Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 20



"Sudah tidur ya?" tanya Kai sambil tersenyum melihat Arika yang sedang tidur itu.


Esok harinya.


Aku menguap sambil mengusap usap mata ku lalu ku lihat sekeliling.


"Wua!" teriak ku, kaget melihat aku yang tidur di atas ranjang Kai.


"Berisik sekali!" ujar Kai sambil menyeka air liur yang ada di pipinya.


"Keluar!"


"Heh?! Pagi pagi kau sudah teriak! Mulutmu juga bau sekali!" gerutu Kai.


"Keluar! Keluar! Keluar!" ucap ku dengan cepat.


Tiba tiba, Kai menutup mulutku dengan kedua telapak tangannya. Posisi saat itu benar benar memalukan untuk ku. Jika dilihat lihat, ia seperti sedang memeluk ku dari belakang. Hanya saja tangannya melingkar di leher ku.


Aku yang merasa malu, refleks mencakar tangan Kai hingga berdarah.


Kai menutup satu matanya dengan wajah kesakitan.


"Jangan mencakar ku lagi. Jika senior Aoi tahu kau tidur di kamar ku, kau mungkin dalam bahaya!" jelas Kai.


"Dia ..., dia melindungi ku?!" tanya ku dalam hati. Detak jantung ku sangat cepat. Aku takut, Kai mengetahuinya. Bahkan jika dia mengetahuinya, itu akan lebih memalukan.


"Huh ..., jangan berbuat bodoh. Kau harusnya diam dan menurut saja. Lalu, aku bukan menolongmu loh. Aku tidak ingin masuk ke dalam neraka saja," timpal Kai lalu melepaskan tangannya dari mulutku.


Aku batuk. Nafas ku terengah engah. Seketika tubuhku terasa hangat. Aliran darahku begitu cepat dan detak jantung ku tak kalah cepatnya dengan mesin ultra.


"Kau tak apa?" tanya Kai sambil menepuk pelan punggung ku.


"Tak apa, aku harus kembali ke kamar ku sekarang," jawab ku dengan pelan lalu beranjak pergi.


Tepat di depan pintu kamar, langkah ku terhenti. Dua waiter pribadi ku berteriak memanggil nama ku secara bersamaan hingga membuat ayah, ibu, kak Aoi, dan Aiko terbangun dan bertanya, ada apa?


"Nyonya, tuan, tuan muda, dan nona muda kecil, itu ...," Mereka berdua menundukkan kepala, "Nona muda hilang. Tadi pagi saya membangunkan nona muda di dalam kamarnya dan tak ada sahutan. Jadi saya memutuskan untuk masuk dan melihat. Saat saya sudah melihat, nona muda benar benar tak ada di dalam kamarnya."


"Bocah sialan ini!" gerutu Aoi di dalam hatinya.


"Ayah, ibu, bagaimana jika kakak hilang? Aiko tidak mau!" ucap Aiko sambil menarik narik tangan ayah dan ibu.


Aku yang melihat itu langsung kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu.


"Ada apa? Kau masih ingin berkelahi dengan ku?!" tanya Kai yang tengah berbaring sambil menonton televisi.


Aku meloncat di atas tempat tidur dan menggulung badan ku dengan selimut hingga aku seperti kepompong.


"Kenapa? Kau kedinginan?" tanya Kai.


"Bagaimana ini? Bagaimana ini?!" tanya ku, khawatir.


Kai langsung berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar itu.


Ia melihat dan menguping apa yang sedang dibicarakan oleh keempat orang itu lalu kembali masuk ke dalam kamar dan menggulung badannya seperti yang dilakukan oleh Arika.


"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya ku padanya.


"Itu adalah neraka, neraka, neraka!" jawab Kai penuh rasa takut.


"Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?" tanya ku dan Kai serentak.


"Tunggu! Aku punya ide!" sahut Kai.


Di depan pintu kamar.


"Hallo, adik kelas," Sapa Aoi dengan wajah marah.


"Ha-hallo!" Sapa Kai kembali.


Kai memakai selimut seperti orang kedinginan. Selimut itu besar, hingga seperti jubah istana.


"Teman yang kemarin malam?" tanya ibu pada Aoi.


"Siapa dia?" tanya ayah, bingung.


"Dia adik kelas dan juga teman," jawab Aoi, singkat.


"Tampan!" teriak Aiko bahagia.