Casandra

Casandra
Episode 39



Happy Reading.


Romeo mengecup kening Casandra yang sudah basah oleh peluh itu. "Aku cinta kamu," bisiknya tepat di telinga sang istri. Keduanya masih menetralkan detak jantung yang tidak beraturan akibat malam panas mereka.


Bisikan Romeo seperti alunan merdu yang merasuk di hati Casandra. Jantungnya berdebar, rasanya perutnya seperti ditiup oleh angin dari dalam tubuhnya, menggelitik dan membuat syaraf-syaraf tubuhnya menegang.


Casandra tersenyum ketika Romeo mengecup keningnya lagi. Kemudian pria itu segera menjatuhkan dirinya di samping sang istri dan memeluknya erat dari samping.


Beberapa jam lalu, Romeo telah mengambil haknya pada Casandra. Tanpa paksaan dan kekerasan. Hanya ada kelembutan dan kepasrahan diri dari Casandra.


"Terima kasih, karena telah menjaganya untukku," Romeo berbisik lagi.


Nafas hangat Romeo menerpa wajah Casandra, membuat bulu-bulu halus di tengkuknya meremang.


"Hemm, aku juga!" jawab Casandra ragu.


"Apa? Aku tidak dengar?" Romeo mendekatkan wajahnya.


"Iihh, Romeo...!" Casandra menjauhkan wajah Romeo dengan tangan. Sungguh dia merasa malu sekali jika suaminya melihat wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


Romeo tersenyum, dia bisa melihat wajah istrinya yang sedang menahan malu. Sangat imut, Romeo begitu gemas pada istrinya itu.


"Kamu kalau gini jadi ngegemesin, wajah garang dan galakmu hilang," ucap Romeo mengagumi keindahan wanita yang sudah menjadi istrinya 3 tahun ini.


Baru kali ini dia bisa melihat wajah cantik itu dibawahnya dengan mendes*h menyebutkan namanya dengan begitu seksi.


"Aku mau ke kamar mandi," ucap Casandra mencoba menyingkirkan tangan Romeo dari atas perutnya.


"Yakin bisa berjalan sendiri?"


"Tentu saja," Casandra mencoba berdiri dan melangkah. "Aahgk!"


Romeo yang mendengar istrinya menjerit langsung bangkit dari tidurnya. "Kenapa sayang? Nggak bisa jalan ya?"


Casandra langsung menggeleng, "aku bisa!" Masih dengan keras kepalanya Casandra melanggar pelan ke arah kamar mandi yang berada disebelah kiri ranjang.


'Kenapa rasanya perih sekali! Lagian senjatanya sebesar itu dipaksakan untuk masuk! Huh!'


"Aaakkk! Romeo, turunkan aku!" seru Casandra ketika sadar jika Romeo telah menggendongnya ala bridal style.


"Kalau aku nggak gendong kamu, mau sampai kapan sampai kamar mandi!" Romeo tidak menghiraukan istrinya yang sudah meronta dan menjerit itu.


Dan itulah awal dari semua kebahagian Casandra dan Romeo, di mana keduanya memulainya dengan hal yang baik. Tidak ada kebencian dan dendam, semula telah sirna dengan seiring berjalannya waktu.


Mungkin Tuhan memang benar-benar mengabulkan permohonan doa Casandra, ingin menjadi orang yang berguna untuk semuanya. Menyelamatkan nyawa sang Ayah yang seharusnya memang masih berumur panjang. Dan juga menyelamatkan nyawanya sendiri dan juga perasaan suaminya.


Casandra tidak berhenti untuk bersyukurlah karena kehidupannya yang sekarang dia mendapatkan cinta yang berlimpah dari sang suami.


Di hormati oleh semua orang, bahkan kini kedudukannya tidak bisa di pandang remeh karena dengan kekuatan dan kekuasaan yang Casandra miliki, membuat semua orang tunduk padanya. Siapa yang tidak mengerti Casandra Zuddite, istri dari Romeo Zuddite ini bisa di jajarkan dengan para orang-orang sukses di dunia, semua keberhasilannya itu diraihnya dengan jerih payahnya sendiri. Meskipun sang suami juga selaku ada dibelakangnya untuk mendukung semua keputusan Casandra.


Malam ini Tuan Jefry mengadakan makan malam bersama Casandra dan Romeo. Sudah hampir sebulan Casandra tidak bertemu dengan sang Ayah.


Hidangan kesukaan Casandra sudah memenuhi meja makan di kediaman sang Ayah. Casandra terlihat begitu bahagia, apalagi sekarang dia ditemani oleh suaminya.


"Bagaimana, Casey?? Apakah kamu bahagia sekarang?" Tanya tuan Jefry pada sang putri.


Casandra menatap sang Ayah dengan wajah yang berbinar, kemudian menatap Romeo yang berada di sampingnya. "Iya Ayah, aku bahagia sekarang," jawab Casandra masih menatap sang suami.


Tuan Jefry merasa lega karena sekarang putrinya sudah menemukan kebahagiaannya. Sejak awal Tuan Jefry yakin jika memang Romeo adalah lelaki yang tepat untuknya.


"Romeo, jaga putri ku ya, tidak henti-hentinya aku meminta padamu untuk hal ini, karena kebahagiaan Casandra adalah kebahagiaan ku juga," ucap Tuan Jefry pada menantunya.


"Ayah tenang saja, saya akan menjaga Casandra, membahagiakan nya sampai akhir hayat saya," jawab Romeo.


"Uhukk, uhukk!"


"Ayah! Ayah tidak apa-apa kan?" Casandra bangkit menuju Ayahnya ketika melihat darah yang keluar dari mulutnya.


Romeo juga ikut panik, apalagi saat tiba-tiba Tuan Jefry tidak sadarkan diri.


Bersambung.