Burden Of Love

Burden Of Love
Burden Of Love



 


11, November 2006, tanggal, bulan, dan tahun itulah senyum yang penuh kebahagiaan yang terpancar dariku, hilang.


 


Aku terdiam dengan permen lollipop yang masih ada di dalam mulutku. Suara pecahan kaca memenuhi telingaku. Percikan darah mengenai pipiku.


Mungkin, itu bukanlah hal yang harus di lihat oleh anak berumur 4 tahun.


 


"Arika Kanna Shinichi!" teriak seorang gadis memanggil namaku sambil berlari.


Langkahku terhenti karena teriakannya. semua mata beralih ke arahku.


 


aku masih terdiam menunggu dan mendengar apa yang akan disampaikan gadis itu sampai harus membuatnya mengejarku.


 


"Maaf ..., ja-jangan marah padaku!" ucapnya gugup dengan nafas terengah engah.


Aku mengangkat alisku pertanda bertanya, ada apa?


Ia gemetaran lalu berusaha menyampaikan apa yang membuatnya memanggil iblis di sekolah itu, "Em ..., aku, aku hanya ingin memberitahukan kepadamu kalau aku menemukan barangmu yang terjatuh di dalam kelas tadi!"


Arika melihatnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Orang manapun bisa saja meledeknya karena sekujur tubuhnya gemetaran. Tak tahu Arika berbuat apa padanya. Padahal dia lebih tinggi dari Arika.


"Ja-jangan menatapku begitu! Aku kikuk!" ujarnya, malu.


Aku berjalan ke arahnya.


 


Tepat dihadapannya, aku berkata pelan seperti berbisik di dekat telinganya, "Apa?"


 


Seketika matanya langsung berbinar binar dan ia berteriak dengan keras, "Dia berbicara padaku!"


Aku emosi. Ia membuat aku, si iblis yang paling ditakuti semua orang menjadi perhatian satu sekolah dan yang pasti ini semua karena si tiang listrik ini!


"Dia berbicara dengan anak pungut keluarga Shi! Apa pantas jika anak dari keluarga Miller bahagia hanya dengan ucapan iblis?!" bisik salah seorang murid cowok kepada yang lain.


"Arika ..., ja-jangan marah! Aku ..., aku salah!" ucapnya gagap.


Emosiku tak mampu ku bendung lagi. Segera ku tarik dasinya dan berkata, "Kau!"


"Apa yang kau lakukan dengan adikku, anak pungut?!" tanya seorang cowok seperti gaya berandalan yang datang tiba tiba.


"Tuan muda keluarga Miller, si ahli waris! Ckckck! Kasihan sekali anak pungut itu jika bertemu Zhyro Miller!" bisik para murid cewek.


"Apa yang kau perbuat dengan adikku?!" tanyanya lagi sambil menarik kasar rambutku.


"Kakak! Hentikan!" tegas adiknya sambil menarik tangan kakaknya agar melepaskan tarikan dari rambutku.


"Kau, banci dari mana?" tanyaku dengan nada pelan tanpa meringis kesakitan saat rambut ditarik.


"Kurang ajar!" ucapnya dengan nada tegas tanpa melepas tarikannya dirambutku.


"Kau mau apa?" tanyaku sambil mengeluarkan pisau kecil dari dalam rambutku.


"Dia! Dia memang iblis!" teriak semua murid.


"Zhyrea, ayo pergi!" ucapnya pada adik perempuannya lalu melepas tangannya dari rambutku.


Tersenyum sinis, "Cih!"


 


***


 


Di dalam toilet cewek, di depan cermin.


"Apa aku menyeramkan?! Apa semua karena rambut yang digulung lalu aku memakai bandana ini?! Apa karena tinggi badanku hanya 147?!" tersenyum dengan raut wajah sedih lalu menampar dengan keras pipiku sendiri, "Atau karena aku hanyalah anak pungut?!"


Dari luar toilet terdengar suara seorang cowok memanggil namaku dan suara itu terdnegar tidak asing.


"Kannachi!" teriaknya dengan suara yang lebih besar.


"Arg! Baru terlepas masalah yang satu, yang ini muncul lagi! Sial!" ucapku.


 


Aku berjalan menuju pintu toilet lalu membuka pintu itu.


 


"Kenapa lama sekali?!" tanyanya dengan raut wajah yang terlihat sangat jelas kalau ia sedang kesal.


"Ini adalah toilet cewek. Bilang saja kalau mau BAB. Ouh, lupa dengan toilet cowok? Baik, baik ..., akan aku beritahu," jelasku dengan nada datar.


Menyentil dahiku, "Jangan sok terlihat cool!"


Aku menggosok gosok dahiku. Dengan wajah yang kekanak kanakan, aku memarahinya, "Jangan seenaknya saja! Aku teriak ya kalau dipukul lagi!"


"Teriak saja!" ia memukul kepalaku dengan kamus yang sangat tebal.


"Huaa. Aku akan melapor nanti!" rengekku sambil menggembungkan pipi.


"Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat. Sekarang, kau jelaskan! kenapa kau bisa melukai anak dari keluarga Miller?!" tanyanya, serius.


"Aku tak melukainya!" jawabku.


"Kau melukainya, Kanna! Semua orang mengatakan hal yang sama! Jujur saja, aku tak akan menghukummu," jelasnya.


"Kau mempercayai mereka?! Oh! seriously?! Kau tahu, 'kan mereka membenciku? Kau tahu kalau benci dapat membutakan segalanya?! Aku benar benar tidak melukainya!" balasku dengan suara yang besar.


"Tunggu!" ia menutup hidung, "Kamar mandi sekolah memang tidak ada yang aman!"


"Dia adalah Aoi Shinichi, pintar dalam segala hal, jago basket, idola sekolah, cowok yang selalu dibanggakan guru dan murid murid cewek, dia juga tinggi, gaya yang selalu cool dengan earphone berwarna hitam yang selalu ada mengelilingi lehernya, dan dia yang membuatku masuk ke dalam keluarga itu.


"Saat itu, ayah dan ibunya sedang mengajaknya liburan di tempat itu. Tak sengaja aku dan mereka bertiga berjumpa. Awalnya ayah dan ibunya mengajakku mengobrol dan bertanya di mana keluargaku dan lama kelamaan ibunya sepertinya menyukaiku. Ia memaksa suaminya untuk mengangkatku menjadi putri mereka. Dengan cepat ayahnya setuju dan mengajukan permintaan agar aku mau masuk ke dalam keluarga Shi. Aku menggeleng cepat, pertanda tak mau. Tetapi saat melihat kak Aoi yang sedang mengelus elus kepala kucingnya, aku menjadi tertarik masuk ke dalam keluarga Shi. Ibunya senang sekali begitu juga dengan ayahnya,"


 


Memukul kepalaku dengan kamus, "Jangan melamun! Ayo pindah tempat!" pintanya.


"Jangan muncul dihadapanku! Itu membuatku tak bisa menahan mulutku!"


Tertawa kecil, "Kau siapa? Kenapa mengatur?!"


Aku terkejut. Ku tundukkan kepalaku lalu berkata, "Ya, aku bukan siapa siapa. Aku hanya anak yang dipungut oleh keluarga Shi dan dijadikan putri dari kedua orang tuamu."


"Kanna ..., aku ...,"


"Tak apa, aku benar benar tak apa. Oh ya, memang aku lah yang melukai adiknya. Jadi jangan khawatir. Sesampainya di rumah aku akan menerima 20 cambukkan. Aku berjanji," jelasku.


"Ada apa dengan pipimu?!" ia menatapku tajam seakan tak suka bila pipi yang putih itu terlukis telapak tangan.


"Sudah ku katakan kalau aku tak apa! Aku pergi!" jawabku, kesal lalu beranjak pergi.


"Itu bukan dia ..., pasti Zhyro sudah berbuat sesuatu hingga membuat adik tersayangku ingin berteriak di atas gedung!" ucapnya dengan nada suara keras.


 


***


 


Jam pulang berbunyi, semua murid murid berteriak kegirangan. Ya you know lah, itu adalah jam di mana semua murid menantikannya! Jaman sekarang adalah jaman di mana sekolah bagi murid hanya di pergunakan sebagai penghasil uang saku.


"Tugas di rumah, kerjakan saja tugas individu dihalaman 105. Besok dikumpul!" ucap bu Jinka, guru Matematika.


"Lusa aja bu!" mereka memelas.


"Tugas tambahan, halaman sebelah. Baik, silahkan pulang," ucap bu Jinka sambil memegang bukunya.


Aku berdiri dari kursiku lalu mengenakan jaket ala Jepang, kemudian mengemasi barang barangku.


Arika langsung mengambil pena lollipop itu dari tangannya lalu beranjak pergi tanpa berterimakasih sama sekali.


Tepat di depan pintu, langkah Arika terhenti karena Zhyro berada tepat dihadapannya.


Melihat adiknya, "Apa yang kau lakukan terhadap adikku kali ini, anak pungut?!"


Aku terdiam sambil melihat ke arah jendela.


Zhyro yang merasa diacuhkan oleh Arika langsung saja berbuat tidak senonoh. Ia mencekik Arika sambil mendorong Arika kembali ke dalam kelas di mana adiknya, Zhyrea sedang memegang tangannya sambil menangis pelan.


"Kakak hentikan! Jangan lakukan itu! Arika tidak bersalah!" pintanya.


"Zhyrea! Kau terluka!" tegasnya kepada adiknya.


"Ini hanya goresan! Bukan luka besar yang harus dipermasalahkan!" balasnya.


"Drama jenis apa lagi ini?" tanyaku dalam hati.


"Gadis ini ..., dia tidak mengeluh saat aku melakukan hal kasar padanya! Sebenarnya terbuat dari apakah hati anak pungut ini?!" tanya Zhyro dalam hati.


"Zhyro, lepaskan dia!"


"Senior Aoi!" ujar Zhyrea, kaget.


"Lepaskan dia!" tegasnya lagi.


"Aoi! Kau tahu, 'kan kalau adikmu ini otaknya bermasalah?" tanya Zhyro kepada Aoi yang sedang bersandar di dinding kelas.


Zhyro mencengkram leher Arika semakin kuat hingga membuat Arika kesulitan bernafas dan membuat kaki Arika bergerak ke sana kemari.


Kepalan tangan mendadak mendarat tepat di leher Zhyro.


"Ah! Kakak?!" teriak Zhyrea, kaget.


"Kalau Aoi Shinichi sudah memberi perintah, laksanakan. Jika tidak, titik lemah kehidupanmu ...," tersenyum sinis, "Jaga kakakmu. Jangan buat dia mengganggu adikku. Dengarkan, aku menarik Joint Venture yang kita buat. Kau tahu, kau sudah membuatku berubah pikiran secepat ini. Aku tidak jadi membeli saham dari kalian. Banyak perusahaan lain yang membutuhkan aku untuk membeli saham mereka. Jadi, selamat tinggal!"


"Senior, mohon ampuni kakakku! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan," pintanya sambil menangis.


Arika memegang tangan Aoi. Aoi paham apa maksud Arika.


"Zhyrea, aku akan memaafkan perbuatan kakakmu kali ini. Tetapi, aku tidak akan membiarkan dia berbuat apa pun yang dia mau. Tentu harus ada efek samping, bukan?"


"Efek samping?" tanya Zhyrea sambil memegang tangan kakaknya.


"Pertama, perbuatannya harus diberitahu kepada ayahmu. Kedua, aku tetap menarik Joint Venture yang dibuat olehku. Ketiga, aku kembali merubah pemikiranku. Aku, jadi membeli saham dari kalian. Tapi ingat, yang pertama dan kedua tak dapat di ubah lagi!" jelas Aoi.


"Ckckck. Tak apa, dia sama sekali tak memiliki bukti apa pun!" ujar Zhyro dalam hati.


"Kannachi, ayo pergi. Kemari," Ia menarik tanganku lalu membawaku ikut berlari bersamanya.


"Kak Aichi! Kenapa kakak tidak muncul dari awal?!" gerutuku kepadanya sambil menggembungkan pipi.


"Bukannya kau si ikan buntal dapat menahan sesuatu untuk mengulur waktu?" tanyanya sambil tersenyum licik.


"Cih, cara itu lagi! basi! Jangan memanggilku ikan buntal!" gerutuku lagi.


"Jangan keras keras. Lehermu masih sakit ..., maafkan aku karena membuatmu mengulur waktu," timpalnya lalu memelukku.


Aku membalas pelukkannya dan berkata, "Tak apa. Sudah ada saat itu saja sudah membuatku bahagia. Dengar, mereka berdua pengkhianat!"


"Kanna, jangan selalu berpikir buruk jika belum pasti. Besok malam, kau harus temani kakak pergi ke acara tahunan keluarga Miller. Kita akan beraksi di situ!" jelasnya lalu melepas pelukannya.


Aku mengangguk pelan, menyetujui permintaannya.


 


\*


 


Sesampainya di dalam mobil.


"Tuan, nona ..., kenapa lama sekali hari ini?" tanya supir pribadi yang bertugas mengantar dan menjemput ketiga anak dari majikan di rumah dengan wajah khawatir.


"Terjadi banyak hal," jawab Aoi singkat.


"Baiklah ...," balas supir itu dengan wajah yang penuh keringat.


"Apakah mobil ini belum di service sehingga AC mobil pun tak bisa mendinginkan anda?" tanya Aoi, bingung.


"Tidak, bukan begitu ...,"


"Kau membuatku menjadi kesal. Baiklah aku akan mempercayaimu jika kau menjawab ini, Pada tahun berapa aku ketahuan BAB di celana?"


"Pada tahun 2006, dua hari sebelum nona Arika masuk ke dalam keluarga anda tuan, keluarga Shi," jawabnya dengan wajah yang masih saja terlihat khawatir.


"Apa yang di khawatirkan? Aku merasa tak nyaman," ujar Aoi sambil memasang wajah bingungnya.


"Tidak ada tuan. Perut saya hanya sakit saja," jawabnya.


Aoi mengangkat dagu Arika dan berkata, "Apakah masih sakit?"


"Wah romantis sekali! Aku akan memberitahu ayah dan ibu soal kabar ini nanti!"


Mendengar suara itu, Aoi dan Arika kaget dan langsung berdiri dari tempat duduk mereka.


"Ah ..., ketahuan! Terimakasih pak supir karena sudah membantuku berbohong!" ujarnya, santai sambil tersenyum.


"Aiko kecil ..., kenapa kau bisa berada di sini?!" tanya Aoi.


"Itu karena kepintaran yang ada dalam diriku!" lagi lagi ia menjawab santai.


"Aiko kecil, bagaimana caramu berbohong?" tanya Arika dengan nada pelan.


"Bento kak Arika tadi tertinggal di dalam kamar dan pak supir meminta bento kakak kepada salah satu pelayanku. Karena tidak ketemu, aku memerintahkan mereka bertiga untuk mencari bersama. Di balik itu, aku punya niat jahat tentunya! aku meminta kepada pak supir agar memasukkanku ke dalam tas lalu membawaku bersamanya untuk menjemput kak Aoi dan kak Arika. Begitulah ceritanya ...," jelasnya panjang lebar.


"Apakah ibu tahu kau ikut untuk menjemput kami?!" tanya Aoi, marah.


"Kakak ..., aku hanya bosan di rumah. Ibu tidak mengetahui hal ini. Ku mohon, jangan marah padaku ...," pintanya sambil menangis ala anak kecil.


"kak Aichi, jangan memarahinya lagi ..., dia masih anak anak," ujarku berusaha menenangkan kak Aoi.


"Kau tau bagaimana jika pohon kecil yang bengkok tidak dicangkok?! bengkoknya akan keterusan sampai pohonnya besar dan jika sudah besar, akan sulit membentuknya untuk menjadi lurus lagi!" balasnya.


"Kak Aoi ..., aku benar benar menyesal. Setelah ini aku akan meminta maaf pada ibu dan menerima hukuman darimu ...,"


Menggaruk kepala, "Aku akan menghukummu karena sudah membohongi ibu! Pulang ke rumah, berlututlah dihadapan ibu dan minta maaflah. Setelah itu, datang padaku. Aku juga punya hukuman untukmu!"


"Kak Aichi ...," tegurku secara halus.


Ia tersenyum pasrah, "Tenang saja ...,"


"Tuan, saya mohon ampun. Itu bukan sepenuhnya kesalahan nona Aiko. Itu kesalahan saya karena sudah membiarkannya ...," ujar pak supir.


"Tidak, anda tidak bersalah. Adik saya saja yang otaknya bermasalah," jawab Aoi, singkat.


"Tuan, kita ke mana sekarang?" tanya supir itu dengan nada suara yang terdengar gemetar.


"Tentu saja balik ke rumah!" jawab Aoi, tegas.


"Tidak. Kita akan pergi ke taman bermain keluarga Shi. Segera!" timpalku dengan kepala tertunduk.


Tersenyum, "Baik ...,"


"Aku paham, aku paham. Gadis bodoh ini ..., menyayangi anak kecil!" gumam Aoi dalam hatinya.


"Kak Arika memang yang terbaik!" sahut Aiko, bahagia.


Tersenyum, "Apa pun untuk Arika."


"Kak Aoi ..., jika kakak memberiku hukuman yang sangat menyiksa, aku akan memberitahu pada ayah dan ibu kalau kakak jatuh cinta pada kak Arika!"


"Aiko kecil! Kau tau dari mana soal cinta cintaan?! Kau ingin aku memberitahumu pada ibu soal ini?!" ancam Aoi.


"Ampuni aku ..., aku salah, huhuhu ..., aku salah," ucapnya mengakui kesalahan.


Tersenyum.