Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 25



"Hah?! Kau gila?!" tanya Kai.


"Tidak. Cepat masuk atau kau ...,"


"Ba-baik!" Kai pun menurut dan masuk ke dalam toilet cewek.


Aku hanya berdiri di depan pintu dan menunggu.


Di dalam toilet, Kai masuk ke dalam toilet pertama dan segera menukar bajunya.


"Astaga! Toilet cewek sangat harum!" Kai menarik nafas panjang untuk menikmati aroma itu.


"Masih lama?!" tanya ku dari luar toilet.


"Sedikit lagi!" jawab Kai.


"Wah, itu si iblis, 'kan? Astaga aku ingin masuk ke dalam toilet! Aku sudah tak tahan!" ucap salah seorang cewek pada teman di sebelahnya.


"Pergi!" ucap ku dengan tegas.


"Aaa!" Kedua cewek itu berlari terbirit birit sambil berteriak.


"Hampir saja," ucap ku, lega sambil bersandar di pintu kamar mandi.


Tiba tiba Kai membuka pintu dan membuat badan ku dan badannya berdempetan.


"Kau tak apa?" tanya Kai.


Segera aku berdiri normal dan berjalan cepat.


"Heh?!"


Di depan pintu kelas, ku dorong Kai hingga ia membuka pintu tanpa sengaja.


"Sekai?! Kenapa terlambat?" tanya bu Jejiara.


"Ah, itu ...," Kai menggaruk kepalanya.


Aku yang tak sabar menunggu langsung saja menerobos masuk.


"Arika ..., begini, sekolah mempunya aturan. Ada baiknya kalau kalian diberikan hu-hukuman kecil," ucap bu Jejiara dengan pelan.


"Ya," jawab ku, singkat.


"Larilah keliling lapangan,"


"Ya,"


"Dia menyetujuinya secepat itu?! Arg! Ini semua karenanya!" gerutu Kai dalam hati.


Aku melirik Kai.


"Kai, Arika dan ...,"


"Kenapa kau bisu sekarang?! Biasanya kau berisik seperti jam!" ujar Kai, bingung sambil menarik kedua pipi ku dengan kuat.


"Hikkk!" Bu Jejiara dan seluruh murid yang ada di dalam kelas itu seakan cegukan panjang melihat kelakuan Kai yang sangat akrab dengan iblis di sekolah mereka itu..


Aku dengan cepat menepiskan tangan Kai dari pipi ku.


"Hei!"


"Kai ..., begini ..., ja-jangan salah paham. Arika memang begini," ucap bu Jejiara dengan gagap.


"Sudah tahu," timpal Kai dengan santai.


"Hikkk!" Lagi lagi bu Jejiara dan seluruh murid cegukan panjang dengan mata yang melotot.


"Sudahlah, ayo kita lari saja sekarang daripada mengganggu proses belajar," balas Kai sambil menepuk kuat pundak ku.


"Hikkk!" Cegukan panjang dan mata yang melotot itu kembali pada bu Jejiara dan seluruh murid.


"Bangkai ini!" gerutu ku dalam hati sambil terus menjaga image yang sangat spesial.


"Kenapa melamun?" tanya Kai sambil mendekatkan wajahnya pada wajah ku untuk melihat apa aku sehat atau tidak.


"Pangeran ku!" teriak salah seorang cewek sambil menangis.


Kai merobek kertas dari absen kelas lalu meremas kertas itu hingga menjadi bulat lalu melemparkannya ke dalam mulut cewek itu.


"Hikkk!"


Aku menatapnya dengan tatapan sinis. Kai tiba tiba mundur dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


"Ayo!" Kai menarik tanganku lalu membawa ku ke lapangan untuk berlari bersama.


"Dia ..., dia benar benar membuat ku selesai," ucap ku dalam hati sambil melihat pundak Kai dari belakang.


Di lapangan.


"Kau siap?!" tanya Kai.


"Ya," jawabku dengan singkat lalu bersiap berlari.


"Tunggu! Ini bukan perlombaan! Kau jangan terlalu serius! Paham?!" tanya Kai yang bingung dengan reaksi ku yang begitu serius.


Aku menjawabnya dengan senyuman sinis.


"Sudah ku duga," ujar Aoi dari jendela kelasnya sambil memakan permen tangkai.