Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 16



"Malam, nyonya!"


"Siapa?" tanya ibu pada Aoi.


"Teman," jawab Aoi singkat.


"Tante, aku masuk dulu ya!" ujar cowok itu lalu beranjak pergi sambil melambaikan tangannya.


"Seperti kenal ...," ucap ibu dengan pelan.


"Jangan dipikirkan, bu. Itu tidak terlalu penting," sahut Aoi dengan datar.


"Baiklah ..., ibu masuk dulu," balas ibu lalu beranjak pergi.


"Tuan, makanannya datang. Silahkan dinikmati," ujar waiter sambil menaruh makanan di atas meja.


"Pergilah ...," Aoi menyuruh waiter itu pergi dan segera waiter itu menundukkan kepalanya lalu pergi.


"Ah! Makanan sebanyak ini?!" Aoi menggaruk kepalanya dengan wajah kesal.


"Bagaimana?" Seseorang bertanya dari belakangnya.


"Untuk apa kau keluar?!" Aoi bertanya dengan datar.


"Tentu saja untuk melihatmu memakan semua ini," jawabnya santai.


"Cepat makan atau kau ku usir?!" Aoi meremas kedua pipi cowok itu dengan kuat.


"Ba-baik!" Ia menjawab dengan gagap.


"Makan!"


"Iya! Aku makan!" jawabnya dengan penuh ketakutan.


"Bagus! Duduklah," Aoi mempersilahkan.


"Kau tidak kasihan dengan Sekai No Kanemochi Sixty ini?" tanyanya dengan wajah imutnya.


"Kai, Kau tidak dicari?" tanya Aoi.


"Em ...," Ia berpikir sambil mengunyah makanan, "Tentu saja dicari!"


"Lalu untuk apa kau kabur?!" tanya Aoi dengan wajah kesal yang tertahan itu.


"Aku tidak kabur. Aku hanya bekerja sampingan di keluarga Miller," jawabnya dengan santai dengan makanan yang penuh di dalam mulut.


"Untuk apa? Bukannya kau itu ...,"


"Tidak, tidak ...," Sanggahnya dengan cepat, "Aku hanya ingin bebas dari masalah saja."


Aoi menghela nafas panjang, "Apa lagi masalah yang kau perbuat?"


"Aku hanya mengacaukan Kerajaan Violaiet," jawabnya.


"Kau gila?!" tanya Aoi yang langsung berdiri.


"Huh ..., lalu bagaimana dengan situasi sekarang? Tunggu!" Tiba tiba Aoi kaget setengah mati.


"Oh? Kau lama menyadarinya ya?" Ia bertanya sambil tersenyum kepada Aoi.


"Kau benar benar gila! Kau melibatkan keluarga Shi juga?!"


"Sixty tetaplah Sixty. Bukankah Keluarga utama Sixty ada sepuluh? Lagi pula ..., keluarga senior termaksud ke dalam sepuluh keluarga besar, 'kan?" Ia menjelaskan setengah bertanya.


"Kau harus kembali!" Tegas Aoi.


"Tidak mau!" Rengeknya.


"Harus!" Aoi kembali menegaskan.


"Tidak mau! Tidak mau!" Ia ikut merengek lebih keras sambil menarik narik kaki Aoi.


"Kak Aoi?"


"Arika?!" teriak Aoi, kaget.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya ku sambil mengusap usap mata.


"Tidak, tidak ada!" jawab Aoi.


"Ini adikmu yang tadi itu, 'kan?!" Sekai memotong.


"Dia?!" Aku kaget.


"Ya, dia yang menyelamatkan mu. Sekarang, kembalilah ke kamarmu lalu tidur," timpal Aoi.


"Wah! Terimakasih! Kau memang penyelamat!" ucap ku sambil memegang tangannya.


Ia tertawa, "Wuah! Sama sama! Lain kali, kau juga harus membantu ku loh!"


"Kai!" Aoi menegur.


"Eh?" Sekai tertawa kecil diselimuti dengan ketakutan.


"Oh! Jadi namamu Kai?! Baiklah, aku akan memanggil mu seperti itu juga!"


"Tidak boleh! Hanya kakak yang boleh memanggilnya begitu!" Balas Aoi, marah.


"Tapi ..., Kalau kakak memanggilnya seperti itu, maka aku juga akan memanggilnya seperti itu!" Aku tetap pada prinsip ku, tetap memegang teguh sesuatu.


"Tidak boleh!"


"Jangan jangan," Aku melihat kak Aoi dan Kai secara bergantian.


"Tidak! Tidak! Bukan seperti itu! Astaga!" ujar Kai, menyakinkan.


Aku tertawa kecil, "Aku bercanda, Kai!"


"Ehem, kau teman sekelas ku, 'kan?" Kai bertanya.