Burden Of Love

Burden Of Love
Chapter 22



"Kak Aoi ..., kemarin malam itu ...," ujar ku dengan pelan sambil menggesek gesekan kuku kuku jari ku.


"Cepat! Jangan berlama lama!"


"Kak Aoi marah?" tanya ku.


"Cepat jawab atau kau akan dihukum?!" jawab Aoi dengan sedikit bentakan.


Aku kaget dan menutup kedua mata ku.


"Arg!" Aoi menggaruk kepalanya lalu beranjak pergi.


Aku menangis pelan, "Kak Aoi marah?"


"Hm? Kau di bentak?" tanya seseorang dari belakang Arika.


"Huaaa!" Aku kaget dan langsung bersembunyi dibalik bangku taman.


"Tenanglah, tenanglah ...," pinta cowok itu yang ternyata adalah Kai.


Kai berjalan ke arah ku dengan tangan yang ia masukan di dalam saku celananya.


"Kenapa kau masih di sini?!" tanya ku lalu berdiri.


"Khawatir," jawab Kai dengan singkat.


"Hah?!"


"Ya, ya. Jangan salah paham. Aku bukan khawatir padamu melainkan karena aku khawatir kau akan memberitahu tentang ku saja," timpal Kai sambil mengorek lubang telinganya.


"Pergilah!" ujar ku.


Aku duduk di bawah lantai taman yang berumput itu lalu menyembunyikan wajah ku diantara kedua lutut kaki ku.


"Kenapa? Kau mau menikmati hal itu sendiri?" tanya Kai.


"Pergilah ..., aku hanya lelah," jawab ku dengan suara pelan.


"Kau menangis lagi?" Kai kembali bertanya.


"Sudah ku katakan, pergilah!" Aku berteriak sambil menatapnya. Air mata ku terus mengalir hingga membuat Kai tercengang.


Kai mengambil selimut yang ia lemparkan di taman lalu mengenakan selimut itu padaku.


"Kau benar benar kuat ya!" Kai memuji ku sambil mengelus kepala ku.


Seketika, bola mata ku membesar karena kaget akan pujian yang keluar dari mulut cowok yang ada di samping ku itu.


"Harusnya aku bahagia," ucap Aoi yang tengah mengintip dari balik pohon.


Kai tersenyum lama padaku. Aku masih terdiam.


"Arika, kau memang kuat. Tapi kau juga harus berbagi sesuatu padaku jika hal itu kekurangan tempat," ujar Kai.


"Aku tak pernah kekurangan tempat. Aku mampu menyimpan segalanya dalam setiap butiran air ini," jawabku sambil melihat butiran butiran air mata yang ada di telapak tangan ku.


"Kau kekurangan tempat, Arika. Butiran butiran air itu menandakan kau sedang kekurangan tempat. Kau butuh tempat lain. Maka, berbagilah dengan ku," timpal Kai dengan wajah seriusnya.


Aku menolak pipinya dengan pelan lalu berkata, "Sok tahu!"


"Gadis ini ..., sudah bicara serius tetap saja tak dihargai!" gerutu Kai dalam hatinya.


"Huh ...," Aku mengeluh melihat keadaan ku sekarang yang memalukan ini.


"Begini saja, biar Kai yang menjelaskan! Ehem," Kai menyempurnakan suaranya itu lalu melanjutkan kalimatnya, "Kau memang kuat. Tapi, ketika tempatmu tidak dapat menyimpan lagi, ia akan menerobos untuk keluar. Jadi, tempat itu juga butuh tempat lain. Jika di tempat kita, itu dinamakan dengan gudang, 'kan? Nah, jadikanlah aku gudang mu!"


"Tidak bisa!" jawab ku dengan cepat dan datar.


"Heh?!"


"Tidak bisa! Tidak bisa! Tidak bisa! Itu akan menyakitkan nanti!" ujar ku.


"Baiklah, tak apa. Hari ini kau menolak. Besok atau lusa, kau akan datang. Percayalah dengan Sekai!" ucap Kai dengan bangga.


"Mimpi!" jawab ku, cetus.


"Huh ..., berdebat semalaman dengan gadis ini lalu di lanjut dengan pagi ini, sangat melelahkan dibanding berdebat dengan ibu di rumah!" keluh Kai dalam hatinya sambil memasang wajah lelah.


Aku melirik Kai dengan aneh.


"Memang manusia aneh tak jauh dari iblis," ucap ku dalam hati.