Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 11



Selesai Arika bernyanyi, ia melempar mic yang ada di tangannya ke arah belakang lalu turun dari panggung.


"Habislah keluarga Miller! Ternyata suara gadis ini, sangat memukau!"


Semua pejabat tinggi membicarakan soal suara Arika yang sangat memukau itu.


"Oh? Suaraku sebagus itu? Ckckck, sepertinya anak pungut ini tidak seburuk itu," ujarku dalam hati, membanggakan diri.


"Em ..., tuan muda, apa hadiahnya? Bukannya acara mau selesai?" tanya kepala keluarga


Miller, tepatnya ayah Zhyro.


"Kenapa buru buru sekali, paman? Suara adikku ini juga termaksud hadiah yang lebih berharga dari nyawa kalian semua loh! Tenang saja, hadiah kedua lebih mengejutkan lagi. Oh ya, apakah acara ini singkat saja? Bukannya dulu keluarga Miller mengadakan acara yang membuat beberapa perusahaan kecil menjadi kaya raya? Apa jangan jangan karena itu perusahaan Miller hampir bangkrut?" Sindir Aoi.


Ayah Zhyro menyeka wajahnya menggunakan sapu tangan bercorak biru putih itu.


"Kenapa terlalu merendahkan kami tuan muda?" tanya ibu Zhyro.


"Tidak merendahkan. Bahkan semua orang tahu kalau kalianlah yang memulainya tadi. Tolong jaga sifat anda bibi," jawab Aoi, sinis.


"Baik, baik! Sudah cukup!" tegas Zhyro.


"Baiklah, sudahi saja," timpal Aoi.


"Sepertinya kak Aoi mempunyai sesuatu untuk dikemukakan," ujarku dalam hati.


"Ehem ..., silahkan makan," timpal ayah Zhyro.


Semua bubar dan langsung mengambil beberapa makanan di atas meja.


"Arika, bergaul saja dengan para gadis gadis itu. Mungkin saja kau akan mendapatkan teman baru. Bukan ingin meninggalkanmu. Aku ingin mencari sumber pemasukan baru di perusahaan kita melalui kerja sama antar pemilik perusahaan. Aku juga ingin membantu ayah," jelas Aoi sambil memegang pundak adiknya itu.


"Em," Aku mengangguk.


Aoi mengelus kepala Arika dengan pelan lalu berjalan ke arah beberapa pejabat dan beberapa pemilik perusahaan terkemuka.


"Ah, berteman dengan para gadis itu?! Gila!" gerutu ku dalam hati.


"Hei! Kalian tahu tidak, aku dijodohkan dengan salah satu pemilik perusahaan di Jepang loh! Ah, dia membelikan sepatu kaca termahal itu!" Seorang gadis memamer mamerkan orang yang dijodohkan dengannya yang membeli barang termahal itu.


"Hallo," Sapa seorang pria dengan secangkir minuman di tangannya.


Aku mengangkat kedua alisku pertanda bertanya, ada apa?


"Kau adalah anak keluarga Shi, 'kan?" tanyanya.


"Ya?"


"Kalau begitu, kau harus temani kami minum. Kami punya tawaran bagus untuk perkembangan perusahaan kalian loh!" Pria itu berusaha merayu Arika agar mau ikut minum dengannya.


"Kalau begini, aku bisa membantu kak Aoi dan ayah dalam mengembangkan perusahaan! Lagi pula hanya minum air putih saja kok!" pikirku dalam hati.


"Bagaimana? Kenapa melamun?" tanyanya seklai lagi.


Arika mengangguk pelan.


Pria itu menarik tangan Arika dan membuat Arika duduk di tempat yang sudah ada namanya, Jimmy Kaulay.


"Ayo, ayo! Di minum!" pintanya.


Aku mengambil gelas itu dari tangannya lalu meminumnya.


"Kenapa pahit?!" tanyaku dalam hati, kaget akan rasa air yang aku kira adalah air biasa.


"Ayo, minum lagi! Aku akan memberikan saham besar nanti!" ujarnya.


Gelas kedua ku minum.


Ketika sudah gelas ke empat, aku mulai pusing. Ku lihat sekeliling seperti bergelombang.


"Satu lagi! Tidak baik jika tidak pas! Cepat!" paksanya.


"Tidak ..., tidak, aku ..., ugh ...,"


"Anak pungut! Turuti saja! Kau mengerti?!" Ia membuka paksa mulutku lalu memasukkan minuman itu sampai membuat baju Arika basah.


"Hei paman, tidak baik memaksa seorang gadis seperti itu! Cepat lepaskan!" tegur seorang cowok.