Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 14



"Tuan muda Aoi! Apa kau tidak menepati janji sama sekali?!" tanya ibu Zhyro, kesal.


"Aku bukannya tak menepati apa yang ku katakan. Tapi aku kasihan dengan wajah orang orang yang ada di dalam sini. Kalian tahu kenapa? Tentu saja karena mereka penasaran! Sudahlah ..., menjelaskan pad kalian sudah membuang waktu yang diberikan secara cuma cuma ini!" jelas Aoi.


Aoi mengambil handphone yang ada di dalam sakunya lalu memperbesar volume handphone itu dan memulai rekamannya.


Rekaman itu di dengar bahkan dilihat oleh semua orang yang ada di situ.


"Zhyro Miller mengatai gadis cantik itu Anak pungut dan memiliki otak yang bermasalah?! Cari mati!" Bisik seorang wanita kepada wanita di sebelahnya.


"Dengar! Aku tak sengaja!" tegas Zhyro.


"Heh? Ada apa denganmu?" tanya Aoi sambil tersenyum sinis.


"Tuan Aoi, maafkan anak saya. Saya tidak mengajari anak ini dengan baik. Tolong maafkan saya!" timpal ayahnya.


"Tuan Miller, saya bukannya bertindak sesuka hati. Tapi saya mengambil keputusan yang sangat tepat loh! Atau ..., kalian sekeluarga ingin berurusan dengan ibu ku?" tanya Aoi, mengancam mereka.


"Tuan muda ..., jangan begitu ..., ini di depan umum loh," Ayah Zhyro berusaha menahan emosinya dan berkata sebaik baiknya di depan Aoi dan semua orang.


"Tuan, jika saya tidak merasa malu untuk apa saya tidak berani? Bukan begitu, Zhyro Miller?"


"Maafkan anak saya tuan!" Lagi lagi ayahnya meminta dengan suara besar. Tak tahu apa dia sengaja agar semua orang bersimpati padanya atau memang merasa bersalah.


"Tuan, anda adalah kepala keluarga Miller. Kebetulan acara ini diadakan sekarang jadi kita bisa tahu bagaimana dengan joint venture yang kita buat, 'kan?" balas Aoi sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


"Tuan?!"


"Aku membatalkannya," jawab Aoi, santai.


"Tapi ..., anda sudah menyetujuinya!" ujar ayahnya.


"Coba lihat suratnya," pinta Aoi.


Ayah Zhyro mengambil kertas itu lalu memberikan kertas itu di tangan Aoi.


Aoi mengambil kertas itu lalu merobeknya menjadi dua bagian.


"Tidak! Tidak! Tidak!" ucap ayah Zhyro dengan cepat dan penuh kepanikan.


"Zhyro!" Ayahnya menggertak giginya karena menahan emosi yang sudah meluap sejak tadi itu.


***


Di parkiran.


"Bagaimana? Dia sudah aman?" tanya Aoi kepada seorang cowok.


"Tenang saja. Asal hal itu tetap terjaga aku tidak meminta imbalan. Jangan terlalu sayang loh. Karena akan menyeramkan nantinya!" jawab cowok itu sambil meluruskan topinya.


"Hm," Aoi berdeham lalu naik ke dalam mobilnya.


***


Di dalam mobil, Aoi terdiam dengan beribu pertanyaan di kepalanya.


"Arg! Aku benar benar mengerikan! Ah, kenapa dia bisa menjadi seorang bawahan ya?!" tanya Aoi dalam hatinya.


Cowok tadi mengetuk kaca mobil Aoi.


"Haih ...," Aoi membuka kaca mobilnya itu lalu bertanya, "Ada apa?"


Cowok itu tertawa kecil, "Sobat, bolehkah aku tidur di rumahmu sementara?"


"Tidak!"


"Tapi ..., tapi ..., aku sudah menyelamatkan adikmu, 'kan?!" Ia merengek.


"Untung saja kau adalah bocah ingusan! Kalau tidak, akan ku cambuk sampai berdarah! Cepat naik!" jawab Aoi, pasrah.


Ia tertawa kecil lagi.


"Kau seperti iblis saja!" gerutu Aoi.


"Tuan muda, kau tahu kalau hari ini sangat melelahkan? Membunuh seekor tikus nakal sangatlah mengasyikkan, bukan?" Ia membuka topinya.


"Aku tak menyuruhmu membunuh tikus itu!" Tegas Aoi sambil memukul stir mobilnya yang berlapis berlian itu.