
Happy Reading.
Romeo melototkan matanya ketika melihat video yang diputar di ponsel sang istri. Di sana terlihat Alice sedang mengeluarkan gunting dari dalam saku dan mengarahkan gunting itu ke selang oksigen milik Ayah mertuanya.
Romeo bisa melihat dengan jelas jika Alice menggunting selang oksigen itu. Sungguh sama sekali tidak pernah dia bayangkan jika wanita yang dulu menjadi sekretarisnya melakukan hal gila dengan berusaha membunuh seseorang dan orang itu bukan orang biasa, orang itu adalah orang besar seperti Tuan Jefry Masahiro.
"I-ini adalah sebuah percobaan pembunuhan!! Ya Tuhan!!" pekik sang dokter.
"Percobaan pembunuhan!" seru Romeo masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Alice, wanita yang ia kenal baik dan ramah berusaha memutuskan selang oksigen milik Tuan Jefry.
"Apa?? Tidak-tidak!! Aku tidak akan membiarkan perbuatan wanita itu begitu saja, akan ku buat kau mendapatkan balasan! Alice, kau wanita jahat!!" seru Casandra.
Romeo memeluk Casandra, berusaha menenangkan istrinya itu. Casandra merasa hatinya memanas setelah melihat sendiri rekaman video dimana Alice merencanakan pembunuhan sang Ayah dengan cara yang begitu keji.
Wanita itu meronta dan langsung di bawa Romeo keluar dari dalam ruang rawat tersebut.
"Lepaskan Romeo! Aku akan mencari Alice, akan ku bunuh wanita itu!"
"Cukup Casandra! Jangan seperti ini, kita serahkan semua bukti-bukti ke polisi, biar dia diadili dengan tepat," ujar Romeo.
Casandra menatap Pria itu sinis, "kenapa? Apa kau masih berusaha membela kekasih mu itu!!" teriak Casandra yang mungkin dia sudah keceplosan karena lagi-lagi menyebut jika Alice adalah kekasih Romeo.
Padahal jelas-jelas dikehidupan sebelumnya, Romeo dan Alice semakin dekat setelah kematian Ayahnya.
Rasa sakit hati melihat mereka semakin dekat masih bisa dirasakan Casandra sampai saat ini. Tiba-tiba dadanya terasa berdenyut nyeri, seperti terluka karena suatu benda.
Sakit itu berada tepat dimana Romeo menembak dua kali di dada bagian kanannya.
Romeo menghela nafas.
"Kenapa kamu selalu menyebut Alice kekasih ku? Asal kamu tahu, aku dan dia hanya rekan kerja dan tidak ada kedekatan apapun diantara kita!" jelas Romeo.
Ucapan Casandra sukses membuat pria itu mengerutkan keningnya dalam. Lagi dan lagi Casandra selalu mengatakan jika Alice adalah kekasihnya. Itu sama saja merusak reputasinya jika ada orang yang mendengar.
"Sudahlah, aku akan membuat laporan ke polisi untuk menetapkan Alice sebagai tersangka!" Casandra membalik tubuhnya dan akan segera pergi dari hadapan Romeo.
Namun, ucapan pria itu membuat Casandra menghentikan langkah.
"Kamu tidak perlu repot-repot melapor ke polisi karena aku sudah menyerahkan semuanya pada Arnold, jadi sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Romeo.
Casandra terkejut dengan ucapan sang suami, kapan pria itu menghubungi orang kepercayaannya, padahal Casandra juga belum melihat Romeo memegang ponselnya sejak tadi dan malah sibuk menenangkan dirinya.
"Maksudnya aku baru akan meminta Arnold," ujar Romeo yang sepertinya tahu arti tatapan dari istrinya itu.
"Terserah!"
Casandra kembali ke dalam ruang rawat sang Ayah, dia merasa begitu marah dengan perbuatan sekretarisnya itu.
Sebenarnya motif apa yang membuat Alice membunuh Tuan Jefry, tentu saja kali di Casandra akan mencari tahu.
Romeo segera menghubungi Arnold untuk segera membuat laporan kepada polisi dan juga menyerahkan bukti video di ponsel istrinya.
*****
Alice terkejut ketika membuka pintu apartemen nya, wanita itu melihat dua petugas polisi yang tiba-tiba datang berkunjung ke kediamannya yang tidak terlalu besar itu.
Padahal malam ini Alice sudah berencana tidur, dia akan melihat berita besar keesokan harinya. Alice sudah sangat percaya diri jika rencananya berhasil, tidak ada CCTV di dalam ruangan itu dan hal itu mempermudahkan Alice untuk melakukan rencananya.
Namun, sepertinya dugaannya salah karena kehadiran dua polisi di apartemennya ini.
"Ada apa ya? Kalian cari siapa?" tanya wanita itu dengan suara yang serak.
Gelisah dan gugup bercampur jadi satu, entah kenapa Alice merasa jika perbuatannya telah diketahui.
"Kami diperintahkan untuk menangkap anda, Nona Alice, anda dituduh melakukan percobaan pembunuhan Tuan Jefry Masahiro!"
JEDER!!
Bagai disambar petir di tiang bolong, Alice merasa tubuhnya langsung kaku, tangan dan kakinya bergetar hebat, matanya melotot sempurna ketika melihat surat penangkapan yang ditunjukkan kepadanya itu.
"Ta-tapi Pak, bagaimana kalian bisa menangkapku jika tidak ada bukti kalau aku mencoba membunuh seseorang?" Alice masih nampak membela diri.
Dia tidak mau di tangkap dan masuk ke dalam penjara. Usahanya akan sia-sia saja, padahal dia sudah bisa masuk ke dalam perusahaan PT Hero dan menjabat sebagai sekretaris Presdir tidaklah mudah.
Rencana yang sudah dia susun semenjak kematian sang ibu dan akan membalaskan dendam kepada keluarga Masahiro.
"TIDAK!! SAYA TIDAK BERSALAH! LEPASKAN!"
Namun, sepertinya rencana Alice harus berhenti, karena saat ini dia sudah diseret terpaksa oleh dua petugas polisi tersebut.
*****
Casandra menatap Alice dengan tatapan sinis, akhirnya dia bisa membalas wanita itu di kehidupan sekarang.
Jangan harap dia akan menjadi sosok wanita lemah karena Casandra yang dulu telah mati.
"Alice, aku tidak menyangka jika kamu sejahat ini, hiks!" Casandra berakting menangis.
Berpura-pura menjadi wanita lemah yang masih saja cengeng, dia melakukan itu tentu saja karena di tempat itu ada Romeo dengan pengacaranya dan juga petugas polisi.
"Cih, kamu wanita busuk, Aku melihat senyum sinis mu tadi, jadi tidak usah berpura-pura!"
Casandra mengerjabkan matanya berkali-kali agar air mata buaya nya keluar, demi memuluskan aktingnya itu.
"Apa maksud mu, kamu yang wanita jahat, kamu ingin membunuh Ayahku! sebenarnya punya dendam apa kamu dengan Ayahku!!" seru Casandra.
Romeo langsung memeluk Casandra agar tidak mengamuk, dia sangat tahu bagaimana sifat Casandra.
Dan hal itu tidak luput dari pandangan mata Alice, dia merasa sangat cemburu melihat Romeo yang begitu perhatian terhadap Casandra.
"Kau tidak pernah tahu, bagaimana Ayahmu itu memperlakukan Ayahku!! dia membuat Ayahku mati!!"
Bersambung.