
Happy Reading.
Seminggu sudah Tuan Jefry meninggalkan Casandra. Saat ini tepat ulang tahun sang Ayah yang ke 60 tahun, Casandra datang ke pemakaman sambil membawa bunga mawar putih untuk Ayahnya dan juga foto hasil USG yang di tempel pada karangan bunga mawar putih itu.
"Ayah, aku bawakan foto USG calon cucu Ayah, kami sehat dan aku ingin selalu sehat agar bisa membesarkan calon baby ku ini," ucap Casandra meletakkan buket mawar putih itu.
Romeo selau setia mendampinginya, dia juga merasa sedih ketika harus kehilangan sosok seperti Tuan Jefry yang telah banyak membantunya.
"Hiks!" Romeo memeluk sang istri ketika mendengar isakan tangisnya.
Casandra benar-benar terpuruk setelah kepergian Tuan Jefry, untung saja tidak berimbas pada calon bayi mereka. Romeo terkadang juga khawatir jika kondisi Casandra akan berimbas pada si baby.
Tapi untung saja calon anaknya itu kuat, seperti apa yang dikatakan Casandra di depan nisan sang Ayah. Waktunya terus berjalan dan Casandra akan menikmati limpahan kasih yang diberikan oleh sang suami.
"Kamu harus kuat sayang, karena sekarang ada Baby yang harus di perjuangkan, aku yakin Ayah pasti sangat bahagia atas sana ketika mengetahui kalau kita akan memiliki anak," ujar Romeo.
"Iya, aku akan kuat, demi bayi kita!"
****
Mungkin bagi Casandra dia bukanlah apa-apa tanpa sang Ayah, tapi Romeo selalu mengutamakan dirinya agar tidak pernah melupakannya.
Romeo akan selalu ada untuknya, kapanpun itu dan dimanapun Casandra membutuhkannya, Romeo akan selalu mendampingi langkahnya.
"Apakah kamu siap sayang?" tanya Romeo pada istrinya yang tengah berada didepan cermin.
Casandra memakai dress berwarna putih tulang deng renda di bagian dadanya. Casandra terlihat begitu cantik, perutnya masih sudah membuncit karena kehamilannya sudah memasuki usianya 18 Minggu.
"Ya, ayo kita berangkat sekarang." Casandra mengambil tasnya dan berbalik menerima uluran tangan Romeo.
"Kamu ingin anak kita berjenis kelamin apa?" tanya Romeo yang masih setia menuntun Casandra menuruni anak tangga.
Dengan sangat hati-hati Romeo ingin menjaga Casandra agar istrinya itu berjalan selamat sampai ujung bawah.
"Apa saja, mau perempuan atau laki-laki yang penting mereka sehat," jawab Casandra tersenyum.
Ya, mereka akan melakukan pemeriksaan kehamilannya yang kedua. Pada pemeriksaan yang pertama dulu belum diketahui jenis kelamin janinnya.
Saking sibuknya Casandra sampai baru memeriksakan kehamilannya lagi.
Sang dokter yang merupakan seorang wanita dewasa sudah memberikan jel pada perut Casandra. Dengan hati yang berdebar-debar Casandra dan Romeo sangat antusias kala melihat bayi mereka yang masih berada di dalam perut itu
"Keadaan janinnya bagus, ini detak jantungnya ya, dan jenis kelaminnya laki-laki, selamat untuk kalian!" ujar sang Dokter.
Casandra menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sungguh dia benar-benar merasa jatuh cinta pada gambar 4D itu, hidung dan mulut bayi sudah kelihatan. Matanya tertutup dan gerak-gerak di dalam.
Romeo juga sama antusiasnya, dia hampir saja meneteskan air matanya ketika melihat calon buah hatinya itu.
Sebagai calon Ayah, Romeo memang begitu antusias dengan kehamilan istrinya ini, dia berharap bisa menjadi Ayah dan suami yang baik.
"Sayang, dia pasti mirip sama aku, lihatlah hidungnya yang mancung itu," ujar Romeo.
"Tidak, dia pasti mirip aku, aku kan ibunya," Casandra tidak terima.
"Biasanya kalau anak pertama laki-laki itu mirip Daddy-nya!"
Dan seperti itulah akhirnya keduanya malah berdebat masalah kemiripan anak mereka. Padahal kan kalau sudah lahir pasti akan tau juga mirip siapa.
"Nanti mampir ke mall ya, aku mau beli baju buat Baby," ujar Casandra setelah duduk di dalam mobil.
Romeo mendekat dan memasangkan sabuk pengaman istrinya yang sudah disetel lebar. Tidak lupa mencuri ciuman di bibir Casandra.
"Baru 4 bulan sayang, masa udah di beliin baju."
"Ya, kita nyicil, beli kaos kakinya dulu nggak apa-apa," jawab Casandra manyun.
Romeo tersenyum melihat tingkah Cassandra yang sekarang ini, istrinya itu begitu imut sekarang. Galaknya masih tapi dengan kejutekan yang bikin Romeo gemas.
"Iya-iya, apa sih yang nggak buat kamu," jawab Romeo yang membuat Casandra tersenyum lebar.
"Makasih Romeo, ternyata kamu bisa romantis juga ya!"
"Eh, aku udah romantis terus ya, kamu aja yang nggak merasa aku romantisin!"
Casandra dan sekarang memang suka sekali berdebat. Berbeda dengan dulu-dulu di awal pernikahan.
Romeo hanya ingin menebus setiap kesalahan nya dulu pada Casandra. Sikapnya yang selalu abai dan tidak peduli itu kini ditebus dengan perhatian yang luar biasa.