
Di dalam kamar Aiko.
"Aiko, ibu memarahi kami berdua. Sekarang, Aiko kecil tahu harus bagaimana, 'kan?" tanya Aoi, pelan.
"Ya, aku tahu ...," Ia menundukkan kepalanya, "Aku bosan di rumah. Ayah dan ibu tidak mengizinkanku ke mana mana ..., aku sama sekali tidak memiliki teman untuk bermain."
"Aiko, kau tahu kalau anak dari keluarga Shi tidak boleh sembarangan, 'kan?" balas Aoi.
"Tapi kak Aoi, kita memang mempunyai segalanya. Bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain, 'kan?" tanya Aiko kembali dengan pelan.
"Aiko punya segalanya. Aiko punya teman bermain. Pelayan seperti apa yang Aiko mau? Aku akan memberikan apa pun yang Aiko inginkan," jelas Aoi.
"Tapi kak Aoi sendiri juga masih membutuhkan kak Arika sebagai penenang saat kak Aoi sedah marah!" tegasnya sambil menangis.
"Kak Aoi, Aiko benar. Dia butuh berinteraksi," timpal ku lalu menghela nafas.
"Aku tahu ..., aku sendiri bahkan ingin mempunyai teman," ujar Aoi sambil menatap ke langit langit kamar Aiko yang bergambar bintang yang memenuhi langit langit kamar itu.
Aku tersenyum melihat tingkah kakakku dan adikku yang sama sama mempertahankan diri mereka masing masing. Aku bertanya, "Apakah Aiko tidak mempunyai teman di sekolah?"
"Ayah menyuruh 2 pelayan wanita untuk menjaga Aiko selalu. Aiko tidak puas bermain. Jika Aiko bermain pasir bersih di sekolah, mereka bergegas mengambil air dan menyeka tanganku. Aku benar benar tidak bebas. Kak Arika tahu tempat untuk mengurung orang jahat? Aku lupa namanya," tanyanya.
"Penjara?" tanya Aoi.
"Ha! Itu! Aku merasa aku sedang di dalam penjara!" tegasnya.
Aku mengelus kepala bocah kecil yang suka dengan kebebasan itu lalu berkata pelan, "Aiko, ibu dan ayah hanya khawatir padamu. Bukan membuatmu terikat. Jangan salah paham. Itu hanya kekhawatiran orang tua terhadap anaknya."
"Kak Arika tidak mengerti! Aku bukan ingin membuat ayah dan ibu khawatir! Aku hanya ingin sedikit saja bebas. Jangan membuntutiku terus! Itu saja!" balasnya.
"Baik ..., baik, kak Arika salah," jawabku, pasrah.
"Sudah ku putuskan!" teriak Aoi sambil berdiri di atas tempat tidur.
"Pikiran gila yang muncul mendadak lagi?!" batin Arika.
"Heh?" Aiko bingung melihat tingkah kakaknya seperti superhero di film film.
"Ya!" jawab Aiko.
***
Ruang keluarga Shi.
"Di mana mereka?" tanya ibu dalam hati.
Mengetuk pintu.
"Silahkan masuk," ujar ibu mempersilahkan Arika, Aiko, dan Aoi masuk.
"Kenapa belum tukar baju?" tanya ibu, datar.
"Sebentar lagi ibu ...," jawabku dengan kepala yang tertunduk.
"Kenapa kalian begitu takut? Ibu tidak pernah jahat loh," ujar ibu, bingung.
"Ibu ..., Aiko ingin berbicara penting," ucap Aiko sambil menggesek gesekan kuku tangannya.
"Ada apa putri kecilku? Oh ya, lain kali jangan berbuat begitu. Ibu khawatir," timpal ibu sambil memegang secangkir kopi.
"Ibu, aku ingin kebebasan!" tegas Aiko.
"Heh?!" ibu kaget setengah nati mendengar permintaan anak kesayangannya itu.
Ibu adalah nyonya dari keluarga Shi. Dia terlihat dingin karena urusan keluarga dan perusahaan masih banyak.
Dia berumur 35 tahun. Parasnya masih cantik dan memikat hati. Tak ada kerutan di wajahnya. Maklum saja, ia sangat merawat diri.
Bagi ibu, keluarga dan pekerjaan sama sama penting. Ia memang selalu berada di rumah tetapi ia tak pernah keluar dari ruang keluarga. Ya, di situ dia memulai semua aktivitasnya dalam memperhatikan keluarga dan perusahaan.
Ia tak pernah mengenakan pakaian menor sehingga membuat orang sangat tertarik untuk menjadi temannya. Bahkan pelayan pun ia anggap teman. Ia curhat dan menasehati. Di dalam rumah ia adalah ibu bagi kami dan ibu bagi pelayan.
Apalagi di luar rumah. Ia sangat elegant dan bersifat keibuan, sehingga ayah begitu tergila gila dengannya.