
Happy Reading.
Casandra terbaring di kamar utama setelah tadi Anne memanggil dokter pribadinya.
Setelah diperiksa dan dinyatakan jika Casandra shock berat mengakibatkan kontraksi palsu pada perutnya.
Romeo baru saja pulang dan langsung memeluk sang istri. Casandra hanya terdiam dengan pandangan kosong.
"Sayang, apa kamu tidak apa-apa ? bagaimana kondisi baby kita? jangan terlalu memikirkan masalah ini ya, semua berita itu tidak benar," Romeo akan mencium istrinya.
Tapi Casandra memiringkan wajahnya sehingga Romeo hanya dapat mencium pipi sang istri.
"Tinggalkan aku, aku sedang ingin sendiri," ujar Casandra tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Tidak sayang, jangan percaya berita itu, kamu harus tetap percaya padaku. Wilson sudah menyelidiki nya," Romeo menarik dagu Casandra dan menghadapkan kepadanya.
Mata mereka saling beradu.
"Aku hanya menolong Amanda yang tiba-tiba pingsan ketika kita baru selesai meeting, dan mungkin saat aku menggendongnya ada orang yang sengaja membuat berita itu," ucap Romeo.
Casandra bisa melihat sorot mata suaminya yang penuh kejujuran.
"Lalu anak siapa yang dikandung wanita itu," tanya Casandra.
"Siapa yang mengatakan jika dia hamil? Amanda tidak hamil, dia memiliki penyakit lambung dan aku tadi meminta dokter untuk melakukan USG," jawab Romeo. "Ah, ternyata hanya karena hal itu lalu berita ini dibesar-besarkan."
Casandra masih menatap mata Romeo dan didalamnya hanya ada kejujuran . Tidak ada kebohongan sama sekali, bukankah Casandra begitu lihai meneliti orang hanya dari sorot matanya saja.
"Secepatnya Wilson akan segera mengusut kasus tersebut, jadi jangan memikirkan hal-hal yang akan membuat kondisimu drop, hemm?"
Casandra akhirnya mengulas senyumnya.
"Aku percaya padamu," ucap Casandra membuat Romeo terkejut sekaligus lega karena ternyata istrinya bisa mempercayainya.
"Terima kasih sayang, terima kasih tidak meragukanku lagi," ucap Romeo yang akan mencium Casandra, tapi terhenti karena Casandra menutup mulutnya.
"Sayang, kenapa gak boleh? Aku sudah rindu!"
"Tapi awas saja kalau sampai benar kamu selingkuh, aku memiliki beberapa koleksi senjata yang akan langsung menembus dada mu di jarak radius 1 kilometer!"
Romeo menelan ludahnya dan bergidik ngeri, tidak bisa membayangkan kalau sampai Casandra melakukan itu.
"Aku siap kapanpun kamu bisa melakukan itu kalau memang aku melakukan perselingkuhan!" Kini Casandra benar-benar tersenyum lebar.
Dia memang memiliki beberapa koleksi senjata, mungkin jaga-jaga kalau ada suatu hal yang terjadi di kehidupan mendatang.
"Sebentar sayang, dimana ponselmu?" tanya Romeo.
"Tuh, di meja, memang kenapa?"
Romeo tidak menjawab pertanyaan Casandra, dia mengambil ponsel milik istrinya, kemudian membuka ponsel itu.
"Lihat sayang, ternyata Wilson bekerja dengan bagus!" Romeo menyerahkan ponsel itu pada Casandra.
"Memangnya ada apa?"
"Dia berhasil menghapus semua berita tersebut dan sekarang sedang menyelidiki situs alamat penyebar berita itu."
"Sepertinya berita itu memang sudah dihapus, lihatlah, tidak ada berita itu lagi dichanel manapun."
Romeo senang dengan kinerja Wilson, lalu tiba-tiba ponsel Cassandra berdering.
"Halo, Wilson?"
"Halo Tuan, apakah anda sudah sampai di rumah?"
"Hemm, iya, ada apa?"
"Kita berhasil mengetahui siapa dalang dibalik kasus ini, jadi sebaiknya saya ke sana sekarang."
"Cepat kesini!"
*****
Dua puluh menit kemudian Wilson telah tiba di rumah Romeo. Dia datang tidak sendiri, dia telah membawa Amanda untuk meminta maaf atas terjadinya kasus ini pada Romeo dan Casandra.
Steven memandang kedua orang itu tajam.
"Ceritakan sekarang!" ucap Romeo dengan wajah dingin.
Wilson menceritakan semuanya, dia juga sudah menangkap beberapa orang yang di duga paparazi yang telah mengedit foto-foto itu.
"Bagus, setelah ini ganti sekretaris ku dengan yang pria saja, aku tidak mau kejadian ini terulang lagi, huh! Merepotkan!"
Amanda yang mendengar hal itu langsung berlutut di kaki Casandra dan Romeo.
"Tuan, Nona, maafkan saya, tolong jangan pecat saya, tolong tuan, saya akan lebih berhati-hati lagi," ujar Amanda.
Casandra yang melihat wanita itu berlutut, merasa tidak senang.
"Bangunlah, jangan seperti ini," ucap Casandra.
Amanda masih tetap bertahan, dia benar-benar membutuhkan biaya untuk hidup.
"Semua ku serahkan pada Wilson, mungkin kau bisa menugaskan dia divisi lain, dan sekarang kalian berdua sebaiknya pergi dari sini," ujar Romeo. "Wilson, kamu masih harus menjalankan beberapa pekerjaan yang harus segera dituntaskan."
"Baik Tuan, serahkan pada saya," Wilson kemudian menyuruh Amanda untuk berdiri.
Mereka berdua akhirnya keluar dari rumah Romeo agar Nonanya tidak marah, Wilson tadi bisa melihat tatapan Casandra yang bisa menusuk matanya.
"Aku tidak menyangka ternyata pilihan mu benar-benar cantik!" Ketus Casandra.
"Tidak sayang, kamu lebih segalanya, aku tidak pernah menatap wajah para wanita yang ada disekitar ku, aku hanya menatap ke arahmu!"
Casandra mencebikkan bibirnya, meskipun begitu dia tahu kalau Romeo memang bukan tipe pria Playboy yang suka menggoda wanita.
"Sudahlah sayang, sebaiknya kamu beristirahat lagi, aku akan menemanimu sampai besok, aku benar-benar merindukan mu dan calon baby kita," ujar Romeo membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Tapi tidak ada tengok menengok lagi!"
Bersambung ....