
Happy Reading.
Tuan Jefry langsung dilarikan ke rumah sakit ketika tiba-tiba tidak sadarkan diri. Casandra histeris, apalagi setelah melihat sang Ayah yang sepertinya benar-benar tidak baik-baik saja itu.
Romeo segera membawa sang istri memakai mobil lain ke rumah sakit setelah Tuan Jefri di bawa oleh beberapa pengawal memakai mobilnya.
Awalnya Casandra ingin ikut di mobil yang sama dengan sang Ayah, tetapi Romeo mencegah nya.
Setelah tiba di rumah sakit, para tenaga medis sudah siap dengan brankar di depan pintu masuk. Dengan sigap mereka membaringkan Tuan Jefry dan membawanya menjadi ICU.
Perasaan Casandra benar-benar tidak enak, campur aduk tidak karuan. Dia takut, benar-benar takut.
Casandra hanya bisa berdoa semoga sang Ayah baik-baik saja. Padahal hubungan dengan suaminya baru saja membaik, Casandra tidak ingin terjadi apa-apa dengan sang Ayak. Dia ingin hidup bahagia bersama Ayahnya dan Romeo, Casandra tidak bisa kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Namun sepertinya Tuhan lebih sayang Ayahnya. Tuan Jefry dinyatakan meninggal saat masih diperjalanan. Beliau sudah menghembuskan nafasnya sebelum sampai rumah sakit.
Kini Casandra hanya bisa menatap nanar pemandangan didepannya saat ini. Dibawah naungan payung hitam yang dipegang Romeo, wanita cantik itu melihat kepergian sang Ayah dan menatap jasad Pria yang menjadi cinta pertamanya itu untuk yang terakhir kalinya.
Selama ini ternyata Casandra tidak tahu jika sang Ayah memiliki penyakit paru kronis. Tuan Jefry memang menderita penyakit jantung, tapi setahu Casandra penyakit itu sudah sembuh.
Namun kenyataan jika Tuan Jefry menyembunyikan penyakitnya pada Casandra benar-benar membuat wanita itu shock. Siapa yang tidak terkejut jika tiba-tiba Ayahnya meninggal tepat di depan matanya. Padahal beberapa menit yang lalu mereka masih bercengkrama bersama.
Bahkan Casandra belum mengatakan pada sang Ayah jika saat ini dirinya tengah hamil 5 Minggu. Casandra menunda memberitahukan perihal kehamilannya karena dia ingin memberikan kejutan itu dihari ulang tahun sang Ayah satu Minggu mendatang.
Kepergian ini begitu mendadak, Casandra benar-benar terkejut bahkan kemarin sempat pingsan dua kali. Setelah berada dirumah duka selama seharian kemarin, akhirnya sekarang Tuah Jefry sepakat untuk dimakamkan.
Langit seakan ikut berkabung, karena yang awalnya cerah tiba-tiba menjadi mendung, hujan pun turun tidak begitu deras.
"Aku sayang kamu, aku sayang anak kita, aku tidak mau kamu sedih terus seperti ini," Romeo masih terus membisikkan kata-kata pemenang untuk sang istri.
Casandra hanya mengangguk sambil menatap peti jenazah itu dimasukkan kedalam liang lahat. Sederetan prosesi pemakaman sudah dilakukan dan sekarang saatnya lubang itu ditutup dengan tanah kembali.
"Terima kasih, Romeo, kamu selalu ada untukku!"
"Sayang, aku ini suamimu loh, jadi sudah sepatutnya aku ada disisimu."
"Tapi dikehidupan yang dulu kamu tidak pernah ada, kamu meninggalkan ku saat aku terpuruk kehilangan Ayah, kamu tidak pernah perhatian!" Romeo hanya bisa menghela nafas ketika istrinya sudah mulai mengungkit dikehidupan yang lalu yang baginya itu hanyalah mimpi buruk Casandra.
Karena Romeo yakin jika apa yang semua dikatakan Casandra adalah saat dia berada di alam mimpinya.
"Kamu hanya bermimpi sayang, tidak ada orang yang lahir kembali ke kehidupan sebelumnya.
Casandra kali ini diam saja, dia tidak peduli Romeo tidak percaya dengan semua kisah yang lalu, yang penting kehidupannya sekarang sudah jauh lebih baik.
'Aku sudah bahagia Ayah, tapi akan lebih bahagia lagi jika ada Ayah di sini, Ayah belum lihat cucu yang sangat Ayah nanti, maafkan Casey yang belum bisa berbakti, maafkan aku Ayah, aku berjanji akan bahagia!'
****