
Happy Reading.
'Daffa Alfares!'
Casandra menatap pria yang berjalan bersama seorang wanita paruh baya itu. Dia adalah pesaing Romeo paling berat. Pria itu licik dan memiliki banyak akal.
Casandra ingat di kehidupannya yang dulu jika Daffa Alfares bersaing dengan Romeo bukan hanya di dunia bisnis saja. Mereka juga bersaing merebutkan cinta dari Alice, wanita yang saat ini sudah mendekam dipenjara.
Huh, lagi-lagi Alice! Wanita itu dulu memang bermuka dua dan manipulatif. Merasa seakan banyak pria yang memujanya. Tetapi untungnya sekarang dia sudah dipenjara.
BRUKK!
"Aww!" Casandra merasa tubuhnya limbung ke belakang dan bisa dipastikan dia akan jatuh saat ini juga.
Namun, tiba-tiba dia merasa ada sebuah tangan yang menahan punggungnya hingga Casandra bisa berdiri lagi dengan tegak.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja!" ucap seorang pria yang tadi baru saja Casandra pikirkan.
"Owh, iya tidak apa-apa!" Casandra melepaskan diri dari pelukan Daffa dan mundur selangkah kebelakang.
'Kenapa aku jadi risih dipegang-pegang orang lain, apalagi orang itu dulu suka sama wanita iblis itu!'
"Kalau tuh lihat depan, Daffa!" ujar wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
Pembawaannya anggun dan berkelas, Casandra pikir dia adalah ibu dari Daffa Alvares.
"Kamu cantik sekali, siapa namamu, Nak?" tanya wanita paruh baya itu, kini dia menatap Casandra dengan senyum tulus di bibirnya.
Oh, ingatkan Casandra jika saat ini Daffa tidak mengenalnya. Lebih tepatnya belum karena persaingan itu terjadi setelah Tuan Jefry meninggal.
Dan Casandra sudah mengubah hampir seluruh alur hidupnya, apakah kali ini juga akan berbeda. Daffa dan Romeo tidak akan menjadi musuh bebuyutan?
"Saya Casandra Adeline Masahiro, nyonya!" jawab Casandra tersenyum.
Sebuah senyuman yang juga tulus Casandra berikan pada wanita paruh baya itu. Namun sepertinya ada yang sedang terpesona saat melihat senyum tulus Casandra.
Jika di masa lalu Casandra suka sekali mengumbar senyumnya, tetapi dikehidupan ini Casandra sangat mahal senyum. Dia merasa tidak perlu memberitahu senyuman pada orang-orang yang munafik seperti itu.
Daffa berdehem, sepertinya dia sedang berusaha mengendalikan dirinya yang tadi sempat terpaku oleh seorang wanita yang sedang menatap ibunya.
Bahkan wanita itu sama sekali tidak mau menatapnya.
Huh, Daffa menjadi kesal sendiri, biasanya para wanita pasti selalu mencoba mencari perhatian nya, bahkan ada yang terang-terangan mengatakan suka padanya.
"Kamu putrinya Tuan Jefry?"
Casandra tidak terkejut jika ada yang mengenali nama belakangnya, sudah dipastikan jika dia adalah putri satu-satunya Jefry Masahiro, pria keturunan Jepang yang sukses menjadi konglomerat di negara A.
"Iya, Nyonya," jawab Casandra kembali tersenyum.
Daffa nampak terkejut ketika mendengar jawaban Casandra. Dia pernah mendengar rumor tentang putri dari Jefry Masahiro dan yang tidak lain adalah istri dari Romeo Zuditte.
Wanita yang suka berdandan menor bergaya glamour dan suka memakai pakaian seksi, cerewet dengan tingkah laku yang centil, bahkan banyak yang mengatakan jika wanita itu sangat bodoh dan tidak tahu malu.
Namun apa yang dia lihat sekarang, wanita di hadapannya ini sungguh cantik dan elegan, begitu mempesona di matanya, jadi dari mana rumor itu beredar.
Bukankah wanita di hadapannya ini sangat jauh berbanding dari selentingan berita-berita di luar bahkan mungkin beda 180 derajat.
"Saya permisi dulu, Nyonya ... !"
Casandra segera menunduk, sikapnya begitu sopan. Di mata Daffa, Casandra adalah wanita yang pintar dan berkelas. Sebenarnya siapa Casandra ini? Apakah semua rumor itu palsu?
"Nyonya Stella dan tuan Daffa, saya permisi!" Casandra lalu berlalu begitu daja dari hadapan dua orang yang masih menatap punggung kecilnya itu.
"Mom, apa tidak salah wanita itu Casandra Masahiro? Jadi dia adalah istri dari Romeo Zuditte, yang rumornya begitu buruk itu?" tanya Daffa.
Nyonya Stella hanya mengangkat kedua bahunya. "Kenapa? Apa menurutmu tadi dia terlihat seperti wanita yang bodoh dan norak?"
Daffa langsung menggeleng.
"Tidak, dia wanita yang anggun dan berkelas, tidak seperti apa yang di bicarakan orang-orang selama ini, ya meskipun aku memang belum pernah bertemu dengan istri dari Romeo Zuditte, tetapi aku sering bertemu dengan Romeo diberbagai acara penting, dia tidak pernah mengajak istrinya pergi ke pesta atau undangan yang resmi," ujar Daffa.
Nyonya Stella mengamati wajah putranya, sebenarnya Daffa begitu tampan, tetapi kenapa pria itu belum juga bisa mendapat wanita yang tepat dihatinya.
"Apa kamu tertarik dengan Casandra?" tanya Nyonya Stella duduk di sebuah kursi kosong di restoran itu.
Rencananya dia memang mengajak putranya yang masih saja melajang diusianya yang hampir 29 tahun itu untuk makan siang.
Padahal adik kembarnya saja sudah memiliki seorang putra yang sekarang masuk elementary school.
"Hemm, kalau dia wanita single sih aku tertarik, jujur saja Mom, senyumnya begitu menawan," jawab Daffa tersenyum sambil mengingat bagaimana senyum Casandra yang mempesona.
****
"Kau darimana saja?" Casandra terkejut mendengar bariton keras itu.
"Romeo? Kenapa kamu ada dikamar ku?" Casandra mendelik sambil berkacak pinggang saat melihat Romeo duduk di sisi ranjangnya.
Kapan pula pria itu masuk kedalam kamarnya? Huh, Casandra benar-benar ingin menarik dasi pria itu yang masih terpasang dilehernya.
"Mulai malam ini aku tidur di sini," jawab Romeo berdiri dan melonggarkan dasinya.
Berjalan ke arah istrinya sambil menatap Casandra dengan tatapan yang lembut.
'Eh, apa-apaan dia? Kenapa tatapannya sekarang jadi menyeramkan!' batin Casandra.
"Ini kamarku, sebaiknya kamu balik ke kamarmu sekarang, jangan mengacau Romeo!" seru Casandra melihat Romeo yang terus saja maju ke arahnya.
Romeo menyeringai, "sayangnya ini juga kamarku! Kamu tidak bisa mengatur ku di rumahku sendiri. Jadi mulai malam ini kita harus tidur sekamar!"
Casandra benar-benar terkejut melihat tingkah laku suaminya ini, ada apa dengan seorang Romeo Zuditte, apakah tadi kepalanya terbentur pintu.
Casandra tidak ingin berlama-lama dengan sang suami, meskipun akhir-akhir ini Romeo memang menunjukkan perubahan sikap, terapi tetap saja bagi Casandra, Romeo adalah malaikat pencabut nyawanya.
Yang itu artinya, Casandra tidak boleh dekat-dekat dengan suaminya itu.
"Kalau kamu sangat ingin tidur di kamar ini, silahkan! Aku akan cari kamar lain!" Casandra akan membalikkan bada, tetapi Romeo langsung menarik lengan istrinya itu.
"Casandra, apa kamu lupa jika kita adalah suami istri, dan itu artinya kita harus tidur bersama!"
Astaga! Casandra benar-benar tidak suka dengan tingkah Romeo yang seperti ini, lihatlah sekarang, jantungnya sudah berdegup kencang gara-gara Romeo mendekatkan wajahnya.
'Oh, jangan Casandra, kamu tidak boleh mencintai pria ini, seharusnya kamu tetap membencinya!' batin Casandra.
Wanita itu hanya bisa memalingkan wajahnya ke samping agar tidak menatap mata Romeo yang kali ini benar-benar menatapnya dengan cara yang berbeda.
Bersambung.