Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 7



"Ketawa saja lagi!" gerutu Aoi.


Aku mancungkan bibirku dengan wajah kesal lalu aku duduk di sampingnya tanpa berkata sepatah kata apa pun.


"Mau makan apa?" tanyanya datar.


"Cih! Itu saja marah! Eh iya, kak Aoi marah atau malu ya?! Harusnya aku yang malu karena tawa ku mengerikan sekali!" gumamku dalam hati.


"Hei?!" tanyanya, kesal.


"Bakso," jawabku pelan.


"Dia marah?" Batin Aoi.


Arika mengambil telur yang sudah di rebus di atas meja dan mulai mengupas kulit telurnya.


"Aku baru tahu kalau adikku menyukai telur rebus," Ia melirikku. Lalu ia berteriak memanggil ibu kantin, "Bu! Di sini."


"Ada apa tuan?" tanya bu kantin.


"Bakso 2. Pakai cabai yang banyak ya bu," jawabnya.


"Baik," balas bu kantin singkat lalu beranjak pergi.


"Kak, aku ingin ke toilet dulu. Gak lama kok," ujarku sambil berdiri dari kursi.


"Em, baiklah. Hati hati," jawabnya.


***


Sesampainya di depan pintu toilet, Arika berjumpa dengan Erika, mantan pacar kak Aoi.


"Arika, tolong katakan pada kakakmu jangan memutuskan hubungan denganku!" pintanya sambil menangis.


"Sudah ku katakan, dia milikku," timpalku, datar.


"Tapi ..., kalian adalah saudara! Kakak beradik, 'kan?!" tanyanya meyakinkan.


Arika menarik nafas panjang lalu menghela nafas itu.


"Seriously?!" Ia kembali bertanya.


Arika merasa malas meladeni orang yang tidak tahu menempatkan diri. Karna merasa malas, Arika melewatinya lalu masuk ke dalam toilet.


***


Di dalam toilet Arika dihentikan lagi oleh bau busuk.


"Mereka menjebakku lagi?! Sial! Aku pusing!" ujarku dalam hati.


Arika mulai mual mual. Dari luar toilet terdengar suara banyak orang berbisik tetapi sangat ribut.


Arika membuka pintu itu dan ternyata disambut banyak orang yang mengatakan Arika sedang mengandung anak. Itu sebabnya Arika mual mual di toilet.


"Kau sedang mengandung anak siapa?" tanya salah seorang murid.


"Ugh ...," Kaki Erika bergerak ke sana ke mari.


"Ingat, kali ini aku berbaik hati padamu! Kalian!" Aku menunjuk wajah murid murid lain secara bergantian, "Erika kesayangan kalian, sudah membunuh kucing dan memasukkan bangkai itu di dalam WC. Itu sebabnya aku mual! Jaga bicara kalian!"


"Senior membunuh kucing?!" tanya mereka, kaget.


Aku tersenyum sinis lalu meninggalkan keramaian itu dan segera menuju ke kantin sekolah yang letaknya tak jauh.


***


"Kenapa lama sekali?" tanya Aoi.


"Aku BAB. Maaf," jawabku singkat.


Seketika Aoi menyemprotkan kuah bakso yang ada di dalam mulutnya.


"Menjijikkan!" ucapku, jijik.


"Kau membahas soal BAB! Seketika kakak teringat soal kotoran Aiko yang menempel di bajuku pada saat ia masih bayi!" jelasnya dengan wajah jijik.


"Lah?! Kan kak Aoi yang membahasnya! Jangan bahas lagi, ayo makan!" tegasku.


***


Setelah selesai makan, Aoi berdiri dari kursi dan membayar makanan kami berdua. Aku diam saja di kursi.


"Tidak mau pulang?" tanyanya.


"Aku pusing," jawabku.


"Ada apa?! Jangan bilang kau sakit!"


"Pusing sekali ...," ujarku dengan lemas.


"Hei?!"


Seketika sekitarku menjadi gelap dan aku tak sadar apa apa lagi setelah itu.


***


"Aku di rumah?!" tanyaku, kaget.


"Nona," sapa kepala pelayan.


"Siapa yang membawaku ke sini?" tanyaku.


"Kau mencari Hero? Di sini, orang yang menyelamatkanmu di sini," ujar Aoi, bangga.


"Huh ... Tadi itu aku tidak apa apa loh ..., Jangan membawaku di rumah. Aku benar benar tidak apa apa," jelasku.


"Jadi, apa yang terjadi padamu saat di toilet tadi?" Ia bersandar di dinding dengan Earphone yang mengelilingi lehernya.


Aku membeliak.