
"Berhubung kita sudah ada di luar rumah, bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain?" tanya Aoi sambil tersenyum.
"Uwaaa! Taman bermain?!" tanya Aiko dengan semangat.
"Apa ibu tidak marah nanti?" tanya Arika dengan nada pelan.
"Kau pasti tau cara berbohong, 'kan?" tanya Aoi sambil melirik Arika dan Aiko secara bergantian.
"Berbohong?!" tanyaku, kaget.
Aoi menarik nafas panjang lalu berkata, "Arika kecil, aku memang tidak mau mengajari kalian berbohong. Arg! Begini saja, kalian jujur pada ayah dan ibu dan menuduhku saja. Tenang saja! Lagi pula, putri kecilku ingin bermain di taman."
"Baik! Aku akan menuduh kakak nanti!" jawab Aiko sambil tersenyum bahagia.
Aku, kak Aoi, dan supir membeliak.
"Dasar bocah!" gerutu Aoi dalam hati.
"Kak Aoi ..., itu bukanlah ide yang bagus. Pak supir, kita pulang saja," balasku.
"Tidak! Jika pulang, aku akan meloncat keluar dari jendela mobil!" ancam Aiko.
"Tuan, nona muda, dan nona kecil, kita harus kembali sekarang. Di rumah ada taman bermain, 'kan?" jelas pak supir sambil menggaruk kepalanya.
"Ide yang bagus!" timpalku.
"Tidak mau di rumah! Aku mau jalan jalan!" rengek Aiko sambil menendang Arika dan Aoi.
"Bocah ini!" gerutu Aoi.
"Aku akan meloncat!" ancam Aiko lagi. Ia menuju jendela mobil lalu menjulurkan kakinya keluar.
Aoi menariknya lalu memegang kedua kakinya. Kepala Aiko berada di bawah dan kakinya berada di atas.
"Lepaskan aku! Aku teriak ya! Ibu!" rengek Aiko.
Tersenyum sinis, "Bukannya kau mau meloncat?" tanya Aoi.
"Tidak mau! Tidak jadi!" jawabnya sambil menangis.
"Kak Aoi ...," tegurku.
"Huh!" Ia menurunkan Aiko lalu mengelus kepala adiknya itu dengan wajah kesal.
"Kita pulang," ujar pak supir.
***
Sesampainya di kediaman keluarga Shi.
"Selamat datang tuan, nona muda, nona kecil," ujar pelayan itu sambil menundukan kepala.
"Bawa Aiko ke taman bermain," ujar Aoi kepada dua orang pelayan perempuan.
"Tuan dan nona muda dipanggil oleh nyonya di ruang keluarga. Tasnya tuan, nona," ujar seorang kepala pelayan.
Arika dan Aoi memberikan tas sekolah mereka lalu beranjak lergi ke ruang keluarga.
***
"Sudah sampai rupanya ...," ujar ibu Aoi.
"Habis sudah!" batin Arika.
"Ibu ..., aku,"
"Duduk dulu, itu tidak sopan. Siapa yang mengajarimu begitu?" sanggah ibu Aoi dengan tenang.
"Maafkan aku ibu," jawab Aoi.
Arika dan Aoi duduk di sofa yang empuk itu. Mereka saling menatap lalu menundukan kepala.
"Aoi, maafkan ibu memanggilmu ke sini. Padahal sekarang harusnya kalian makan siang. Tapi ibu merasa ibu sudah cukup baik hingga adik kalian itu menjadi nakal," jelasnya.
"Aiko masih kecil," ujarku pelan.
"Arika, jika batang dari pohon sudah bengkok sejak kecil lalu tidak dicangkok, sampai besar akan terus begitu,"
"Ibu, maafkan Aiko. Aku akan memberikannya pelajaran nanti," timpal Aoi.
"Huh ..., kalian pergilah makan. Setelah itu, berikan pelajaran pada Aiko agar tidak berbuat sesuka hatinya lagi. Dia sudah membuat ibu pusing," ujar ibu Aoi sambil memegang kepalanya.
"Maaf sudah membuat ibu pusing. Kami pamit," kata Aoi dengan wajah tegang.
***
Arika dan Aoi makan siang dengan makanan yang begitu banyak. Ayah dan ibunya tidak ikut makan karena masih memiliki urusan keluarga.
Setelah selesai makan, Arika dan Aoi menjemput Aiko di taman bermain keluarga Shi.
"Aiko, Ayo!"
"Kita akan ke mana kak Aoi?" tanya Aiko yang sedang bermain ayunan.
"Ikut saja!" jawab Aoi tegas.
"Arika, jangan melawan lagi ya. Ayo ...," aku mengajaknya.
Wajahnya cemberut. Arika tahu ia masih belum puas bermain. Ia juga tidak merasa bebas hidup di dalam keluarga Shi. Tapi, ia memang ditakdirkan untuk lahir, hidup, dan besar di dalam keluarga Shi.
***
Di dalam kamar Aiko.