Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 13



"Nona ..., Sixty itu enam puluh. Jefira, bantu nona berganti pakaian. Aku akan menyiapkan makan malam sekarang," jelas Jefina.


"Ba-baik!" jawab Jefira, gagap.


Jefina menundukkan kepalanya lalu beranjak pergi.


"Sixty itu siapa? Kenapa membuat dua pelayan ku gemetaran?" tanyaku dalam hati.


Arika pun berganti pakaian dibantu oleh Jefira.


"Nona, bagaimana acara pesta tadi?" tanya Jefira sambil memperbaiki piyama Arika.


"Biasa saja," jawabku singkat.


"Nona duduklah dengan tenang di sini. Aku akan membantu waiter Jefina untuk menyiapkan makanan," jelas Jefira lalu menundukkan kepalanya dan beranjak pergi ke dapur.


"Di mana kak Aoi?" tanyaku dalam hati.


***


Di sisi lain, di kediaman Miller.


"Tuan? Anda kembali ya?" tanya seorang satpam.


"Buka pintunya!" tegas Aoi.


"Hm, silahkan tuan muda keluarga Shi," ujarnya seakan meledek.


"Tidak di buka ya?!"


Aoi yang merasa kesal langsung menendang pintu itu hingga jatuh ke lantai.


"Pintu berkualitas rendah dan murah begini ada di kediaman Miller?!" Ledek Aoi kembali.


Semua mata yang ada di dalam ruangan itu tertuju pada Aoi. Musik berhenti dan dansa pun ikut berhenti.


"Ada apa ini?! Kenapa anda tidak sopan sekali?! Siapa yang mengajari anda begini?! Apa ayah anda?!" tanya ayah Zhyro dengan kezal.


Aoi mengambil handphone yang ada di dalam sakunya lalu berkata, "Ayo katakan hal yang tidak tidak lagi!"


"Tuan muda apa maksudmu?!" timpal ibu Zhyro, marah.


"Tuan muda ..., aku menyukaimu!" Teriak Zhyrea.


"Hah?!" Semua orang kaget mendengar perkataan gadis tinggi itu.


"Anakku! Apa yang kau katakan?! Itu adalah musuh! Musuh!" tegas ibu Zhyro.


"Jangan anggap biasa saja! Aku lebih berharga di mata siapa pun!" tegasnya.


"Oh ya? Kalau begitu, bagaimana kalau aku tidak percaya?" tanya Aoi.


"Aku akan melakukan apa pun untuk membuktikan kalau aku menyukaimu!" Ia menjawab dengan yakin.


"Bagus, bagus! Kalian semua, tepuk tanganlah! Ini masih pertunjukkan yang kedua!" Aoi berbicara dengan suara yang besar.


Semua pejabat dan pemilik perusahaan perusahaan terkenal itu langsung mengikuti apa yang dikatakan oleh Aoi. Mereka bertepuk tangan.


"Aku akan percaya ketika kau melakukan hal yang ku minta ini!" ujar Aoi, santai.


"Asal tuan muda Aoi menepati janji, aku akan melakukannya," jawab Zhyrea dengan kepala yang tertunduk.


"Baiklah, lepas pakaianmu!" balas Aoi.


"Tuan muda Aoi! Permintaanmu ini tidak masuk akal! Zhyrea!" Ibu Zhyro mulai menangis.


"Tentu saja masuk akal. Jika memang tidak bisa melakukannya maka *handphon*e ini akan membuktikan semuanya loh!" jelas Aoi sambil tersenyum sinis.


"Aku akan melakukannya!" tegas Zhyrea.


Ia membuka kancing pertama belakang bajunya.


Bajunya pun sudah sebatas buah kalung yang ia pakai.


"Sial! Keluarkan handphone kalian! Cepat rekam atau foto!" bisik seorang pria gendut.


"Tidak boleh ada handphone. Jika kelihatan, tentu saja kau harus ikut bermain loh!" timpal Aoi.


"Sial!" Pria gendut itu menggerutu.


"Baiklah, teruskan!" sambung Aoi.


Zhyrea kembali melepaskan pakaiannya. Bahkan hampir kelihatan.


Aoi berlari ke arah Zhyrea lalu memakaikan jas yang dipakainya itu dan berkata, "Apa yang kau lakukan?!"


"Tapi ..., anda yang meminta tuan!" jawab Zhyrea.


Aoi tersenyum, "Jangan lakukan itu lagi. Itu akan membuat masalah semakin panjang dan buruk loh!"


Zhyrea dengan cepat memalingkan wajahnya. Pipinya merah muda. Ia malu akan perkataan Aoi.


"Jangan mudah percaya karena handphone tetap bekerja sesuai rencana. Jangan memanfaatkan keadaan, Zhyrea Miller!" timpal Aoi dengan senyuman.