
"Tuan muda? Pelan sedikit atau kau akan merusak berlian indah itu loh," timpal cowok itu sambil memegang pundak Aoi.
"Aku tidak menyuruhmu membunuh pria itu!" Aoi berteriak tegas.
"Astaga! Jangan terlalu berbaik hati pada orang seperti itu!"
"Di mana kau menaruh mayat itu?!" Aoi berteriak tegas di dalam mobil.
"Di ...," Ia menunjuk ke arah bagasi mobil Aoi, "Ada di belakang,"
"Apa yang kau perbuat?! Kau gila?!"
"Pufft," Ia malah menertawakan Aoi hingga membuat Aoi menendang kaca mobilnya dengan keras hingga pecah.
"Hei! Hei!"
"Keluar!" Aoi membuka mobilnya lalu mengambil ponsel dari saku celana.
"Huh ..., baiklah, baik!" Cowok itu keluar dari mobil.
"Bawa mayat itu keluar!"
Ia mengangguk lalu membuka bagasi mobil yang berwarna hitam pekat itu.
"Aoi, jangan terlalu kasar dengan mobil mu ini. Hitam pekat yang ternyata emas. Stir mobil berlapis berlian. Ban saja memiliki lampu yang mahal yang hanya ada satu di dunia. Bagaimana bisa begitu kasar hingga membuat kaca pecah?" Ia menjelaskan secara detail sambil melihat isi bagasi itu.
"Diam! Cepat keluarkan mayat itu!" Aoi kembali menegaskan.
"Baik, baik ..., sssttt,"
"Antarkan mobil baru!" ucap Aoi di dalam ponsel kepada kepala pengurus rumah.
"Huh ...,"
"Tuan ...,"
"Ssst ...," Cowok itu menyuruh seorang pria yang babak belur untuk diam.
"Cepat!" Pinta Aoi tegas.
"Baiklah," Cowok itu menyeret pria itu hingga tepat berada di depan Aoi.
"Tuan ..., aku tadi benar benar salah! Mohon ampuni aku!" ucap pria itu sambil menundukkan kepalanya.
"Pergilah!" jawab Aoi.
"Tapi tali ini?" Ia bertanya.
"Usaha sendiri," ledek cowok itu sambil menutup satu matanya.
Tiba tiba mobil hitam pekat datang ke arah Aoi.
"Aku pergi," ucap Aoi sambil melambaikan tangannya.
"Baik," jawab cowok itu sambil tersenyum.
Aoi masuk ke dalam mobilnya.
***
"Tuan kita mau ke mana?" tanya supir itu.
"Pulang ke rumah Aoi dong!"
"Sial! Kenapa kau malah ikut ke dalam mobil?!" tanya Aoi, kaget.
"Aku mengantuk ...," jawabnya sambil menguap.
***
Sesampainya di kediaman Shi.
"Selamat datang tuan muda dan tuan tamu," Sapa para pelayan perempuan itu sambil membungkuk.
"Kalian berdua," Cowok itu menunjuk ke arah 2 waiter lalu berkata, "aku lapar loh. Tolong ya."
"Tuan?"
"Tidak ..., aku tidak lapar. Aku ingin pergi ke kamar Arika dulu," jawab Aoi.
"Baik," Mereka berdua menundukkan kepala lalu beranjak pergi ke dapur.
"Sudah lama ya tidak berkunjung?" tanya Aoi.
"Aku mengantuk ..., huaaa ...," jawabnya sambil menguap.
"Makanannya?!" tanya Aoi.
"Makan saja untukmu!" jawabnya lagi lalu beranjak pergi ke kamar tamu.
"Anak ini!" Aoi menggerutu di dalam hatinya.
***
Di meja makan terlihat Aoi duduk sambil menundukkan kepala. Ia juga terlihat panik sendiri karena harus makan.
"Tuan, jangan di paksa. Tuan tamu memang tidak sopan!" ucap pelayan pribadi Aoi yang seorang pria asal Turki.
"Jika dia mendengar itu, kalian tidak akan ada lagi loh," balas Aoi.
"Maafkan saya tuan muda," jawab pria itu.
"Aoi?"
"Ibu? Kenapa ibu kemari?" tanya Aoi.
"Sedang apa di sini? Kenapa tidak tidur lagi? Bagaimana acaranya? Di mana Arika?" Ibu kembali bertanya.
"Aku baru kembali dan lapar. Jadi aku menyuruh mereka menyiapkan makanan untukku. Acaranya membosankan. Tidak ada makanan enak sama sekali. Oh ya, Arika ada di dalam kamarnya. Sudah duluan tadi," jawab Aoi panjang lebar.
"Malam, nyonya!"