
Happy Reading
Romeo melepaskan pakaiannya dan melemparkan ke sembarang arah, pria itu masih merasa kesal karena penolakan dari Cassandra.
Dengan sedikit emosi Romeo masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya. Ya, akhirnya Casandra berhasil mengusir Romeo tanpa paksaan. Entah kenapa melihat sorot mata istrinya yang terlihat sangat kecewa dan ada rasa benci di dalam bola mata itu, membuat hati Romeo seperti teriris.
"Apa-apaan dia, kenapa sekarang tatapannya seperti itu? Bukan hanya tatapan benci tapi tatapan kekecewaan yang membuat hatiku tercubit, aarrhg!! Casey, kau benar-benar membuatku gila!"
Romeo menghidupkan shower dan segera mengguyur badannya dengan air dingin. Tadi rasanya gerah sekali saat melihat kemarahan Casandra.
Di abaikan sungguh tidak enak, Romeo lebih suka jika Casandra marah padanya seperti dulu ketika dia belum berubah. Bukan dengan cara mengabaikannya selama hampir dua bulan ini.
Romeo paham jika istrinya bersikap seperti itu pada akhirnya, bukankah dulu dia yang sering mengabaikan Casandra. Bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri. Mungkin lebih pantas disebut sebagai istri bayangan, karena Romeo lebih memilih mengajak Alice kemanapun dia pergi daripada dengan Cassandra. Tentunya masih dalam urusan pekerjaan, bukan untuk urusan pribadi.
"Maafkan aku Casey, aku akan menebus semuanya, aku akan membuatmu bahagia, aku janji!!" monolog Romeo dengan dirinya sendiri.
Sedangkan Casandra, sudah tertidur lelap, dia besok harus bertemu dengan salah satu klien yang akan memberikannya kerja sama besar. Casandra baru tahu dari Wilson, sekretaris barunya yang menggantikan Alice.
Dia sama sekali tidak peduli dengan kejadian tadi sebelum dia tidur. Di mana suaminya yang dulu selalu cuek dan dingin tak tersentuh, tiba-tiba menginginkan tidur bersamanya.
Oh, ayolah!! Casandra sudah tidak seperti dulu, yang dengan tidak malunya menggoda sambil membuka baju dihadapan suaminya sendiri.
Bahkan dulu Casandra selalu memohon untuk bisa tidur seranjang dengan Romeo. Tapi tidak di kehidupan kali ini.
Keesokan harinya.
Romeo berjalan keluar rumahnya dengan cepat, menyusul istrinya yang sudah keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil.
"Sial!" Romeo kalah cepat dengan Casandra.
Padahal dia sudah berlari ketika menyadari jika Casandra tidak ada dimeja makan.
"Kenapa sekarang dia seperti belut, sangat licik dan susah ditangkap!" Romeo menyugar rambutnya ke belakang.
Sepertinya dia harus menerima tantangan ini, seorang Romeo yang terkenal dingin dan tidak pernah peduli dengan apapun yang disekitarnya, akan mengejar istrinya agar kembali.
****
Suara langkah sepatu hak tinggi yang menyentuh lantai menggema di udara. Casandra dan Wilson berjalan cepat ke ruang untuk menerima tamu di PT Hero.
Wilson sudah mengatakan jika orang yang akan bekerjasama dengannya mewakili Alvares Corp. Sebenarnya wanita itu merasa sedikit janggal. Bukankah dikehidupan yang lalu, Alvares Corp adalah musuh PT Hero.
Ya, Alvares Corp adalah perusahaan yang dipimpin oleh Daffa Alvares. Pria yang kemarin menabraknya di restoran. Apakah di kehidupan kali ini Daffa malah akan menjadi partnernya?
Casandra membuka pintu berwarna coklat itu, matanya langsung beradu pandang dengan mata berwarna abu-abu tersebut. Daffa Alvares adalah pria muda yang cukup tersohor di Amerika serikat.
Dengan bisnis keluarganya yang cukup besar dan berada di mana-mana, membuat pria itu dijuluki the lion.
"Selamat siang Tuan Daffa, sepertinya kita pernah bertemu," ujar Casandra bersalaman dengan Daffa sambil berbasa-basi.
Daffa tersenyum lebar, entah kenapa dia merasa senang bisa melihat wanita yang menarik perhatiannya saat pertama kali bertemu itu.
"Tentu saja Nona Casandra, kemarin kita bertemu dan anda mengobrol dengan Ibu saya," jawab Daffa terkekeh.
"Ya, Ibu anda sangat ramah, saya menyukai Nyonya Stella, beliau benar-benar ibu yang baik dan ramah," Casandra memang mengakui jika Stella Alvares adalah wanita yang cantik dan baik.
"Baiklah, saya disini ingin memberikan kerjasama di bidang perhotelan, saya akan membangun beberapa hotel di Las Vegas, dan kami akan memakai jasa perusahaan anda untuk menjadi konstruktor nya, nanti kami pasti akan memberikan keuntungan yang besar," ujar Daffa menjelaskan kerjasama mereka.
Casandra sedikit tercengang, kalau Daffa menawarkan kerjasama dengan membangun hotel di Wilayah Las Vegas, tentu saja keuntungan Cassandra akan bernilai triliunan Dollar. Siapa yang tidak tahu Las Vegas, tempat yang terkenal dengan dunia hiburan nya itu, bisa dipakai untuk berbisnis uang yang besar.
"Apa ada konsekuensinya, kalau selama kamu mengerjakan proyek itu, tiba-tiba anda berhenti ditengah jalan?" tanya Casandra memastikan.
Daffa tersenyum, dia merasa jika kerja sama dengan PT Hero ini akan membuatnya puas dan tidak mungkin berhenti.
"Saya akan menjamin jika kami akan terus memakai jasa anda, kami akan memberikan konsekuensi yang besar jika itu terjadi," jawab Daffa dengan percaya diri, karena dia yakin akan merasa senang jika bekerjasama dengan Casandra.
****
Romeo menatap dua orang yang berjalan keluar dari ruangan itu dengan tatapan tajam. Casandra bisa tersenyum begitu lebar saat bersama dengan seorang pria asing, sedangkan dengan dirinya saja, istrinya itu kini benar-benar cuek.
Ah, apa Romeo cemburu?
"Ternyata anda tidak seperti rumor yang beredar ya?" ucap Daffa tanpa ingin menyinggung Casandra.
"Ya, apakah anda juga sudah tahu rumor itu?" Casandra tahu apa yang dikatakan oleh Daffa.
Ternyata berita tentang dirinya yang dulu sudah menyebar ke seluruh kota.
"Hanya sedikit saja, tapi yang jelas ternyata rumor adalah sekedar berita tidak benar," jawab Daffa.
Casandra berdecih di dalam hati, siapa lagi yang menyebarkan tentang kejelekan dirinya dimasa lalu, tentu saja Alice. Casandra ingin segera mengusut tuntas tentang dendam masa lalu orang tua Alice dengan Ayahnya.
Casandra berencana akan menjenguk Ayahnya nanti siang
"Apakah rumor itu mengatakan jika saya bodoh?" Daffa jadi tidak enak hati ketika mendengar ucapan Casandra.
"Casey, aku mencarimu!"
Casandra dan Daffa berhenti ketika melihat Romeo berdiri didepan mereka.
Romeo menarik tangan Casandra dan menggenggam nya. Seakan menegaskan pada Daffa jika wanita itu adalah istrinya.
Bersambung