
"Ini semua salah mu dasar lalat bangkai!"
"Salah ku? Yang benar saja kau ini?!" Kai menimpali.
"Memang salah mu! Kau tak mau keluar dari kamar ini hingga membuat kak Aoi salah paham!" Balas ku, emosi.
"Kau yang salah! Kau masuk ke dalam kamar ku lalu duduk di ranjang ku, dan membuat kekacauan di sini hingga membuat senior Aoi salah paham!" Jelas Kai, menegaskan.
"Siapa suruh kau membuka pintu dan tidak tidur saja?!" tanya ku.
"Bagaimana aku tidak membuka pintu?! Kau mengetuk pintu ku hingga 1 jam dan kau kira aku dapat tidur dengan ketukan kasar tanpa kelembutan itu?!" tanya Kai kembali.
"Kau mengaku saja! Kau yang salah bukan aku!"
"Enak saja!" Kai tak menerima perkataan Arika yang tak mau kalah itu.
"Baiklah! Kita akan berkelahi!"
"Astaga, hal gila apa lagi yang akan dilakukan oleh gadis ini?!" tanya Kai dalam hati dengan wajah bodohnya.
"Kenapa wajah mu seperti itu? Kau takut?" tanya ku dengan bangga.
Seketika, Kai berdiri di atas ranjang dan melihat aku dengan tatapan marah.
Aku yang melihat Kai yang berdiri serasa melihat raksasa besar yang ingin memakan ku.
"Sekarang kau pasti takut!" ucap Kai dengan bangga sambil bercekak pinggang.
"Siapa yang takut dengan mu?!" tanya ku dengan datar lalu berdiri tepat di hadapan Kai.
"Kita akan berkelahi, 'kan?!" tanya Kai.
"Tentu saja!" jawabku dengan tegas.
"Baiklah, ayo mulai!"
Saat Kai mengarahkan kepalan tangannya tepat di wajah ku, Aku hanya diam di tempat tanpa melakukan perlawanan.
"Kau kenapa, sayur kol?" tanya Kai, bingung.
"Tentu saja ingin menjebak si lalat bangkai," jawabku dengan santai.
"Kata kata sayur kol ini!" ujar Kai dalam hatinya sambil menahan emosi.
"Aku belum menjelaskan apa yang akan kita lakukan loh," timpal ku sambil melihat langit langit rumah.
"Kau sudah mengatakannya!"
"Aku mengatakan tapi belum menjelaskan. Bodoh sekali!" gerutu ku.
"Sudahlah, kau tampak bingung. Kita tidak jadi berkelahi," jelas ku secara singkat dengan nada datar.
"Ugh! Tangan ku!" keluh Kai dalam hatinya, "Padahal, aku bisa menang jika berkelahi dengan gadis ini!"
"Kita akan berkata kata agar si pendengar dapat tertawa," jelas ku.
"Aku menyerah,"
"Cowok dari mana kau ini? Mempermalukan keluarga mu saja," Ledek ku sambil tersenyum sinis.
"Kau!"
"Baiklah, ayo kita mulai,"
"Siapa yang pertama?" tanya Kai.
"Aku," jawab ku dengan singkat.
"Mulailah! Aku juara satu orang tak pernah tertawa di sekolahku dulu. Ya, itu dulu ...," ujar Kai.
"Anak singa, Anak gajah,"
Tiba tiba Kai tertawa sedikit.
"Habis dimakan oleh anak cicak,"
Kai tertawa dengan suara yang sangat besar hingga membuat ku menutup telinga.
"Baiklah, baiklah ..., kau menang dan aku kalah," ujar Kai pasrah lalu berbaring di atas tempat tidurnya.
"Secepat itu?" tanya ku dalam hati.
"Kau tahu, aku pernah berdebat dengan ibu ku. Semalaman aku menghabiskan waktu untuk berdebat soal perjodohan dan pada akhirnya aku jatuh sakit karena tak tidur,"
"Oh?"
"Gadis ini! Tak ada akhlak!" gerutu Kai dalam hatinya.
"Astaga! Aku ingin tertawa mendengar itu!" ujar ku dalam hati sambil berusaha menahan tawa.
"Ngomong ngomong, kau sudah lama di dalam kamar ku loh!" Goda Kai.
Aku berbaring di sampingnya. Jarak kami kira kira 1 meter.
"Kembali di kamarmu!" Tegas Kai sambil menendang tangan ku yang ada di atas perutnya.
"Heh?!"