
"Saya di sini tuan. Ada apa tuan mencari saya?" tanyanya.
"Jinshi, mulai besok, kalian tak perlu makan di ruang makan pelayan. Tadi pagi saya sudah mengecek, ternyata ada kebocoran di mana mana. Harusnya kalian memberitahu kepada saya. Jadi, besok meja kaca pesanan saya akan datang. Letakkan meja itu di dekat meja makan ini. Tapi jangan berdempetan," jelas ayah.
"Maafkan kami, tuan. Maaf sudah merepotkan anda. Terimakasih, kami akan menyusun meja itu seperti yang anda perintahkan," jawabnya.
Jinshi menundukkan kepalanya bermaksud memberi hormat lalu beranjak pergi.
"Kalian, kembalilah ke kamar kalian masing masing. Arika, Aiko, dan Aoi tidur! Jangan bermain Handphone, game, dan Barbie. Jika tidak, akan ayah sita," jelas ayah sambil melihat kami secara bergantian.
"Suamiku, kita akan membahas soal Aiko sekarang," timpal ibu sembari memegang punggung tangan ayah.
"Oh ..., kenapa tidak bilang dari tadi? Silahkan," balasnya.
"Ayah, bukankah lebih baik kita membahasnya di ruang keluarga saja?" tanyaku, pelan.
***
Di ruang keluarga.
"Silahkan beritahu, apa kendala?" tanyanya.
"Aiko mengatakan jika ia tidak ingin terus menerus bersama pelayan. Ia ingin hidup seperti teman teman yang lainnya," jawab ibu.
"Bukannya Aiko bersekolah di sekolah terkemuka? Bagaimana bisa teman temannya yang lain tak pernah di temani oleh pelayan?" tanya ayah lagi dengan raut wajah bingung.
"Dari penjelasan Aiko sepertinya anak dari perusahaan lain tidak dimanjakan sehingga tak ada pelayan di sekeliling mereka. Bukankah Aiko anak yang baik? Masa sekarang ini adalah masa di mana anak ingin bermanja manja, tetapi Aiko, ia memilih agar mandiri seperti teman temannya. Bukankah ini juga termaksud baik?" jelas ibu lalu bertanya.
"Hm ...," Ayah berdeham, "Aiko yakin dengan itu?"
"Ya! Sangat yakin! Aku tak suka jika aku di tegur terus. Padahal anak lain juga melakukan hal yang sama!" jawabnya sambil memeluk erat erat boneka berwarna pink di tangannya.
"Bukannya di tegur itu untuk kebaikan?" ayah kembali bertanya lagi.
"Tapi yah, aku di tegur karena bermain ayunan. Katanya, itu jorok. Padahal anak anak lain begitu ...,"
Menghela nafas, "Anak anakku sudah besar ternyata. Baiklah, mulai besok, Aiko boleh bermain bersama dengan mereka tanpa pelayan,"
"Uwa! Makasih, yah!" ucapny bahagia.
"Besok ada ice cream loh. Ada yang mau?" tanya ibu.
"Aku!" sahut aku, Aiko, dan Aoi serentak.
Kami semua tertawa. Ruangan itu hangat. Itulah yang ku rasakan. Tak ada pilih kasih dalam keluargaku. Semua sama.
Kami semua memiliki peran. Peran penting untuk mengisi kehangatan dalam keluarga.
Walaupun dulunya, aku tak serius untuk masuk ke dalam keluarga ini.
Mereka adalah orang penting yang sekarang ada bersamaku bahkan ada di pihakku. Aku tak peduli seperti apa mereka, seburuk apa mereka ..., aku menyayangi mereka.
Aku hanyalah anak pungut. Keluarga Shi memang keluarga yang tepat untuk bersamaku. Intinya, aku mencintai mereka. Sangat mencintai mereka.
***
Esok harinya di sekolah.
"Senior, senior Aoi ..., ini ada undangan dari keluargaku untuk acara tahunan," ucap Zhyrea dengan gagap.
"Taruh saja di atas meja," jawab Aoi singkat.
"Aku permisi dulu," ujarnya lalu beranjak pergi.
Setelah Zhyrea pergi, semua murid mulai berbisik, "Itu si iblis! Kenapa ia datang kemari?"
"Ah, Arika! Ada apa?!" tanya Aoi sambil tersenyum.