
Breakeven - Bab 20
Aku tidak tahu kenapa, ini di luar rencanaku. Apa yang kukatakan membuat dua orang di hadapanku menganga? Bahkan aku sendiri juga.
Aku masih istrimu, kan?
Mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu, membuatku ingin berbuat sesuatu. Hal tak terduga yang akan dilakukan oleh seorang Padnya Ichlal. Lengkap dengan gaya tengilnya.
―Kamu di sini? Kamu mendengar semuanya?‖ Ibunya masih menatapku begitu terkejut.
Aku menaikkan alis. Sisi keangkuhanku yang jarang diketahui banyak orang.
―Ya. Semua perdebatan kalian, aku nggak melewatkan sedikit pun,‖ jawabku sambil tersenyum simpul.
―Kamu?" Ibunya menggeleng pelan. "Lupakan. Apa artinya kamu akan membatalkan gugatan ceraimu atas anak Ibu, Nak?‖
―Bisa jadi. Kupikir Ibu benar. Setiap seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku menerima permohonanmu untuk tetap bersamanya.‖
Bukan. Mungkin aku akan menundanya. Aku berubah pikiran dan mulai tertarik untuk sedikit bermain-main dengannya. Sisi gelapku kini bangun dari tidur panjangnya. Dia bahkan mengucapkan selamat datang di kegelapanku lewat seringaian.
―Seseorang biasanya akan memperbaiki diri untuk menjadi yang sempurna. Beberapa orang pasti akan melakukan hal yang sama. Bahkan sebagian wanita lain mungkin akan cepat-cepat belajar dan menyesuaikan diri seperti apa yang sebagian besar Ibu Mertua inginkan dari sosok menantu perempuannya.
"Tapi, Bu. Jangan terlalu berharap banyak dariku. Seseorang pernah melarangku untuk belajar ini itu. Dia menginginkan untuk melakukannya bersama-sama. Karena baginya, istri berbeda dengan pembantu. Dia pernah bilang, dia sudah mengambil anak perempuan dari seorang ibu yang dibesarkan bertahun-tahun. Tidak selayaknya dia menjadikan istrinya melakukan hal-hal seperti yang dilakukan seorang pembantu. Memberinya berbagai hal pun rasanya tidak cukup untuk menebus berapa banyak yang pernah diberikan ibunya. Bu, itulah anakmu. Dia yang mengatakan itu padaku. Aku mengagumi pemikirannya.‖ Aku berkata sambil sesekali menatap lekat pada Nara. Aku mendapati pria itu membalas tatapanku, berusaha keras menelan ludah. Ada luka, rindu, sesal, dan kesal yang berbaur menjadi satu di matanya.
―Anakku? Dia berpikir seperti itu?‖ Matanya menatapku seakan itu hal yang mustahil. Mulutnya sedikit ternganga.
Memang aku mengakui, sangat jarang pria yang berpikiran seperti dia. Bagi Nara, istri adalah partner hidup, bukan seseorang yang sekadar melayani dan mengurusnya dari pagi hingga ke pagi lagi. Aku mengangguk, menjawab pertanyaan ibunya.
―Saat itu pula, dia telah membuatku jatuh cinta. Aku melupakan apa yang telah kusesali karena aku meninggalkannya. Saat semua masih hanya aku dan Nara, sedang Mentari kuanggap angin lalu di dalam hubungan kami. Tapi kupikir, Mentari telah jauh masuk ke dalam hubungan kami.‖
Ibunya terdiam menatapiku. Kedua matanya tergenangi air mata.
Aku masih dengan wajah datarku.
―Nak, kamu adalah menantuku dan Mentari sudah Ibu anggap seperti anak sendiri.‖
Aku meringis kemudian memijit pangkal hidung. Sepertinya aku yang kebanyakan makan mecin sehingga gagal paham. Aku sama sekali tidak bisa mengerti ke mana arah jalan pikiran ibu Nara. Dia begitu membingungkan.
Saat dia menganggap menantu. Hanya sekedar menantu. Sedang Mentari adalah orang asing yang sudah dia anggap anaknya sendiri. Aku menggarisbawahi statusku di mata ibunya. Hanya sekadar menantu. Orang yang menjadi bagian keluarga karena ikatan pernikahan, sama artinya aku adalah orang asing.
―Ya. Akan berakhir dalam beberapa saat. Sebentar lagi aku bukan menantumu, Bu,‖ sahutku menyeringai.
―Hah? Nak?‖
―Ichlal? Apa ini?‖
Aku menatapi mereka bergantian dengan sepasang alis terangkat. Aku melihat ekspresi ibunya seperti orang terkejut juga merasa bingung. Sedang Nara kembali berada di dalam zona kegelisahan. Dia menatapku dengan penuh pengharapan agar aku tetap bersamanya.
Aku tertawa kecil kemudian berjalan menghampiri Nara.
―Becanda. Kangen aku, nggak?‖ Aku merentangkan kedua tangan.
Dia terdiam ragu, tapi matanya tak lepas menatapku. Saat aku makin dekat, seketika dia menyambutku dalam dekapannya. Begitu erat. Seperti saat dia merasa cemburu ketika malam pertama kali aku bertemu Davis.
―Kangen kamu. Banget. Abang nggak bisa tidur. Janji, kamu nggak akan begini lagi, ya?‖
―Aku akan tetap di sini,‖ ucapku masih di dalam pelukannya.
―Kita nggak akan pernah bercerai. Abang nggak mau,‖ bisiknya terdengar penuh kesakitan.
Aku terdiam. Kalimatnya melemparku keluar dari euforia yang sedang kunikmati. Ada permainan yang akan kuambil alih. Aku sudah berjanji akan memenangkan permainan ini. Saat ibunya yang belum bisa memihak pada salah satu. Saat ibunya masih menganggapku orang asing di belakangku dan Mentari begitu sempurna di matanya, sedang di hadapanku wanita itu memohon agar aku tidak menggugat cerai anaknya. Entah apa yang sebenarnya wanita paruh baya ini inginkan.
―Sayang!‖ panggilnya ketika aku tak kunjung memberikan respons.
―Tergantung. Aku nggak akan menuntutmu memilih aku atau orang tuamu. Tapi, saat kamu membiarkan Mentari jauh lebih dalam masuk ke dalam kehidupan kita, kamu tahu apa yang akan kulakukan. Surat itu bisa kukirimkan kapan saja ke Pengadilan. Ini bukan ancaman, tapi peringatan dari seorang Padnya Ichlal.‖
"You show me the game, then I’ll show you how to play it well. So well. Mungkin kamu adalah pemiliknya, tapi aku yang akan memenangkan permainan ini. Jadi, kita lihat saja. Kamu berminat?‖
Aku merasakan dia melepas pelukannya padaku. Matanya menatapku terkejut sekaligus tidak mengerti. Mataku sekilas melirik ke belakang. Ibunya masih di sana menonton kami. Mungkin juga mendengar selentingan dari kalimatku. Wajahnya tampak waswas, membuatku terdiam selama beberapa detik, kemudian tertawa kecil.
―Becanda lagi. Tapi kalau benar, gimana?‖ Aku terkekeh demi melihat reaksinya.
―Demi apa pun. Jangan buat Abang khawatir. Tolong,‖ pintanya seraya meraih pundakku.
Aku melihat wajah frustrasinya. Aku tahu dia dengan perasaannya untukku. ―Aku serius. Aku bisa melakukannya kapan saja. Sebenarnya aku kembali hanya untuk mengambil beberapa pakaianku. Setelahnya, aku akan ke pengadilan agama. Tapi—‖ aku mengangkat kepala dan tanganku merangkum wajahnya, ―melihat kamu dan mendengar kamu membelaku di hadapan Ibu, aku jadi ingin berubah pikiran. Berharap kamu akan membelaku di hadapan teman-temanmu juga. Tapi jika nanti aku nggak melihat hal itu terjadi, aku selalu siap untuk menjatuhkan keputusanku kapan saja.‖
Dia tidak menyahuti kalimatku, malah menjatuhkan dahinya di dahiku. Entah apa yang dia pikirkan tentang hal ini. Lama dia dalam posisinya hingga kemudian dia membuka suara, ―Aku pernah kehilangan kesempatan untuk meyakinkan seseorang. Tapi tolong, beri aku kesempatan untuk memperjuangkan kamu agar tetap bersamaku, nggak peduli mereka menentangku.‖ Aku mendengar seperti sebuah kesakitan yang berusaha dia tahan dari setiap kata- katanya. Aku juga merasakan tangannya dingin menggenggam belakang kepalaku, jelas tangannya bergetar.
―Aku nggak akan pernah memintamu untuk menentang mereka, apalagi orang tuamu.‖ Aku menghentikan kalimatku, berbalik menghadap pada ibunya dengan tangan Nara di genggamanku. ―Ibu, sekali saja aku mendengar orang-orang dari sekeliling Nara menjatuhkanku seperti saat ini, bahkan Mentari mencoba mengusik kami, aku yang akan maju. Bukan lagi Nara yang akan kalian hadapi.
"Aku nggak bermaksud menentang satu dari kalian. Ibu dan Ayah, aku sangat menghormati seperti kalian adalah orang tuaku sendiri. Dan aku tahu, itu satu kewajibanku sebagai istri. Tapi untuk hal-hal yang menjatuhkanku, aku pasti akan memasang badan. Mulai saat ini, kehidupan kami adalah keharusan kami untuk menjaganya dari sesuatu yang buruk. Nggak ada yang bisa menjamin Mentari akan menjaga jarak, tapi aku yang akan memasang batas. Setuju atau nggak, antara Nara dan Mentari sudah berbeda sejak adanya aku.‖
Aku menegaskan di sini. Pada status Mentari di dalam lingkup rumah tangga ini. Agar dia mengerti batas. Dan agar Nara memahami apa yang harus dia utamakan. Bukan berarti aku egois, karena jika nanti memang benar ini akan berakhir dan Nara nanti akan bertemu dengan wanita lain, aku bisa memastikan nasib pernikahannya akan sama seperti ini. Atau bahkan lebih parah.
―Nak, tapi—‖
―Bu, aku terhitung baru dan sama sekali nggak ngerti urusan rumah tangga. Tapi yang kutahu, saat kita menikah, maka istri atau suami adalah prioritas. Aku pribadi, meninggalkan duniaku, juga teman-temanku bahkan keluargaku hanya untuk Nara. Aku menjaga batasan agar Nara nggak cemburu. Karena faktanya, sebagian besar temanku adalah lelaki. Aku mau meminta ini juga dari Nara. Untuk memberi jarak dengan Mentari. Jika memang ini memberatkan, maka aku akan melepaskannya. Sesuatu yang memberatkan, sama saja dia jauh lebih berharga dariku. Artinya, apa yang kulakukan sama sekali tidak ada artinya. Aku nggak penting. Jadi?‖
―Kamu penting. Aku akan belajar dari kesalahanku. Jangan menganggap kamu nggak penting, Sayang.‖ Dia meremas tanganku, terlihat sekali Nara tidak ingin pernikahan ini berakhir.
―Akan Ibu usahakan, Nak. Jadi kamu pasti akan tetap di sini, kan?‖ tanya ibu memastikan.
―Sepertinya,‖ sahutku bernada menggantung.
―Bahagiakan Nara, Nak. Ya, sudah, Ibu akan pulang.‖
Aku tersenyum tipis. Lalu menoleh, menatap Nara. ―Antar Ibu pulang, gih.‖
―Terus kamu mau pergi dari Abang?‖ tanyanya curiga.
―Aku mau istirahat. Kalau kamu takut aku akan pergi, segera pulang begitu sudah selesai mengantar Ibu.‖
―Sayang, serius!‖
―Kunci saja pintunya kalau perlu!‖
―Abang akan segera pulang!‖ serunya, kemudian melesat dari hadapanku, bersiap untuk mengantar ibunya.
Aku menghela napas. Apa yang kuputuskan saat ini bukan karena aku terlalu plinplan atas keputusanku. Aku hanya ingin memperlihatkan bagaimana permainan sesungguhnya. Aku yang akan membuat mereka meringis, meminta untuk dihargai oleh seorang Padnya Ichlal. Aku hanya ingin mereka tahu, bagaimana rasanya tak berarti. Atas nama aku dan orang-orang yang pernah diperlakukan seperti orang asing dengan alasan kami akan merendahkan mereka, sakit itu mahal harganya. Maka setiap satu kesakitan, aku akan mengembalikan pada mereka sesakit apa yang pernah mereka berikan.