
Aku melihatnya secara teliti.
"Iya, 'kan?" tanyanya.
Aku masih berusaha berpikir dan mengingat cowok itu.
"Kau mengingat ku, 'kan?!" Ia bertanya dengan wajah serius.
"Oooo!" Aku membalikkan badan ku.
"Puji yang dipuji! Untung saja kau mengingat ku!" ujarnya sambil memukul pundak ku dengan kuat.
"Kai!" Tegur Aoi dengan wajah kesal.
Kai tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.
"Maaf, aku tidak mengingat mu sama sekali," timpal ku dengan datar.
"Seriously?!"
Aoi berusaha menahan tawa sambil berbicara, "Adik ku memang yang terbaik!"
"Kak Aoi bicara apa sih?!" Aku memanyunkan bibir ku.
"Kita teman sekelas!" Ia menjelaskan dengan tegas.
"Tidak ingat!" jawab ku.
"Aku cowok populer kedua setelah senior Aoi! Kau ingat?!" tanyanya lagi.
"Tidak ingat!" Aku menjawab sambil melirik cowok itu.
"Aku orang pintar di dalam kelas. Kau ingat?!" Ia bertanya sambil memegang kaki ku.
"Hanya dalam kelas saja!" ledek ku dengan sinis.
"Bagus! Kau sekarang ingat, 'kan?!" tanyanya kembali dengan mata yang berbinar binar.
"Tidak ingat!" jawab ku, cetus.
Kai terjatuh lalu duduk di lantai.
"Ckckck. Bagaimana? Kau teman sekelas saja sudah diperlakukan begini oleh adik ku. Kau belum tahu bagaimana ia memperlakukan aku dan kedua orang tua ku dulu loh," Aoi meledek.
"Huh!" Kai memasang wajah kesalnya sambil melipat kedua tangannya di dada dan membuang muka.
"Kau marah?" tanya ku.
"Tidak!" jawabnya cetus.
"Lalu,"
"Terserah saja! Aku tidur dulu!" Tegas ku lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Aku pergi, Aoi tertawa sebesar besarnya bermaksud meledek Kai yang sedang marah karena tak di ingat oleh ku.
"Kau gila?!" Kai menggerutu.
"Cup ..., cup ..., cup ..., adik kecil tidur saja. Jangan nangis!" Ledek Aoi.
"Oh? Baiklah! Dasar senior tak ada akhlak!" Setelah berkata begitu, Kai beranjak pergi meninggalkan Aoi.
"Sial! Aku menyuruhnya pergi tanpa menyuruhnya memakan semua ini! Arg!" Aoi yang tersadar langsung menggerutu sambil menggaruk kepalanya.
Di dalam kamar tamu, Kai berbaring di atas tempat tidur berwarna pink itu sambil melihat langit langit rumah.
"Huh ..., aku tak bisa tidur kalau kamarnya begini," Kai menghela nafas panjang.
Malam itu, banyak bintang. Bahkan tanpa lampu pun, bintang itu mampu menyinari kamar yang di tempati oleh Kai.
Tiba tiba, Kai tertawa, "Astaga! Hari ini kak Aoi banyak tertimpa masalah sepertinya! Ah ..., biarkan saja dia menghabiskan semuanya! Ckckck! Tunggu! Aku hampir saja melupakan si Arika jahat itu!"
Dari luar, terdengar suara ketukan pintu.
"Tak menerima siapa pun," balas Kai sambil menutup telinganya menggunakan bantal.
Ketukan pintu itu terus menghantui Kai. Sudah 1 jam semenjak Kai menegur orang itu.
"Orang gila dari mana yang mau mengetuk pintu selama 1 jam?! Apa aku harus membukanya?!"
Kai yang merasa kesal langsung berjalan menuju pintu lalu membuka pintu itu dan langsung saja memarahi orang itu dengan mata tertutup.
"Berisik sekali! Kau tahu sekarang jam berapa?! Kenapa berisik sekali?! Aku ingin tidur dan jangan mengganggu ku!"
"Oh?"
"Heh?!"
Dalam kamar itu, serasa hening. Tak ada yang dapat membuka mulut untuk memulai percakapan.
Kai yang mulutnya tak bisa diam itu merasa tak tahan dengan suasana hening tanpa kata kata yang rame sedikit pun langsung saja bertanya dengan pelan, "Kenapa tak bilang kalau itu adalah kau, Arika?"
Aku memutar bola mata ku.
"Kau mengetuk selama itu loh! Kenapa tak bilang?!"
"Hemat energi," Aku menjawab dengan datar dan singkat.
Tiba tiba, Kai menarik tangan ku hingga membuatku berada tepat di depannya.