Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 16



Breakeven - Bab 16


Nara


Apa yang dia katakan meruntuhkan semua mentalku. Seorang wanita dalam kelasnya datang dengan emosi yang tak terbendung. Pada awalnya, aku memarahi sikap barbarnya. Dia menuding Mentari hingga Mentari gemetar dalam duduknya. Aku sama sekali tidak pernah menyangka dengan sikap Ichlal.


Namun mendengar dia akan melayangkan gugatan cerai, aku merasakan duniaku akan kiamat sebentar lagi. Kupikir kediamannya selama ini karena dia tahu dan paham bahwa aku dan Mentari murni hanya teman. Sekalipun dulu aku pernah memiliki rasa itu. Aku hanya terduduk lunglai melihat kepergiannya bersama teman barunya.


"Man, sorry, sebelumnya. Aku pikir reaksi dari istri kamu itu wajar. Kamu selama ini selalu menghabiskan waktumu di sini. Ada Tari yang juga nggak pernah absen." Bima berkata seraya menghampiriku.


"Dianya saja yang lebay. Kita cuma teman! Lagian, ngapain kamu jadi belain dia sekarang?" bantah Mentari dengan nada sinis.


"Tari, sorry, aku pikir lama-lama makin ke sini aku paham. Nggak seharusnya kamu nempel terus sama Nara. Dikit-dikit Nara.


Ada masalah dikit, nangis-nangis sama Nara. Dia sudah beda, cuy. Sudah punya tanggung jawab lain. Seseorang yang harus dijaga perasaannya. Sudah untung Ichlal selama ini diam. Kalau dia perempuan kayak yang lain, kamu sudah disamperin sejak dulu, bahkan mungkin tangan lentiknya sudah menjambak rambut kamu.


Kamu itu perempuan, seharusnya lebih punya perasaan, lebih paham masalah perasaan wanita. Kamu salah. Nara juga salah. Laki- laki yang sudah berumahtangga seharusnya tahu kalau teman itu bukan bagian dari keluarga. Aku juga salah. Aku sebagai teman cuma diam lihat kalian, karena aku pikir kalian akan paham dengan sendirinya, tapi ternyata nggak.


Nara, pulang sekarang. Minta maaf sama istrimu. Laki-laki kalau kata wanita itu stop, maka jangan harap akan ada kesempatan lagi. Apalagi wanita macam Ichlal. Mungkin dia terkesan diam, sedikit sombong. Kita tahu dia lebih berkelas. Wanita seperti dia itu tegas, berprinsip. Dan, Tari, wanita humble seperti kamu yang tampil apa adanya juga bukan jaminan kamu adalah wanita baik. Contohnya, ya, sekarang," tegas Bima panjang lebar, membuatku tercenung.


"Jadi, kamu bilang aku bukan orang baik? Ichlal-nya aja yang nggak bisa nempatin diri. Yang nggak bisa pahamin Nara. Keluarganya saja sampai kepaksa buat nerima dia karena Nara yang ngotot." Mentari terlihat sangat tidak terima dengan apa yang Bima katakan.


"Ya, kalau kamu nggak rajin gosipin dia di depan keluarga Nara juga, mereka lama-lama akan bisa nerima Ichlal. Nerima orang baru itu butuh proses. Kalau nggak gara-gara kamu kenal Nara dan keluarganya sejak kamu bayi, mungkin keluarganya Nara nggak semudah itu terima kamu," sahut Bima pedas.


Aku terdiam mendengar debat dua temanku. Perbedaan antara Mentari dan Ichlal memang jauh. Ichlal adalah wanita yang kucintai. Seorang wanita yang berani mengorbankan dunianya hanya demi hidup pas-pasan bersamaku. Meski orang melihat Ichlal bukan tipe istri idaman. Mereka hanya tidak tahu apa yang sudah Ichlal berikan kepadaku. Bagiku, itu lebih dari segalanya. Karena kalau saja dia mau, dia bisa mendapatkan suami yang lebih dari kata berkecukupan. Jangkauan pergaulannya dari berbagai kalangan.


Sedang Mentari hanya teman. Dia perempuan yang berpenam- pilan apa adanya. Dia bisa berbaur dengan kondisi apa pun. Meski dia wanita baik, pintar memasak, dan sudah begitu dekat dengan keluargaku, aku tidak tertarik. Dulu aku memang sempat menaksir Mentari, tapi dia begitu cuek sehingga aku memutuskan untuk berhenti.


"Istri yang baik itu yang bisa melayani suami dengan baik, pintar masak, beres-beres rumah. Itu yang ibunya Nara cari buat anaknya. Tapi anaknya yang bodoh. Perempuan macam Ichlal yang dinikahi. Dia nggak bisa apa-apa." Tari mendeskripsikan sosok seorang istri selayaknya—pada umumnya. Aku pernah berdebat dengan wanitaku gara-gara poin-poin sialan semacam ini.


"Aku pulang!" ucapku datar, lalu beranjak pergi. Aku tidak bisa mendengar orang menjelekkan istriku.


Aku berharap Ichlal tidak serius dengan ucapannya. Aku berharap, aku masih mendapati Ichlal di rumah. Dia tidak akan pernah pergi dariku.


***


Sekali lagi aku mencoba meyakini bahwa ini hanya sebuah gertakan. Ichlal tidak akan pergi dariku. Tapi, kenyataan membuatku luruh. Dia pergi dengan satu ucapan yang membuat lidahku kelu. Aku merasa kehancuran akan segera dimulai.


Lanjutkan hidupmu. Aku sudah membebaskanmu.


Aku meneriakkan namanya  seperti orang gila, tapi dia sudah mengeraskan hati. Ini semua salahku. Aku yang sudah menga- baikannya selama ini. Aku yang terlalu fokus pada Mentari. Karena aku berpikir, Mentari sahabatku, dia sebatang kara. Aku hanya merasa ingin melindunginya saja, selama ini akulah adalah tempatnya bersandar.


Ichlal menepati setiap ucapannya. Tentang dia yang mencoba mengerti aku, hanya saja aku yang terlalu lupa bahwa dia juga butuh diperhatikan, bahkan sangat butuh, karena dia istriku. Tentang dia yang akan tetap mendampingiku selama dia bisa, tapi sekarang dia sangat lelah. Aku tidak pernah memedulikannya. Aku hanya berpikir dia wanita dewasa yang selalu mengerti aku. Tentang dia dan surat gugatan cerai itu, dia benar-benar sudah menyiapkannya. Dia menaruh copy-an dalam satu amplop di meja kerjaku.


Aku menangis di dalam hati. Meremas kuat cincin nikah di jari manisku. Aku harus apa agar dia tidak pergi? Aku seperti ditampar olehnya saat membaca satu pesan yang terselip di sana. Dia mengembalikanku pada keluarga dan teman-temanku. Dia merasa telah mengambilku dari mereka. Bahkan kini air mata itu lolos dengan begitu mudahnya. Aku menangis untuknya. Untuk penyesa- lanku. Apalagi saat aku menemukan sebuah kartu debit lengkap dengan buku tabungan. Entah kapan dia membuat ini.


Saat aku membukanya, terdapat banyak saldo di sana. Dua pertiga gajiku yang setiap bulan kuberikan untuknya, untuk kami, utuh. Angkanya bisa untuk membeli sebuah motor. Dalam tiga bulan, dia membuatku tercengang. Aku tidak pernah mempertanyakan uang bulanan padanya. Tapi, dia menyimpannya dengan sangat baik.


Aku tahu, aku nggak bisa memberikan apa pun selama menjadi istrimu. Aku nggak bisa menjadi istri seperti wanita-wanita lain.


Love you.


Apa ada wanita yang bisa melakukan hal besar sepertinya? Di sini, istri bukan hanya sebatas wanita yang pintar memasak atau beres-beres rumah. Aku pernah berdebat ini dengan ibuku maupun Ichlal. Tapi, Ichlal selalu merasa dia bukan wanita yang sempurna. Dan aku adalah yang paling sering menyakitinya. Bukan dia. Seperti yang orang-orang tuduhkan pada Ichlal. Akulah yang berengsek. Tapi, ibuku tidak pernah ingin membuka mata. Beberapa kali aku berkata jujur. Hanya karena Mentari yang sering memanas-manasi ibu, katanya, bagaimana kalau anak lelakinya hanya dijadikan budak, dimanfaatkan? Dan entah apa lagi.


Aku pernah menegurnya, tapi dia berkata hanya ingin yang terbaik untukku. Namun apa yang terjadi saat ini, mampu membuka mataku. Aku yang tidak becus menjadi seorang lelaki. Aku yang tidak becus menjadi seorang suami. Aku yang tidak tahu prioritas. Aku yang membiarkan Mentari bergantung padaku.


"Nara! Nara!"


Aku mendengus mendengar seseorang memanggil-manggil namaku. Aku menyeret langkah menuju pintu.


"Ichlal ada, kan?" Dia berbisik, seolah takut Ichlal akan mendengarnya.


"Ada apa?" tanyaku ketus.


"Nggak. Hanya memastikan kamu nggak bunuh diri," cibirnya. "Baru punya rencana!" dengusku.


"Setan! Jangan becanda! Kalau bunuh diri memangnya itu bikin Ichlal-mu kembali?" Dia meninju lenganku, membuatku sedikit meringis. Tangan tambun itu mendarat keras di lenganku.


"Dia pergi, Bim. Semua salahku. Aku nggak bisa menahan dia. Aku bahkan sudah berteriak, aku mau melakukan apa pun agar dia tetap di sini." Aku mengembuskan napas. Meringis tipis merasakan sesak itu. Aku tidak memiliki rasa malu lagi untuk terlihat rapuh di hadapan sahabat laki-lakiku ini.


"Pagi-pagi buta begini?" Dia melebarkan matanya. Aku mengangguk lemah. Tersenyum getir.


"Dan kamu cuma diam saja? Nggak kejar dia?"


Aku terdiam. Sesaat kemudian, Bima kembali menonjok lenganku.


"Tolol dipiara! Mau ke mana dia pagi-pagi buta begini? Angkot juga belum ada. Kalau dia kenapa-kenapa, bagaimana? Dia pergi bawa barang nggak?" Dia memakiku seperti biasa ketika aku melakukan kesalahan.


Aku seperti orang linglung. Mencoba mengingat-ingat bagai- mana Ichlal tadi meninggalkanku. Sesaat kemudian, aku menegang dalam diam.


"Tunggu! Aku lihat di kamar!" Aku melesat menuju kamar. Sesaat kemudian aku berseru dengan perasaan meluap-luap. Aku seperti mendapatkan kembali harapan itu meski sedikit.


"Barangnya masih di kamar! Dia hanya mengemasnya! Kita cari Ichlal, ayo!" Aku bergegas menyeret Bima, membuatnya hampir terjungkal karena terbelit kakinya sendiri. Aku tidak salah memiliki sahabat sepertinya.


Aku merasakan gemuruh di dada. Harapan yang hadir sekalipun kemungkinan itu kecil. Iya, aku kembali berharap jika Ichlal masih mau menatapku. Masih mau memandangku selayaknya aku adalah suaminya. Bahkan jika saja bisa, aku sangat ingin dia tetap bertahan bersamaku. Tidak ada perceraian.


Kepergiannya adalah kehancuranku. Dan aku tidak tahu, apa aku masih bisa bangkit lagi atau tidak setelah ini. Dia pemilik kekuatanku. Aku sudah menyerahkan segenap perasaan dan hidupku kepadanya. Seperti dia mempercayakan hidupnya kepadaku. Tapi, di sini, aku yang mengecewakan dia. Aku yang terlalu banyak menyakiti dia. Terkadang aku memaki diriku sendiri, mengapa aku bisa setolol ini? Mengapa aku bisa melupakan fakta bahwa seorang istri juga memerlukan perhatian? Kesalahanku adalah menganggap pengertiannya mencakupi seluruhnya. Dan aku melupakan bahwa aku juga harus mengerti dia. Aku sendiri yang membuat dia menyerah.


"Apa Ichlal mau maafin aku?" lirihku, bertanya pada Bima. Aku membiarkan dia memboncengku.


"Entah. Wanita macam Ichlal pembawaannya tegas, berprinsip.


Tapi berusaha meyakinkannya nggak ada salahnya, kan?"


Aku terdiam mendengar jawaban Bima. Bilang, Sayang, kalau kamu nggak benar-benar meninggalkan Abang, rintihku dalam hati.