Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 24



"Tuan sudah pergi duluan bersama dengan nona kecil," jawab Jefira.


Aku menundukkan kepala ku lalu menutup kaca mobil.


"Kenapa kau suka memasang wajah jelek itu?" tanya Kai.


"Apa?! Sangat jelek?!" tanya ku, khawatir.


"Iya, sangat jelek," jawab Kai dengan wajah polosnya.


"Uwaaa!"


Kai menatap kaca mobil sampingnya lalu tertawa kecil melihat tingkah ku.


"Ternyata gadis iblis yang paling cool di sekolah ku bisa seperti ini ya?" tanya Kai dalam hatinya sambil tertawa kecil.


"Kau menertawakan ku?!" tanya ku sambil menarik kedua pipinya.


"Tidak! Tidak!" jawab Kai.


"Uwaaa! Kita terlambat!" Aku berteriak melihat jam di mobil.


"Habislah!" ujar Kai dengan panik.


Kai mendekatkan wajahnya padaku. Aku hanya tercengang melihat Kai yang aneh itu.


Wajahnya semakin dekat. Bibirnya hampir saja menyentuh pipi ku.


"Jangan berpikir yang tidak tidak!" ucapnya lalu memasang sabuk pengaman.


"Cih! Siapa yang berpikir tidak tidak?!" Aku menggerutu.


"Siap?!" tanya Kai.


"Tentu saja!" jawab ku dengan semangat.


Kai tertawa kecil.


Seketika, mobil melaju kencang. Aku merasa seluruh organ tubuh ku akan keluar dari mulut. Tetapi Kai, ia tetap tenang tanpa rem.


Sesampainya di sekolah Kai turun dari mobil.


"Fuih ...," Kai menghela nafas, "Untung tepat waktu!"


Aku masih diam di dalam mobil.


"Dia tidak mau keluar atau dia ingin aku membuka pintu untuknya?" tanya Kai lalu berjalan menuju pintu mobil dan membukakan pintu mobil itu.


Aku masih diam. Kai menatap ku dengan tatapan bingung. Wajah ku pucat, dan telapak tanganku serasa dingin.


"Kau sakit?" tanya Kai sambil menyelipkan tangannya di kening ku.


"Aku ...,"


"Itu si iblis! Wah! Dia pergi ke sekolah dengan Sekai!" bisik para murid dengan topik yang sama.


"Kenapa?!" tanya Kai yang mulai khawatir.


"Gila! Jika senior Aoi tahu akan ini, aku bisa masuk ke neraka!" ujar Kai dalam hatinya.


"Bawa aku ke toilet! Cepat ...," pinta ku dengan lemas.


"To-toilet?!"


"Cepat!"


"Arg! Sudahlah!"


Kai menggendong ku dan membawa ku ke toilet cewek.


Saat sampai di depan pintu, tiba tiba aku muntah.


"Ba-baju ku!"


"Ah ..., lega," ucap ku sambil mengurut dada.


"Kenapa kau jahat sekali?!" tanya Kai padaku dengan emosi yang meluap luap.


"Sudahlah, itu kesalahanmu karena kau lama mengantar ku ke dalam toilet!" jawabku dengan santai.


"Kau gila?! Kau mau aku masuk ke dalam toilet cewek?! Astaga!" tanya Kai, tak percaya.


"Kenapa? Bukannya itu juga untuk keamanan dirimu?" tanya ku kembali.


"Arg!" Kai menggaruk kepalanya, "Cepat suruh pelayanmu untuk mengantarkan pakaian sekolah baru untukku!"


"Enak saja!" balasku, tak senang.


"Kenapa?! Kau juga harus bertanggung jawab akan ini! Ini baru pertama kalinya aku seperti ini!" gerutu Kai.


"Untung di sini sepi! Kalau tidak, kau akan ku musnahkan!" ucap ku lalu mengambil ponsel di saku rok ku.


"Huh!"


"Cepat antarkan baju sekolah untuk tuan bodoh ini!" pinta ku pada Jefina di dalam ponsel.


"Sudah?" tanya Kai.


"Tentu saja sudah," jawabku sambil memasukkan ponsel ku ke dalam saku rok.


"Baguslah,"


10 menit kemudian, baju untuk Kai pun datang.


"Tunggu di sini!" ucap Kai lalu beranjak pergi menuju toilet cowok.


30 detik kemudian, Kai datang dengan wajah muram.


"Kenapa kau belum tukar baju? Ouh, kau ingin muntah cewek populer di sekolah tetap melekat padamu ya?" ledek ku.


"Enak saja! Ini semua karena toilet cowok di kunci karena tersumbat!" gerutu Kai.


"Masuk!" ujar ku sambil membuka pintu toilet cewek.