
"Ayo!" ajakku.
"Kau yakin akan berpergian dengan pakaian seperti ini?" tanyanya tidak yakin.
Arika memakai gaun hitam keluaran baru di atas lutut. Sepatu hitam dengan tali yang melingkar pada betisnya dan rambut yang terurai dengan sebuah penjepit rambut hitam membuatnya seperti iblis cantik.
"Kenapa? Aku nyaman berpakaian begini," jawabku.
"Maaf tuan, saya sudah mengatakan pada nona untuk memakai pakaian yang cerah agar lebih cantik. Tapi nona memilih gaun ini," ujar Jefira dari belakang Arika.
"Baiklah, tidak apa apa. Asal adikku nyaman memakainya tentu saja tidak apa apa," balas Aoi.
"Em ..., hati hati di jalan, tuan, nona muda," ujar 2 waiter pribadi Arika.
"Di mana Aiko?" tanyaku.
"Aiko sedang tidur. Ayo,"
***
Sesampainya di kediaman Miller.
"Selamat datang tuan, nona. Kartu undangan?" tanya seorang penjaga keamanan keluarga Miller.
"Tidak ada kartu. Kami hanya rakyat jelata," jawab Aoi sambil menggaruk kepalanya.
"Tuan dan nona tidak boleh masuk. Ini adalah wilayah kekuasaan keluarga Miller," jelas penjaga keamanan itu.
"Tuan muda dan nona muda keluarga Shi, silahkan masuk!" ujar Zhyro memanggil Arika dan Aoi.
Arika dan Aoi masuk.
Tak ada permintaan maaf dari penjaga keamanan itu terhadap perlakuannya tadi pada Aoi.
Di dalam, semua mata tertuju pada Arika. Hanya ia yang berpakaian serba hitam.
Mereka berbisik bisik membahas Arika.
"Selamat datang untuk keluarga Shi! Silahkan nikmati acaranya!" teriak ayah Zhyro di atas panggung.
"Lihatlah, mereka datang tanpa membawa hadiah!" bisik salah seorang pria dengan jas sweet keluaran terbaru dari Swiss.
Arika kaget. Ia sadar ia lupa membawa hadiah untuk acara tahunan keluarga Miller.
"Aku menbawa hadiah. Hadiah yang akan membuat kalian, rakyat, dan media geger!" tegas Aoi sambil memegang erat erat tangan Arika.
"Wah, keluarga Shi memang tidak ada tandingannya!"
"Aoi, kenapa adikmu diam saja?" tanya Zhyro dari mic.
"Kenapa? Jika adikku berbicara, mungkin saja akan membuat kalian terluka," jawab Aoi dengan santai.
"Bilang saja adikmu bisu!" balas Zhyro.
Perkataan Zhyro membuat semua orang yakin kalau Arika memang bisu.
"Kalau memang dia tidak bisu, mengapa ia tidak berbicara?!" tanya Zhyro kembali memojokkan Arika dan Aoi.
"Arika, bernyanyilah!" tegas Aoi sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku.
"Sial! Kak Aoi ikut memojokkanku! Aku, 'kan tidak bisa bernyanyi!" Arika yang kaget karena kakaknya ikut memojokkannya langsung panik sendiri.
"Bilang saja adikmu itu bisu! Mungkin saja masalahnya akan selesai dengan cepat!" ujar Zhyro.
"Tuan muda, anda jujur saja jika adik anda memang bisu!" balas ibu Zhyro.
"Itu benar, istriku," balas ayah Zhyro.
"Jangan mengatai Arika seperti itu!" tegas Zhyrea.
"Heh?!" Semua orang kaget kecuali Arika dan Aoi.
Arika berjalan dengan kepala yang tertunduk ke arah panggung.
Sesampainya di atas panggung, ia mengambil mic dari tangan Zhyro dengan kasar.
Aoi tersenyum.
Aku bertanya pada jam dinding
Mengapa kau tak bisa dihentikan?
Kau bergerak dan tak peduli apa yang kurasa
Berhentilah aku ingin menikmati itu
Lihatlah aku masih di belakang
Aku terjebak di masa lalu
Ingin kakiku berlari secepatnya
Mencapai masa depan yang menyenangkan
Saat aku terjatuh
Aku mulai terjebak lagi
Masuk dalam lingkaran
Lingkaran dengan angka yang berbeda
Mereka membuat dunia milikku hancur
Tanpa melihat aku yang memang hancur
Ku mohon perbaikilah.