Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 8



"Jangan sok tahu!" gerutu ku.


"Kenapa kau mengataiku sok tahu? Atau memang aku tahu segalanya?" tanyanya dengan santai.


"Aku itu ..., tadi itu ...,"


"Arika, kau di permainkan oleh Erika, 'kan?" sanggahnya.


"Siapa yang bilang?! Aku tadi pusing saja!" jawabku cetus.


"Jangan berbohong!" tegasnya.


"Kalau banyak tahu tidak baik loh! Em ..., bisa tidak jangan sok tahu?!"


"Terserah!" Aoi beranjak pergi dengan wajah kesal.


Melihat itu, aku langsung berjalan ke arahnya dan memeluknya dari belakang.


"Hei?!" Ia kaget setengah mati.


"Jangan marah!" pintaku tegas dengan gaya manja.


"Kembali ke tempat tidurmu! Tidak boleh beranjak dari tempat tidur!" tegas Aoi lalu menggendongku ke tempat tidur.


"Tapi kak Aoi marah ...," ucapku pelan.


Aoi menatap Arika. Tatapan itu jarang sekali tampak di wajahnya. Hingga membuat Arika tertunduk malu.


"Huh ..., tunggu di sini. Aku ingin memakan ice cream yang dipesan ibu kemarin,"


"Punyaku juga di ambil ya!" pintaku padanya sambil tersenyum.


"Kau sedang sakit! Tidak boleh memakan ice cream! Sudahlah, lagu pula ice cream-mu ditakdirkan untukku," Ia melarangku lalu tertawa kecil.


"ice cream!" Paksaku sembari mendorong dorong lengannya.


"Tidak boleh!" tegurnya.


"Tuan, biarkan kami yang menjaga nona. Tuan boleh pergi mengambil ice cream. Silahkan," sahut salah seorang pelayan pribadi Arika.


"Bagus. Kalian memang baik sekali!" puji Aoi lalu beranjak pergi.


"Nona,"


"Keluar!" Aku menggembungkan pipiku, "Emp!"


"Haih ..., nona sedang sakit. Tidak boleh memakan makanan yang dingin," jelas pelayan Arika yang berumur 20 tahun itu. Ia bernama Jecila.


"Kita sudah musuhan! Keluar saja! Kalian membiarkan ice cream itu sendiran! Dia butuh teman!" jawabku cetus.


"Astaga nona ..., kenapa sifat nona seperti anak anak?! Jefira, periksa nona! Panggil dokter terkemuka untuk memeriksa nona! Sepertinya nona muda telah kembali ke ingatan masa kecilnya! Cepat!" ujar Jecila, menyuruh Jefira.


"Baik!"


"Ampun nona!" Kedua pelayan itu sujud di kaki Arika sambil menutup mata.


"Hei?! Cepat berdiri bagus bagus!" pintaku kepada mereka berdua.


Mereka berdua berdiri.


"Hallo?"


"Aiko?! Sejak kapan masuk ke dalam kamar kakak?!" tanyaku, kaget melihat adikku itu mengintip di samping tempat tidurku.


"Em ...," Ia berpikir sejenak lalu menjawab pertanyaanku itu, "Sekitar 5 menit."


"Baiklah, ada keperluan apa adik kecilku datang kemari?" tanyaku padanya sambil mengelus elus dengan lembut kepalanya.


"Kakak ..., jangan sakit ...," Ia menangis pelan sembari menggesek gesekan kuku tangannya .


"Tidak ..., kakak tidak sakit kok," jawabku.


"Aiko!" teriak Aoi dari depan pintu kamar Arika.


"Kak Aoi, kak Arika sakit ...," Ia kembali menangis.


"Itu sebabnya kakak tidak memberikannya ice cream ini. Kakak mengambil langkah yang tepat, 'kan Aiko kecil?" Aoi seakan mempengaruhi adik kecilnya itu.


"Wah ice cream! Berikan padaku!" pintanya.


"Eits! Adik kecilku belum menjawab pertanyaan kakak," timpalku.


"Iya! Iya! Kak Aoi mengambil langkah yang tepat! Orang sakit tidak boleh memakan makanan seperti ini!" jawab Aiko dengan pandangan yang tertuju pada ice cream rasa cokelat yang berada di tangan Aoi.


"Bagus, bagus. Ini," Aoi memberikan Ice cream itu pada Aiko lalu berjalan ke arah Arika yang masih terbaring di tempat tidur dengan raut wajah kesal.


"Pergi," Aku berkata pelan tetapi bermakna mengusir.


"Hei? Kau marah?" tanya Aoi.


"Tidak," jawabku singkat.


Kedua pelayan Arika hanya bisa menggaruk kepala mereka melihat tingkah Arika, Aoi, dan Aiko yang begitu menggemaskan.


"Syuh! Syuh!" usirku.


"Baiklah," Aoi berkata dengan nada menikmati, "Wah, enak sekali!"


"Jangan menggodaku!" tegasku.


Arika yang merasa kesal karena Aoi yang terus menggodanya langsung memakan ice cream milik Aoi yang baru saja Aoi masukkan ke dalam mulutnya.


"Ari ..., Arika ...," Aoi kaget dan terpaku.