dan aku mati!"


"Apa?" Romeo menganga tidak percaya.


Casandra menghela nafas, apakah pria ini akan percaya jika sebenarnya dia kembali dari kehidupan yang akan datang.


"Romeo, apakah kamu percaya jika aku hidup kembali, dan mengalami reinkarnasi setelah kamu membunuh ku?"


Bersambung.