Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 4



"Ibu jangan salah paham. Coba dengar penjelasan Aiko. Maafkan aku karena lantang," timpalku.


"Aiko, jelaskan," pintanya pelan pada putri kecilnya.


"Ibu ..., aku tak suka bermain dengan para pelayan. Aku tak suka jika di sekolah aku di ikuti oleh dua pelayan. Aku tak suka jika aku bermain, aku dilarang. Ibu, aku bukannya ingin bebas dengan cara yang tak baik. Tapi aku tak suka terikat. Aku hanya ingin berteman dengan sebaya ku. Aku ingin bermain bersama mereka. Tak ingin jika mereka menganggapku hanyalah orang yang suka bermain dengan permainan yang spesial," jelasnya.


Ibu tersenyum. Ia mengerti kemauan anaknya itu dan berkata dengan lembut, "Aiko sayang, ibu mengerti tetapi kita juga harus membicarakannya bersama ayah, bukan?"


"Baik bu," jawab Aiko singkat dengan kepala tertunduk.


"Kemari," ibu melentangkan tangannya bersiap menerima pelukan putri kecilnya itu.


Aiko dengan cepat memeluk erat tubuh ibunya. Ibu mengerti, pelukan adalah hal yang dapat di lakukan untuk melepaskan beban pikiran.


"Ibu akan selalu ada ...," ujar ibu pelan.


Aiko kembali menegakkan punggungnya lalu berdiri.


"Ibu, kami pergi dulu," pamit Aiko sambil tersenyum.


Ibu membalas senyuman dari Aiko yang berarti, Ya!


***


Malam harinya.


"Selamat malam semua!" ujar Aiko bahagia dengan piyama berwarna pink yang ia kenakan.


"Nona kecil, piyama anda belum bagus dipasangkan. Jangan berlari lari ..." jelas salah seorang pelayan pribadi Aiko.


"Baik ..., baik ...," Aiko duduk bersilang kaki. Ia menurut dengan cepat layaknya kucing.


"Malam Aiko ...," sapaku.


"Wah, piyama kak Arika yang baru lagi, 'kan?!" tanyanya, kaget.


"Em ...," Aku mengangguk pelan.


"Kak Arika suka piyama ungu muda sutra?! Kenapa aku tidak tahu ya?" tanyanya lagi.


"Ah ..., itu ...,"


Seseorang dari belakang melepaskan handuk yang tergulung di kepalaku dan berkata, "Tak baik jika menggulung rambut dalam keadaan basah, bisa kanker otak ...,"


"Kak Aoi!" ujarku kaget.


"Ke mari," Ia menepuk nepuk sofa di sampingnya bermaksud mengajakku duduk.


Ternyata, ia menyisir rambutku.


"Kak Aoi, tak perlu. Aku bisa sendiri!" ujarku, malu.


"Tak apa ...," jawabnya.


"Aku juga mau di sisir!" tegas Aiko.


"Ke mari ...," panggil Aoi.


Sisir berwarna hitam dengan motif kucing putih itu menyisir dua rambut gadis yang sangat disayangi oleh Aoi.


"Anak anak baik, selamat malam," sapa ibu.


"Ibu? Ayah mana?" tanyaku.


"Siapa yang mencari ayah? Ayo jujur!" tanya seorang pria dengan jas hitam, celana hitam, dan dasi abu abu.


"Uwaa! Ayah!" teriak Aiko bahagia.


"Siap?!" tanya ayah sambil melentangkan tangannya.


"Ya!" jawab Aiko lalu meloncat dalam pelukan ayah. Ia di gendong ayah.


"Baik, bagaimana kalau kita makan dulu?" tanya ayah sambil tersenyum.


Kami semua mengangguk dan menuju meja makan.


Di atas meja makan itu, terdapat banyak jenis makanan. Tak ada yang terlewatkan, kami semua melahapnya.


Setelah selesai makan, ayah memulai pembicaraan, "Aoi sudah tahu, 'kan acara tahunan keluarga Miller?"


"Aku sudah tahu. Aku akan pergi," jawab Aoi.


"Bagus, kalau bisa bawa Arika juga," balas ayah.


"Aku?" tanya Aiko sambil menunjuk wajahnya.


"Aiko masih kecil, tidak boleh ikut. Kita akan pergi ketika ada waktu untuk bersama berpergian," jawab ayah sambil mengelus kepala Aiko.


"Aku akan pergi bersama kak Aoi," jawabku.


"Oh ya, Jinshi!" teriak ayah, memanggil kepala pelayan wanita yang berumur 47 tahun itu.


"Saya di sini, tuan. Ada apa tuan mencari saya?" tanyanya.