
"Apa yang kau lakukan?!" tanya ku, kaget melihat perlakuan Kai yang tiba tiba itu.
Ia menatap ku dengan tajam hingga membuat ku terdiam dan takut untuk berbicara lagi.
"Kau bodoh sekali ya!" Ia menyentil kepala ku dengan pelan sambil tersenyum.
"Heh?!"
"Lihat," Ia mengangkat tangan kanan ku, "Ini sudah merah loh!"
Aku menatapnya dengan datar. Ya, pikiran dan perasaan ku berbeda dengannya. Aku tak merasakan sakit sama sekali. Tapi kelihatannya dia merasakan sakit saat melihat seseorang yang bodoh sedang membuang buang waktu untuk melukai.
"Kembalilah ke kamarmu, di sana kau bisa menghembus hembusnya sepuas hati agar tidak merah lagi," jelas Kai.
"Heh?!"
"Oh! Aku tahu! Kau apsti bertanya, kenapa tidak di kamar ku, 'kan?" Kai tersenyum lalu melanjutkan kalimatnya, "Tentu saja tidak boleh! Pertama, kau ada di kamar cowok tampan seperti ku dan itu melanggar etika keluarga Shi! Kedua, jika kakakmu tahu, aku bisa saja diusir bahkan dihukum mati. Ketiga, jika kau menghembusnya di sini, bau nafas Arika si gadis datar akan tertinggal di sini dan itu membuat ku serasa sedang dicekik!"
Aku yang merasa kesal mendengar perkataan Kai, langsung mengambil bantal yang ada di samping ku lalu membantingkan bantal itu dengan keras di kepala Kai.
"Kau gila ya?!" Ia bertanya sambil mengelus elus kepalanya.
"Jaga bicaramu! Tak peduli kau siapa, jika berurusan dengan ku, jangan membuat ku terhina atau kau," Aku mengambil pisau pengupas dan pemotong buah di meja lalu mengarahkannya di leherku.
"Jangan! Jangan bermain main dengan pisau itu! Jika kau,"
"Kau yang jangan bermain main!" Sanggah ku dengan cepat.
"Turunkan dulu pisaunya!" pinta Kai.
"Cih! Gadis bodoh dari mana yang rela melukai dirinya hanya untuk membuat pelajaran?" tanya ku lalu menaruh pisau itu kembali ke meja.
"Huh ...," Kai menghela nafasnya.
Aku kembali melihatnya dengan datar.
"Em ..., apa yang ingin kau katakan?" tanya Kai dengan pelan.
"Siapa kau?!"
"Wuah! Tak ada basa basi?!" Kai kaget dan memasang wajah sedihnya.
"Jawab!" Tegas ku.
"Aku adalah ...,"
"Cepat!" Sanggah ku.
"Aku juga mau menjawabnya! Kau saja yang memotong pembicaraan ku!" ucap Kai, kesal.
"Baiklah, baiklah ..., itu salah mu!" balas ku.
"Terserah kau saja ...," Kai yang malas berdebat langsung menyerah dengan wajah lelahnya.
"Ya Tuhan! Aku kaget!"
"Cepat jawab!"
"Huh ..., aku adalah Sekai, teman sekelas Arika si iblis. Aku juga tampan loh!" Jelas Kai dengan bangga.
"Pufffttt," Aku menahan tawa ku.
"Kenapa?! Kau tak percaya?!"
"Tidak," jawabku dengan datar.
"Yang benar saja!"
"Baiklah, baiklah ..., kau menang," timpal ku.
"Sama sekali tidak nyambung!" ucap Kai.
"Keluarlah," pinta ku dengan pelan.
"Heh?!"
"Cepat," Tegur ku.
"Ini kamar ku!" balas ku.
"Tidak! Ini kamar yang diberikan oleh senior Aoi padaku!" Kai menegaskan.
"Tidak! Ini kamar tamu!" Aku ikut menegaskan.
"Kamar tamu, 'kan?! Berarti ini kamar ku karena aku tamu!"
"Kau bukan tamu!" Aku menarik kedua telinganya dengan kuat.
"Aku! Tamu!" Kai menarik pipi ku dengan kuat.
Tiba tiba, pintu kamar terbuka.
"Apa yang kalian lakukan?!" tanya Aoi dengan emosi.
"Kak Aoi,"
"Senior Aoi,"
"Cepat jelaskan!" tegas Aoi.
"Aoi!" Terdengar teriakan ibu memanggil nama Aoi dengan suara yang besar.
Aoi terkejut karena takut dipukul oleh ibu. Ibu suka memukul Aoi jika lama tidur.
"Kalian beruntung malam ini! Besok, jelaskan padaku!" Aoi beranjak pergi dengan wajah kesal.