
Aku berjalan masuk ke dalam kelas tanpa memperdulikan senior yang ada di dalam kelas.
"Hei! Junior begitu sopan sehingga menginjak kaki senior ya," ucap salah seorang cewek. Rambutnya terurai panjang dan ia mengenakan rok yang sangat pendek serta baju sekolah yang ketat.
Walaupun ini adalah Gold High School, bukan berarti mereka Free berpakaian seperti itu, 'kan?
"Jangan melamun!" tegasnya.
"Rok dan bajumu ...," ujarku pelan sambil melihatnya dari atas sampai ke bawah.
"Iblis berbicara! Ini adalah pertanda buruk!" bisik salah seorang murid perempuan.
Aoi masih terdiam di tempat seperti orang tak peduli dengan sekitarnya.
"Kenapa?! Kau belum tahu aku siapa?! Ini, baca!" gadis itu melengketkan secarik kertas di dahiku dengan kasar sambil menekan keras.
"Erika ..., jaga sikapmu!" tegas Aoi.
"Aoi ..., aku, aku ...,"
"Erika, kita ..., putus saja," ujar Aoi dengan nada datar.
"Aoi! Kenapa kau membelanya?! Dia hanyalah anak pungut! Ku mohon, jangan putuskan aku!" jawabnya sambil menangis.
"Itu bukanlah jawaban yang tepat. Katakan saja kalau kau setuju. Oh ya, jangan menyebut adikku dengan sebutan, anak pungut!" tegas Aoi lagi.
"Arika ..., kau Arika, 'kan?" tanyanya kembali terisak.
Aku mengangkat alisku pertanda bertanya, ada apa?
"Arika, ku mohon ..., bilang pada kakakmu agar dia tidak memutuskan hubungan denganku! Ayo!" paksanya.
"Dengar, kau selamanya tak akan mendapatkan dia lagi, dia milikku," jawabku singkat lalu beranjak pergi keluar kelas itu.
"Iblis itu benar benar mengerikan! Berani sekali dia berbicara begitu dengan ketua osis yang juga sepupu dari kepala sekolah kita!"
"Habislah dia!" sahut murid lain.
Aku berjalan dengan tenang tetapi batinku berkata, "Aku akan berhadapan dengan lawan yang kuat sepertinya. Cih!"
"Arika!" teriak Aoi sambil berlari ke arahku.
Aku menolehnya.
"Huh ..., huh ..., cepat sekali jalannya!" ujarnya terengah engah.
"Tidak cepat kok. Ada apa?" tanyaku.
"Kau bilang tidak cepat?! Pada saat kau keluar, aku juga mengikutimu dari belakang. Kau berjalan cepat hingga membuatku berlari! Huh!" gerutunya.
"Ada apa denganmu?" tanyanya.
"Tidak, tidak! Lupakan saja!" jawabku, malu.
"Hm ...," Ia berdeham, "Katakan!"
"Benar benar tidak apa apa! Aku hanya lupa mengatakan mengapa aku pergi ke kelas kak Aoi," jawabku.
"Oh ya, kenapa datang di kelasku?"
"Aku ingin mengajakmu makan siang di kantin kalau jam istirahat. Mau pergi bersama?" jawabku, mengajak.
"Sip! Ayo pergi!" ajaknya kembali.
"Hei, aku mengajak kalau jam istirahat!" jawabku datar.
"Ah, maaf ...," Ia menggaruk kepalanya lalu kembali bertanya, "Kenapa kau tidak terkejut saat mengetahui kalau Erika adalah pacarku?"
"Untuk apa? Apa itu sesuatu yang penting?" tanyaku kembali.
"Tentu saja! Kau seharusnya marah kenapa aku tidak memberitahumu!" jawabnya cetus.
"Ah, aku pergi dulu. Buang buang waktu saja membahas gadis norak itu!"
***
Jam istirahat.
"Huh! lama sekali ...," ujar Aoi yang ternyata sudah sampai di kantin lebih dulu.
"Maaf lama," ujarku dari belakangnya.
Aoi kaget, ia berdiri dari kursinya dengan wajah bodoh.
"Astaga, aku ingin tertawa! Aku benar benar ingin tertawa!" ujarku dalam hati sambil berusaha menahan tawa.
"Kau!" gerutunya dengan tangan yang ia kepal.
"Tunggu! Aku benar benar tak tahan untuk tertawa!" ujarku semakin panik.
"Hei?!"
"Maaf," Seketika aku tertawa. Semua orang melihatku dengan tatapan jijik.
"Hei, hei, suara tawamu jelek sekali loh!" ujarnya dengan tatapan biasa.
Aku menutup mulutku lalu berkata dalam hati, "Wuaaa! Aku baru sadar, jika aku menahan tawaku, maka hasilnya akan jelek jika di keluarkan!"