Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 21



"Junior, kau kedinginan atau menyembunyikan sesuatu?" tanya Aoi sambil tersenyum sinis.


"Ke-kedinginan!" jawab Kai.


Di dalam selimut.


"Astaga, ini gila! Dia suka mempermainkan ku?! Aku lelah terus berjongkok!" ucap ku dalam hati dengan emosi.


"Baiklah, kau akan ke mana?" tanya Aoi.


"Aku ingin ke dapur dulu," jawab Kai sambil tersenyum.


"Hm," Aoi berdeham.


"Ugh! Aku ingin buang angin!" Tiba tiba, Kai berpikir untuk mengerjai Arika lagi, "Aku buang angin saja. Biar dia menciumnya!"


Seketika, bau itu memenuhi selimut.


"Dia?! Kurang hajar! Dia malah buang angin di sini!" gerutu ku.


Kai berjalan dan aku ikut jalan.


"Kau membuat ku mencium aroma yang sangat sangat bau ini dan aku akan membuat bokong ini ...,"


"Aduh! Dia mencubit bokong ku?!"


Aku yang mendengar itu langsung tertawa kecil.


"Ada apa dengan temanmu itu?" tanya ayah yang semakin bingung.


"Dia memang gila," jawab Aoi.


"Tunggu! Tolong berhenti di situ!" pinta ibu dengan tegas.


"A-ada apa?!" tanya Kai, gagap.


"Ada apa dengan tanganmu, nak?" tanya ibu kembali.


"Oh. Em ..., ini ..., ini karena aku bertemu kucing gila di jalanan. Jadi aku mengelus elus kepalanya dan dia tak tahu berterimakasih hingga mencakar tangan ku," Lagi lagi Kai menjawab dengan suara gagap.


"Cukup!" Tegas Aoi dengan kepala tertunduk.


"Astaga! Aku sudah membangunkan dinosaurus yang telah lama punah!" ujar Kai dalam hati. Sekujur badannya gemetaran.


"Ada apa?" tanya Aiko dengan pelan.


"Ja-jangan begitu! Aiko akan mandi sekarang! Ayo waiter Meyla!" Balas Aiko lalu beranjak pergi.


"Aku akan pergi ke dapur dulu. Silahkan teruskan pembicaraan kalian," Setelah berkata begitu, Kai segera pergi.


Di taman belakang rumah.


"Huh ...," Aku dan Kai sama sama menghela nafas panjang.


"Sepertinya kau sama sekali tak dikhawatirkan," ujar Kai sambil melempar selimut besar di taman.


"Untuk apa?"


"Aduh ..., sedih sekali hidupmu ini," ucap Kai dalam hatinya.


"Tentu saja mereka tak khawatir. Aku memang tak perlu dikhawatirkan karena aku dapat berkelahi dengan sangat baik," Jelas ku dengan nada datar.


"Berkelahi dengan sangat baik? Kau yakin?" tanya Kai.


"Hm," Aku berdeham.


"Astaga, kenapa sekujur tubuhku kembali gemetaran?! Apakah ini yang dinamakan dengan iblis yang sesungguhnya?!" Kai berbicara sendiri dalam hatinya.


"Aku pernah belajar bela diri dan aku sudah tingkat tertinggi dalam perguruan ku," jawab ku.


"Ya Tuhan! Hampir saja meremehkan gadis ini! Untung saja aku tak jadi berkelahi dengannya kemarin malam! Kalau tidak pagi ini waiter akan menemukan tengkorak ku di dalam kamar! Arg! Tak bisa dibayangkan!" Kai berkata dalam hatinya sambil menggaruk garuk kepala.


"Lalu, bagaimana dengan sekarang ini?" tanya ku sambil melihat sekeliling.


"Hm, aku mengatakan kalau aku akan pergi ke dapur. Kau bisa diam di sini saja lalu muncul di ruang tamu dan berkata kalau kau sednag duduk di taman karena tak bisa tidur malam ini," jelas Kai.


"Baiklah. Kau boleh pergi,"


"Gadis ini," Kai mengelus dadanya, "Sudahlah, aku tak bisa apa apa lagi."


Kai pun beranjak pergi.


"Huh ..., mempunyai teman untuk berdebat juga menyenangkan sekali," ujar ku sambil tersenyum bahagia.


"Jelaskan sekarang?" Suara seorang cowok dari belakang Arika terdengar sangat jelas dan familiar.


"Ups!"