Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 27



"Aduh! Sakit sekali!" keluh Kai sambil.


"Perih ..., perih sekali!" keluh ku dalam hati.


"Kau ..., kau tak apa?" tanya Kai sambil melihat ku yang sedang menggigit pundaknya itu.


Seketika air mataku mengalir. Butiran butiran kecil itu jatuh dan membasahi baju Kai.


"Hei?! Kenapa kau menangis lagi?!" tanya Kai lalu mendorong pelan tubuhku dan menatap ku.


"Aku tak apa," jawabku dengan nada pelan.


"Maafkan aku ..., sebenarnya, aku sengaja menekan kakimu yang luka itu," timpal Kai dengan kepala yang tertunduk.


Seketika, aku langsung meninju wajahnya dengan sangat kuat. "Kau tahu, itu sangat sakit!"


"Ini juga sakit!" balas Kai, marah.


"Jangan kira aku akan memaafkanmu! Titik lemah tak lama lagi akan ku pegang loh!" tegas ku.


"Aduh! Gadis ini benar benar tak punya sopan santun!" gumam Kai dalam hatinya sambil mengelus elus pipinya.


"Sudahlah, aku akan pergi!" ujar ku lalu turun dari ranjang dengan pelan.


"Huh ..., kita lihat saja, kau mampu berjalan sampai mana," ucap Kai dalam hati sambil melihat aku yang sedang berjalan dengan pelan.


"Kau kira aku selemah itu?" Aku tersenyum. "Jika kau mengatai diriku lemah, kau bukan orang yang dapat ku percaya!"


"Apa yang kau katakan? Hah?! Kau kita aku tak mendengarnya?! Kau mengatai ku lemah, 'kan?!" ujar Kai penuh emosi.


Aku diam tanpa kata kata bersamaan dengan senyuman sinis.


"Aduh, kenapa tiba tiba dingin ya?!" tanya Kai dalam hatinya sambil mengusap usap lengannya.


Pada saat di depan pintu, Aoi datang dengan tangan yang ada di dalam saku. Ia berhenti tepat di depanku.


"Sudah selesai?" tanyanya dengan pelan.


"Hm?"


"Astaganaga! Jangan bilang senior Aoi akan membunuh ku!" gumam Kai dalam hati lalu bersembunyi di dalam lemari obat.


"Aku tak membuat mu marah," jawabku dengan singkat seakan telah berubah pikiran untuk menjadi baik terhadap orang.


"Kenapa kau berubah?!" tanya Aoi yang kaget akan sikapku.


"Tak apa, aku pergi dulu," jawabku lalu berjalan pelan meninggalkannya.


Aoi mengejar. "Kau marah?!"


Aku berhenti. "Tidak," jawabku pelan.


"Kau marah, Arika!"


"Kalau aku mengatakan tidak, ya tidak!" tegas ku dengan suara yang cukup besar.


Aoi terdiam.


"Apa apaan iblis itu?! Sama kakak sendiri tidak sopan! Oh ya, dia anak pungut, 'kan? Pantas saja tidak sopan," bisik salah seorang cowok.


"Hanya tahu berbisik dan membagikan sesuatu yang negatif kepada yang lain tapi tidak tahu berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan?! Cih, kau jadi perempuan tak beres saja! Karena, kau yang sekarang tak pantas dikatakan cowok. Ah, hampir lupa ..., kalian juga para cewek, jangan terlalu berani berbicara padaku. Selama air di dalam bak belum penuh, jangan pernah mengambilnya karena kau akan membuat pasir yang ada di dasar bak meluap," ucap ku dengan sinis.


"Dia berbicara?" tanya Aoi.


"Ya! Kalian jangan berbuat sesuatu yang buruk padanya! Kalian harus berhadapan langsung denganku, loh!" timpal Kai yang tiba tiba muncul.


Seluruh murid kembali berbisik mendengar Kai yang mengangkat bicara terhadap seorang gadis yang baru akrab dengannya itu.


"Kau!" Aku menunjuk salahs seorang gadis yang sejak awal tadi sibuk berbisik dan mengatai ku.


"A-aku?!" tanyanya sambil menunjuk wajahnya yang biasa biasa saja itu.


Aku mengangkat alis ku.


"Selesai sudah!" ucap Kai dalam hatinya.