
"Kau yakin tidak ingin serius?" tanya ku dengan sinis.
"Ke-kenapa?! Bukannya kita jangan terlalu serius?!" tanya Kai dengan kaki yang gemetaran.
Aku melirik lantai 2 sekolah dan Kai ikut melihat.
"Bagaimana?" tanyaku.
"Ya! Aku akan serius!" jawab Kai dengan penuh semangat.
"Hanya melihat fans yang berteriak memanggil namanya saja sudah begitu bersemangat," ledek ku dalam hati.
"Siap?!" tanya Kai.
"Ya," jawabku dengan singkat.
"Mulai!" Kai berteriak lalu berlari.
Kai berlari begitu cepat dan aku hanya berjalan pelan sambil melihat Kai yang sudah berlari sebanyak 3 kali.
Tiba tiba, Kai berhenti di samping ku dengan nafas yang terengah engah.
"Kenapa, kenapa ..., huh ..., huh ..., kenapa kau tak berlari?" tanya Kai.
"Hemat energi," jawabku singkat.
"Hah?! Jadi kau menipu ku?!" tanya Kai, emosi.
"Ya," jawabku singkat.
Kai menepuk jidatnya lalu duduk di lapangan. Aku pun ikut berhenti dan duduk di lapangan itu.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Kai dengan tatapan benci.
"Kau marah?" tanyaku.
Kai melirik ku, "Diamlah, kau berisik!"
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?!" tanya Kai, kesal.
"Tidak ...," jawab ku dengan pelan.
"Iblis itu suka merebut segalanya ya?!" gerutu seorang cewek dengan suara yang sangat besar.
Kai melirik tajam cewek itu dan tiba tiba, cewek itu ditarik oleh dua orang pengawal.
"Kau siapa?" tanyaku.
"Diam! Kau berisik sekali! Kau juga yang membuat semuanya kacau!" Kai yang mulai emosi langsung berkata dengan tegas.
Kai menatap ku dengan tatapan tak puas.
"Kenapa?" tanyaku.
Kai memutar matanya dengan wajah tak senang.
"Sudahlah, kau duduk saja di sini. Aku akan menggantikan mu," Aku pun berdiri dan langsung berlari.
Tiba tiba, aku terjatuh. Tak tau mengapa ada seseorang di balik pohon yang sedang melempari badan ku dengan batu yang cukup besar hingga membuat ku jatuh.
"Tidak boleh lemah! Tidak boleh diam dan menunggu semua orang menertawakan ku!" ucap ku sambil menyemangatkan diriku sendiri.
Aku berusaha berdiri lalu kembali berlari tetapi tidak secepat tadi sebelum aku dilempari batu.
"Siapa?" tanya Kai dalam hati yang sudah menyadari lemparan batu itu.
Kai menghampiri ku lalu menarik tanganku.
"Sudah?" tanya Kai tanpa melihat wajah ku.
"Apa?" tanyaku kembali.
Tiba tiba, Kai menggendong ku ala bridal style tumblr.
"Turunkan aku!" teriak ku sambil mencubit wajahnya dengan kuat.
"Diam!"
Deg!
Jantung ku berdegub kencang.
Sesampainya di Unit Kesehatan Sekolah, Kai menurunkan ku di atas kasur dan mengambil obat dari dalam kotak..
"Hei?! Kau gila?! Kau tahu bagaimana jika fans gila mu itu akan membunuh ku?! Lalu, kau tidak sopan karena kau memasuki UKS tanpa izin dari perawat sekolah!" ucap ku, marah marah.
"Blablabla," Kai tidak mempedulikan perkataan ku dan sibuk mencari betadine dan kapas luka di dalam kotam P3K.
Saat Kai sudah mendapatkan betadine dan kapas luka, ia langsung mengoleskan obat itu di lutut ku yang luka itu.
"Huaaa! Perih! Perih!" rengek ku dalam hati dengan mata tertutup karena menahan perih.
Kai tertawa kecil, "Biarkan aku mengerjai gadis kecil ini saja selagi senior Aoi tak ada.
Seketika, Kai menekan kakiku dengan kuat. Aku yang tak tahan langsung menggigit pundaknya dengan kuat.
"Huaaa!" teriak Kai.