
"Maaf mengganggu anda, nona," ucap Jefira dengan pelan.
"Wuaaa!" Teriak ku dan Kai serentak.
"Maaf mengejutkan anda, tuan, nona," timpal Jefina.
"Jangan meminta maaf lagi. Kalian sedang apa di sini?" tanya ku tanpa basa basi.
"Menjemput anda," jawab Jefina dan Jefira serentak.
"Heh?!"
"Tunggu! Apa kalian ingin mengunci anak ini di kamar?!" tanya Kai, memastikan.
"Kami tidak akan berbuat hal bodoh seperti itu, tuan," jawab Jefira.
Aku menahan tawa mendengar Jefira mengatakan kalau perkataan Kai seperti hal bodoh.
Kai mencubit pipi ku dengan kuat, "Jangan meledek ku!"
"Kak Aoi!" Aku merengek.
"Tuan, ma-maaf! Saya tidak bermaksud mengatai anda bodoh!" ucap Jefira dengan suara yang bergetar.
"Santai saja," Kai tersenyum sambil mengedipkan matanya pada Jefira.
Jefira mengangguk pelan.
"Baiklah nona, pelajaran pertama anda sudah terlewatkan di sekolah. Sekarang anda harus bergegas mandi dan pergi ke sekolah untuk mengikuti pelajaran kedua," Jelas Jefina.
"Saya akan menyiapkan sarapan anda," timpal Jefira.
Aku dan Kai menatap satu sama lain dan tiba tiba kami berdua berteriak kaget, "Sekolah!"
"Bagaimana ini?! Bagaimana ini?!" tanya ku dan Kai serentak.
"Nona, tuan, tenanglah. Kami sudah menyiapkan segalanya dan meminta izin untuk pelajaran pertama di sekolah. Anda harus bergegas. Untuk tuan Kai, kami sudah menyiapkan dua pelayan pria untuk membantu anda," Jefina menjelaskan.
"Pelayan ini?" tanya Kai sambil menunjuk dua pelayan pria yang ada di samping Jefira dan Jefina.
"Iya. Apa ada masalah, tuan?"
"Kenapa tidak pelayan perempuan saja?" tanya Kai sambil merengek.
Aku yang mendengar itu langsung meninju wajah Kai dengan kuat.
"Tuan?! Tuan baik baik saja?! Tuan!" ujar Jefira dan Jefina, khawatir.
"Jangan terlalu peduli pada seorang tamu!" ucap ku, marah.
"Sudahlah, aku ingin pergi ke kamar ku untuk mandi!" sanggah ku dengan cepat.
Jefina dan Jefira menundukkan kepalanya pada Kai lalu beranjak pergi.
Kai melempar batu ke arah Jefina dan Jefira hingga membuat kedua pelayan itu berbalik dan melihatnya.
"Tolong sembunyikan rahasia ini!" bisik Kai.
Jefira dan Jefina pun mengangguk lalu beranjak pergi.
Di meja makan.
"Cepat sekali kau selesai!" ujar Kai yang baru saja keluar dari kamarnya sambil menyeka rambutnya yang masih basah itu.
"Kau sendiri, lambat. Sama seperti perempuan saat mandi," ledek ku.
"Kau sendiri, tidak normal! Pasti kau mandi ala angsa, 'kan?!" ledek Kai, kembali.
"Enak saja!" timpal ku.
Kai memberikan handuk kepada salah seorang pelayan pria itu dan mereka kedua pelayan itu pun segera beranjak pergi.
"Silahkan duduk, tuan," ucap Jefina.
Kai duduk tepat di hadapan ku. Aku yang merasa kesal langsung saja menginjak kakinya dengan kuat hingga membuat lututnya terbanting di langit langit meja.
"Kenapa? Kau sepertinya tidak enak badan," ucap ku dengan wajah meremehkan.
"Kau!"
"Nona, tuan, cepat habiskan makanannya atau dalam 5 menit anda akan terlambat," timpal Jefina.
"What?!" Aku dan Kai berteriak.
"Yaps,"
Aku dan Kai dengan cepat makan. Jika dilihat, kami makan seperti orang yang tak pernah makan.
Tiba tiba, aku tersedak dan Kai menertawakan ku. Jefina dan Jefira menepuk pundak ku.
2 menit kemudian, Kai menarik tanganku lalu membawa ku ke parkiran.
"Aku saja yang membawa mobilnya," ucapnya sambil membuka pintu.
"Baik, tuan," ucap supir pribadi ku.
Aku masuk ke dalam mobil lalu membuka kaca mobil dan bertanya pada Jefira, "Mana kak Aoi?"