
Breakeven - Bab 7
Aku terbangun di dalam pelukan Nara. Tersenyum dalam diam menatapi wajah polosnya. Aku mengangkat sedikit kepala, berpikir sejenak setelah melihat satu lengannya yang menjadi bantalan tidurku semalaman. Apa yang dia rasa? Apa lengannya kebas? Dia merelakan satu tangannya kebas hanya agar aku tetap di dalam pelukannya.
Aku melihat gerakan kecil darinya, seperti kehilangan apa yang dia genggam. Raut wajah lelapnya berubah gelisah. Kerutan di dahinya juga tak luput dari penglihatanku. Sesaat kemudian, tangan yang menjadi bantal tidurku tadi terulur meraih kepalaku. Dia menarikku kembali dalam dekapannya.
―Tetap di pelukan Abang. Jangan dulu bangun, Abang masih ngantuk,‖ gumamnya sedikit tidak jelas.
Aku terdiam di antara rasa tidak percaya itu. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Membuatku seperti sedang bermimpi di pagi hari, di tengah kesadaranku. Entah apa yang membuatnya seperti ini, setelah semalam dia begitu manis. Setelah semalam dia meraihku, membawaku dalam genggamannya dengan begitu indah, sampai aku merasa aku adalah seorang wanita yang paling beruntung karena menikah dengan pria ini.
―Kamu mikirin apa, hm?‖ gumamnya dengan mata setengah terpejam. Dia mengecup lembut pelipisku. Tangannya mengerat, memelukku.
―Ini tanggal merah, libur nasional. Abang nggak kerja. Makanya sering-sering lihat kalender, biar tahu ada tanggal merah.‖ Dia terkekeh. Mencoba memberiku penjelasan setelah aku hanya menatapinya sejak tadi.
―Bukan itu,‖ lirihku.
―Terus? Kamu lapar? Ya sudah, Abang bangun.‖ Dia mengin- tipku dari matanya yang setengah terbuka.
―Aku cuma merasa, Abang beda dari kemarin,‖ bisikku sedikit takut akan berbuat salah.
―Nggak ada yang beda, Sayang. Abang hanya merasa, Abang ingin melakukan sesuatu buat kamu. Karena, Abang sayang kamu,‖ jelasnya dengan lembut. Aku bahkan tidak menemukan nada iseng seperti biasa di setiap katanya.
Aku tidak bisa menghentikan tawa kecilku. Tapi aku menyem- bunyikannya dengan cepat di pangkal leher. Aku mendengar tawa samar menimpali tawaku. Satu pagi yang teramat indah. Biarkan aku larut dalam euforia bahagia ini, meskipun aku tahu ini tidak akan lama.
―Tidur lagi atau kamu mau mengulangi yang semalam? Agar dia cepat hadir untuk kita?‖ Oh, dia mengingatkan apa yang semalam dia akibatkan padaku.
Aku merasakan hawa panas menerpa wajah. Aku melupakan kulit tubuhnya yang saat ini membelit tubuhku.
―Jangan membahas itu!‖ erangku menahan malu. Ini hal yang tabu bagiku. Emh, bukan, hanya saja aku merasa kurang nyaman saat membahas ini. Tentang gairah yang sudah berhasil membakar kami semalaman. Berkali-kali.
―Baik. Baik, Nyonya Narendra,‖ kekehnya di sela gerakan tangannya di punggungku, memberikan usapan di sana. Tapi aku tidak melewatkan sesekali remasan dari tangannya.
―Kamu belum sarapan. Nggak lapar apa?‖ tanyaku.
―Belum. Tapi Abang akan bangun kalau kamu lapar.‖ Dia menjawabnya dengan santai.
―Aku nggak lapar.‖
―Oke. Nanti siang saja kita makan di luar. Abang masih ngantuk kalau kamu mau tahu.‖
―Oke,‖ sahutku pendek, seraya menghirup aroma tubuh Nara dalam pelukannya.
Aku merasakan dia tersenyum di puncak kepalaku. Entah apa yang harus kulakukan saat ini, tapi aku hanya tidak bisa menghentikan senyum itu. Aku menikmati keintiman ini. Di dalam dekapannya, seakan menjawab keraguanku terhadapnya. Nara seperti menjanjikan, bahwa dia adalah untukku.
Aku mencintaimu dalam kediamanku, Abang. Karena aku tidak memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan secara terang- terangan, baik dalam kata maupun sikap. Aku harap kamu bisa memahami, bisikku dalam hati.
―Bisakah kita seperti ini selamanya? Kamu adalah bahagiaku. Sempurnakan aku,‖ lirihku ketika menyadari dengkuran halus darinya mulai terdengar.
***
Nara meraih tanganku saat kami akan memasuki sebuah rumah makan. Aku bisa merasakan remasan lembut di sana. Dia memba- waku ke sebuah meja di salah satu sudut dan menarikkan sebuah kursi untukku.
―Kamu mau makan apa?‖ tanyanya.
―Aku ….‖ Aku menggantungkan kalimat, beralih mengambil satu lembar daftar menu yang tergeletak di meja. Sementara dia mengambil duduk di hadapanku. Matanya langsung sibuk meneliti daftar menu.
―Ayolah, Sayang. Abang lapar. Abang mau makan,‖ desaknya tak sabar.
Aku tersenyum simpul. Lagi-lagi aku tidak bisa menentukan. Untuk hal kecil seperti ini saja, lidahku kelu untuk berucap. Aku lebih memilih puas dengan keputusan Nara. Entahlah.
―Jadi, Abang lagi yang pilih menu?‖ tanyanya sembari meng- alihkan tatapan pada buku menu, lalu memandangku. Anggukan kepalaku membuatnya menghela napas.
―Yakin?‖ tanyanya memastikan.
Sekali lagi aku mengangguk. Melebarkan senyum untuk meya- kinkannya.
―Hmm. Lain kali gantian kamu yang harus pilih, ya?‖ Tangannya terulur, mengusap kepalaku. Kemudian dia kembali
melihat daftar menu di tangan. Tidak membutuhkan waktu lama, beberapa saat kemudian dia memanggil seorang pelayan dan memesan makan siang untuk kami.
Aku pernah mendebat ini dengannya. Aku bukan tipe orang yang pilih-pilih makanan. Sedang dia, ada beberapa makanan yang tidak sesuai dengannya. Ada beberapa makanan yang tidak boleh dia konsumsi karena lambung yang bermasalah. Jadi, aku lebih memilih untuk mengikuti apa pilihannya, daripada dia yang mengikuti pilihanku.
―Coba ke sini,‖ titah Nara, agar aku berpindah ke kursi kosong tepat di sebelahnya.
―Ke sini dulu, ayo.‖
Aku berpindah dengan beberapa pertanyaan di kepala. Dia meraih tanganku begitu aku duduk di sebelahnya, menggenggamnya dengan lembut. Hal tak terduga yang dia lakukan dan membuatku makin bingung.
―Bang?‖ panggilku bernada tanya.
Dia menatapku tanpa melepas genggamannya. Bahkan kini, dia memberikan kecupan di sana. Panas mulai terasa menyengat wajahku saat ini. Aku yakin, beberapa orang menonton drama gratisan kami. Entah apa yang dia pikirkan sampai mau melakukan hal norak di depan umum. Sekalipun ini bagiku adalah hal romantis karena dia tidak malu memamerkan kemesraan sebagaimana orang memperlakukan pasangannya.
Dia tidak menyahutiku, malah mengusap lembut tanganku. Menangkupkan kedua tangannya di sana setelah beberapa kali dia membolak-balikkannya.
―Ini apa?‖ tanyanya ketika mendapati luka kecil di beberapa tempat di ruas jemariku.
―Bukan apa-apa. Cuma kena kuku, jadi luka kecil. Tapi nggak sakit, kok, Bang,‖ elakku, ingin menarik tanganku tapi dia dengan cepat mengeratkan genggamannya.
―Gara-gara kamu nyuci kemarin, kan?‖ Dia melirikku dari sudut mata.
―Abang, ini bukan masalah. Nanti juga hilang.‖ Aku masih membela diri bahwa ini bukan sesuatu hal yang harus dipermasalah- kan.
Dia mengembuskan napas. Kembali mengusap tanganku. ―Jadi, kamu kemarin beres-beres rumah?‖ tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
―Nyuci baju?‖
―Kenapa, sih, Bang?‖ tanyaku mendesaknya.
Dia melarikan satu tangannya, mengusap kepalaku. Matanya menatapku lekat-lekat.
―Dengar, Sayang. Jangan lakukan lagi, oke?‖
―Tapi ….‖ Aku ingin mengeluarkan kalimat bantahan, tapi dia dengan cepat memotong kalimatku.
―Oke, sesekali kamu boleh. Tapi, jangan nyuci yang berat-berat.
Biar Abang yang urus nanti,‖ ujarnya memberi penengahan.
―Karena aku nggak bisa nyuci dengan bersih, kan?‖ tebakku lirih. Entah, tiba-tiba aku kembali merasakan sesak itu. Batinku menertawai diriku sendiri, betapa tidak becusnya aku menyandang gelar sebagai istri.
―Bukan itu, Sayang. Nggak sepantasnya Abang membiarkan kamu melakukan ini. Ibumu yang memilikimu saja belum tentu sampai hati menyuruh kamu macam-macam. Lah, Abang yang hanya kenal kamu baru sebentar, terus dengan nggak tahu diri, meminta kamu dari ibumu, tiba-tiba membiarkan kamu melakukan banyak pekerjaan rumah tangga kayak pembantu. Otak Abang di mana? Paham? Kalau kamu mau, nanti kita bisa lakukan bareng-bareng. Kita partner in life, Sayang. Abang nggak peduli dengan omongan orang- orang mengenai poin-poin istri yang baik. Tapi, bagi Abang, Abang punya prinsip sendiri, punya poin sendiri.‖
Aku terdiam, sama sekali tidak berpikir sejauh ini. Yang kutahu, kodratku sebagai wanita dan beberapa pekerjaan seorang istri. Aku hanya berpikiran untuk menjadi istri yang baik. Yang bisa melayani suami, mengurus rumah tangga sebagaimana seorang istri seharusnya.
―Kamu nggak harus melakukan itu, tapi kamu boleh meringan- kan pekerjaan Abang. Meringankan, Sayang, bukan berarti kamu menyelesaikan semua sendirian karena itu bukan kewajiban. Bagi Abang, istri itu bukan pembantu. Jangan lakukan lagi, ya?‖ pintanya dengan sungguh-sungguh.
Aku tidak bisa menyembunyikan kesesakan. Mata yang berkaca- kaca. Dan semua rasa haru. Aku ingin berkata padanya, aku bahagia bisa mencintainya. Tapi, aku tidak bisa. Perasaanku membuat lidah kelu. Yang kulakukan hanya berlari, menyembunyikan wajahku di bahu Nara.
―Cause youre my lady,‖ bisiknya.
Aku tidak bisa menahan perasaan. Mungkin orang bilang aku berlebihan, tapi rasa haru yang mendesak, membuat bahuku bergetar. Aku menangis di pundaknya.
―Hei,‖ panggil Nara lembut, barangkali saat menyadari bahunya basah.
Dia memutar lengan, membawaku dalam dekapan. Sementara aku sebisa mungkin menghentikan tangis.
―Kesayangan Abang, yang Abang kenal nggak gampang nangis kayak gini,‖ kekehnya seraya mengusap kepalaku. Aku tertawa sambil sesenggukan.
―Aku … aku cuma merasa ini—‖
―Jangan bilang apa pun. Abang yang seharusnya menangis karena belum bisa memberikan apa-apa buat membahagiakan kamu. Maaf. Abang tahu, seandainya kamu mau, banyak pria mapan yang bisa kamu nikahi. Tapi dengan egoisnya, malah Abang bersikeras meyakinkan kamu untuk hidup bersama Abang yang pas-pasan kayak gini. Abang yang seharusnya tahu diri, bukan kamu yang sibuk memantaskan diri menjadi istri yang baik buat Abang.‖ Dia berkata sendu, memotong kalimatku.
―Aku nggak butuh apa pun. Cuma Abang,‖ sahutku serak.
Entah apa yang membuatku akhirnya mengatakan hal tersebut, setelah selama ini aku mencoba menyembunyikan itu darinya. Kejujuranku. Aku membutuhkan Nara. Bersamanya aku merasa lengkap, sekalipun dia bukan sosok yang tanpa cela. Aku benar tidak membutuhkan apa pun yang sempurna. Aku hanya membutuhkan Nara.
―Tetaplah begini. Tetap bersama Abang. Jangan pernah lelah, ya,‖ pintanya. Aku merasakan remasan lembut di lenganku.
Bahkan tanpa Abang minta pun, jawabku dalam hati.
"Abang nggak bisa janjiin apa pun. Tapi, Abang pasti akan selalu berusaha biar kamu nggak menyesal menikah sama Abang," ucapnya lagi. Terdengar manis. Dan aku tahu, Nara akan selalu berusaha semampunya.