
"Uwaa! Enak sekali!" ucapku dengan mata yang berbinar binar.
"Arika ..., kamu!"
"Apa yang terjadi pada Arika?!" Tiba tiba ibu datang dan bertanya dengan wajah khawatirnya.
"Ibu ..., aku tidak apa apa. Benar benar tidak apa apa," jawabku pada ibu.
"Arika ..., kau membuat ibu khawatir ...," Ia berjalan ke arahku lalu memelukku.
"Ibu tenang saja. Aku tidak sakit lagi sekarang!" ujarku dengan semangat.
"Bagaimana bisa? Tadi kamu pingsan. Ibu dan ayah khawatir. Siapa yang membuatmu seperti itu?" tanya ibu.
"Tidak ada siapa siapa. Aku hanya pusing," jawabku.
"Oh ya? Bukan Erika?" timpal Aoi.
"Kembalikan ice cream-ku!" pintaku dengan wajah kesal.
Mendengar itu, Aoi jadi teringat hal yang dilakukan Arika pada saat ia memakan ice cream miliknya.
"Huh!"
"Nona muda?!" teriak seorang pelayan.
"Huaa!" teriak Aiko, kaget.
"Ada apa, Meyla?" tanya ibu pada pelayan perempuan yang bernama Meyla itu.
"Nona kecil ..., nona kecil hilang nyonya!" jawabnya. Sekujur tubuhnya gemetaran.
"Bagaimana itu?" tanya ibu kembali.
"Hukum saya nyonya! Saya tidak menjaga nona kecil dengan baik. Biarkan saya kehilangan nyawa saya!" Ia menjawab dengan penuh keyakinan.
"Kau yakin?" Ibu menggendong Aiko yang mulutnya dipenuhi dengan cokelat dari ice cream yang ia makan di atas pangkuannya.
"Saya yakin!" jawabnya, lagi lagi dengan penuh keyakinan.
"Kau tahu kalau dia itu ..., seperti tuyul?" tanya ibu lagi.
Meyla hanya tertunduk lalu menjawab perkataan ibu dengan sedikit emosi, "Nona kecil bukanlah tuyul!"
Ibu tersenyum mendengar jawaban itu.
"Waiter Meyla," ucap Aiko dengan pelan.
Waiter adalah sebutan untuk pelayan, khusus kediaman Shi.
"Nona kecil! Anda ke mana saja?! Saya khawatir sekali!" ujarnya lalu mengambil Aiko dari pangkuan ibu.
"Sudah sudah, jangan ramai ramai di sini. Arika butuh ketenangan. Aoi, temani Arika," jelas ibu.
"Maaf bu, aku ada keperluan. Aku pergi dulu," jawab Aoi lalu beranjak pergi.
"Tidak usah bu. Aku bisa sendiri kok," jawabku.
"Baiklah, ibu pergi dulu. Ibu akan menelepon
Dr. Ling dulu dan memintanya membawa obat untukmu," ujar ibu lalu beranjak pergi.
"Waiter Meyla, aku sudah menjilat tanganku tadi karena ice cream. Bisa minta tolong untuk mencuci tanganku?" tanya Aiko pada Melya, pelayan pribadinya itu.
"Bisa nona, bisa! Ayo,"
"Selamat tinggal kak Arika. Aku akan kembali lagi nanti!" teriaknya.
Aiko dan Meyla pergi.
Tinggal Arika dan 2 Waiter pribadinya di dalam kamar.
"Kalian boleh pergi," ucapku, datar.
"Tapi nona,"
"Tadi ibu sudah mengatakannya dan aku menjawab itu tidak perlu. Aku ingin kalian istirahat," sanggahku dengan cepat.
"Kami tidak akan istirahat. Kami akan menyiapkan pakaian nona untuk acara tahunan keluarga Miller nanti malam," jawab Jefira.
"Em ..., baiklah," balasku.
Mereka berdua menundukkan kepala pertanda pamit.
Sekarang, tinggal aku yang ada di dalam kamar. Aku menutup mataku mencoba untuk tidur.
Tapi, beribu pertanyaan muncul di kepalaku.
"Kak Aoi ke mana ya? Kenapa tidak menemaniku? Lalu ..., apa kak Aoi memiliki bukti untuk menjebak dua anak dari keluarga Miller itu? Aku bingung ...,"
***
"Arika?" Aoi memanggil nama Arika berulang ulang sambil mencubit pipi adiknya itu.
Aku menguap.
"Huek!" Ia menutup hidungnya dan meledekku, "Bau sekali mulutmu!"
"Aku kan baru bangun!" jawabku cetus.
"Sudah sembuh? Jika belum, jangan paksakan untuk ikut dengan pangeran tampan ini di acara tahunan sampah itu," Ia bertanya sambil memuji dirinya.
"Cih! Tentu saja aku sudah sembuh! Iblis mana yang lemah?!"
"Baik ..., baik. Bersiap siaplah!" Ia berjalan ke arah pintu sambil melambaikan tangannya padaku.
***