Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 12



"Hanya pelayan saja bicara begitu sok!" balas pria itu.


"Ya, ya ..., aku memang seorang pelayan VIP. Santai saja, aku tidak akan mempermasalahkannya!" timpal cowok itu dengan gaya santai. Bajunya baju pelayan khusus cowok dengan topi hitam yang ia kenakan.


"Ganggu saja!"


"Bagaimana kalau keluarga Shi mengetahui hal ini? Aduh paman, serahkan saja dia padaku! Kau tahu orang yang di sana" Cowok itu menunjuk ke arah Aoi yang sedang berbicara, "Jika dia tahu, kau akan lenyap dalam 1 detik dari muka bumi ini loh! Bisa saja istri dan anakmu juga ikutan ...,"


"Baik, baik!" Sanggahnya, penuh ketakutan.


Cowok itu menggendong Arika dengan model bridal styl tumblr.


"Tunggu sampai di parkiran, aku akan menelepon Aoi gila itu," ujarnya.


Arika mendorong wajahnya karena merasa kesal akan perkataan cowok itu.


"Tidak sopan!" gerutunya.


"Kau sendiri," Tiba tiba Arika muntah, "Wuah, lega!"


"Sial!"


"Jangan menyebut kakak ..., uhuk! Kakak ku seperti itu!" tegur ku dengan ucapan yang serasa bergelombang itu.


"Baiklah, baik ..., kau menang," jawabnya pasrah.


"Apa yang terjadi padanya?!" Terdengar suara Aoi bertanya ada apa.


"Tuan, nona muda ini dipaksa minum oleh tuan Mailork," jawabnya.


Aoi yang mendengar itu langsung mengepalkan tangan dan berkata, "Terimakasih sudah menolong adik ku! Berikan dia padaku!"


Arika yang sekarang di gendong oleh Aoi. Ia dibawa di dalam mobil.


"Tuan, bayarannya?" tanya pelayan itu.


Aoi membuka topi pelayan cowok itu lalu menyentil dahi pelayan itu dengan pelan.


"Tuan! Apa apaan kau ini?!" gerutunya sambil mengelus ngelus dahinya yang kesakitan itu.


"Sixty?"


Tertawa kecil, "Ups!".


"Lenyapkan dia!" tegas Aoi.


***


"Selamat datang tuan, nona, Apa yang terjadi pada nona tuan muda?!" tanya Jefira khawatir.


"Cepat sediakan jus buah!" Perintah Aoi kepada 2 Waiter itu.


"Tuan, nona muda sedang mabuk?" tanya Jefira.


Aoi membawa adiknya itu ke dalam kamar lalu menurunkan adiknya di atas tempat tidur.


Aoi melepaskan sepatu adiknya lalu mengikat rambut adiknya itu agar tidak mengganggu tidurnya.


"Tuan, sebaiknya anda beristirahat. Saya dan Jefira akan menjaga nona," ujar Jefina.


Jefira muncul dengan jus buah di tangannya lalu berdiri di samping Jefina.


"Benar ..., aku juga masih harus membuat dua pembuat onar itu lenyap dulu!"


Setelah berkata begitu, Aoi langsung beranjak pergi meninggalkan Arika dan 2 waiter pribadi itu di dalam kamar adiknya.


"Tadi itu, tuan muda menyeramkan ya! Untung saja tuan dan nyonya sedang tidur," ucap Jefina kepada Jefira.


"Betul ...,"


"Mana jus buahnya?!" tanya Jefina.


"Ah iya, ini!" Jefira mengambil jus buah itu di atas meja lalu berkata, "Kak Jefina, tolong buat nona muda duduk dulu. Saya akan meminumkannya jus buah ini."


"Baik ...,"


"Heh?! Nona muda muntah di pakaian siapa? Sepertinya bukan di pakaian tuan muda kita ...," bahas Jefira.


"Lupakan saja, ayo cepat!" balas Jefina.


***


Pagi harinya.


"Uhuk ..., uhuk ...,"


"Nona?! Anda tidak apa apa?!" tanya Jefina khawatir.


"Di mana yang lain? Setahu ku aku pingsan kemarin malam," tanyaku.


"Tuan dan nyonya sudah menjenguk anda tadi. Sekarang tuan, nyonya, dan tuan muda sedang membahas sesuatu secara pribadi. Sepertinya masalah kemarin malam," jawab Jefira.


"Kenapa nona begitu ceroboh?!" tanya Jefina, khawatir.


"Maaf merepotkan kalian semua. Ah iya, di mana Aiko?" tanya Arika.


"Dia masih tidur," jawab Jefina.


"Kemarin malam aku muntah di pakaian pelayan itu dan kak Aoi mengatainya sebagai Sixty. Kalau boleh tahu, siapa itu?"


Jefira dan Jefina kaget setengah mati. Mereka mendadak berkeringat dingin dan menjadi pucat sekali. Tangan mereka dingin.


Jika dilihat mereka gemetaran.


"Siapa itu?" tanyaku sekali lagi.