Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 17



Breakeven - Bab 17


Apa yang kulakukan sepagi ini di depan stasiun? Aku perlu ke daerah Solo Balapan. Menemui Ibu untuk mengabari apa yang akan menjadi keputusanku. Aku tahu, ini buruk. Tapi sebesar apa pun perasaan itu, wanita sepertiku tidak akan membiarkan dirinya terus- terusan merasakan hal pahit itu.


Aku belum ingin pulang sekarang. Aku hanya sedang melihat- lihat jam keberangkatan. Meskipun bisa dilakukan melalui online, aku lebih memilih membuang waktu di sini. Rencanaku, nanti aku akan berkunjung ke rumah keluarga Nara untuk mengatakan keputusanku, juga meminta maaf untuk ketidaksempurnaanku selama ini sebelum nanti aku melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama.


Satu tiket perjalanan sudah berada di genggamanku setelah menunggu beberapa jam hingga loket pemesanan dibuka. Aku berjalan ringan meninggalkan stasiun, mencari kedai untuk sarapan. Aku merogoh ponsel dari dalam tas sembari menunggu pesanan.


Ponselku sejak tadi berada di dalam mode diam. Saat membukanya, terdapat banyak pesan dan panggilan tak terjawab. Hampir semuanya dari Nara.


Apa harus aku yang pergi dulu, seperti ini, baru kamu akan menyadari semuanya? gumamku dalam hati.


Aku menghela napas panjang. Tidak bisa kupungkiri bahwa perasaan itu masih tetap untuknya. Melepaskannya adalah kesakitan tersendiri bagiku. Tapi bertahan bersamanya, adalah sebuah kebodo- han.


Kamu pasti akan bahagia. Dengan atau tanpaku, hidupmu pasti akan tetap berjalan. Bahkan mungkin jauh lebih baik tanpaku.


Aku meletakkan ponsel, lebih memilih fokus pada sarapan. Setelah ini, aku harus mengumpulkan keberanian untuk bicara pada orang tua Nara.


***


Aku melangkah sedikit ragu memasuki halaman rumah sederhana itu. Aku memang sangat jarang mengunjungi rumah ini. Apalagi saat ini aku hanya sendiri. Entah apa reaksi orang tua Nara nanti. Tapi apa pun itu, aku sudah siap dengan segala risikonya.


Tanganku mengetuk pintu kayu jati itu setelah beberapa kali membuang napas untuk meyakinkan diri. Tidak lama, seseorang membukakan pintu. Sosok yang pada akhirnya membuat lidahku kelu saat dia menatapku dengan sorot entah apa maknanya.


―Ibu, maaf—‖


―Kamu ke sini?‖ tanya wanita paruh baya itu sedikit bergetar.


Aku   menarik   napas   panjang.   ―Ya,   ada   hal   yang   harus kubicarakan dengan ayah dan ibu. Ayah ada?‖ Aku berkata dengan sedikit terbata-bata. Keadaan ini membuatku begitu canggung.


―Masuk,‖   ajak   Ibu,   lalu   meraih   tanganku   untuk   mengikuti langkahnya. Sesuatu hal yang membuatku sedikit bingung. Ada apa?


Dia membawaku melewati ruang tengah dan berhenti di sebuah kamar. Tangannya yang mulai keriput mendorong pintu hingga terbuka. Yang kulihat, seketika membuatku menahan napas. Tapi, kemudian wanita itu kembali membawaku ke ruang tengah.


―Kami baru saja berdebat. Selepas subuh dia datang memarahi kami seperti orang kesurupan. Kamu akan meninggalkannya, kan?‖ Suara Ibu terdengar makin bergetar.


―Ini keputusanku, Bu. Aku datang ke sini untuk mengembalikan Nara pada kalian. Aku tahu, seharusnya Nara bisa mendapatkan istri yang sempurna. Cinta saja nggak cukup, kan, Bu?‖ Aku berkata sedikit gemetar.


―Apa kamu tahu, alasan Nara nggak pernah pulang lagi ke sini, sangat jarang mengajakmu ke sini? Karena dia terlalu mencintaimu. Dia membelamu mati-matian di hadapan kami. Dia marah saat kami mulai membicarakan bagaimana seorang istri seharusnya. Dia selalu membelamu, tidak peduli itu menyakiti kami.‖


Aku menatap miris wanita di hadapanku, kemudian memberi- nya sebuah senyuman tipis. ―Karena itu, aku nggak mau Nara terus menyakiti kalian. Aku hanya orang asing di sini. Kehadiranku membuat perselisihan di antara kalian. Aku meminta maaf untuk itu.‖


―Sekarang aku mengerti, kenapa Nara selalu membelamu. Nak, jangan hancurkan Nara. Bisakah … bisakah kamu memberinya kesempatan lagi? Dia pasti akan belajar dari kesalahannya. Aku bisa menjaminnya. Dan … dan Mentari, Nara pasti akan lebih menjaga jarak dengannya. Bisa? Ibu sangat berharap kali ini.‖


Aku memejamkan mata ketika sesak itu kembali datang. Aku ke sini bukan untuk mendengar permohonannya, melainkan mengembalikan Nara padanya.


―Nara pasti akan bahagia, dengan atau tanpa aku, hidupnya akan tetap berjalan. Aku ke sini untuk mengembalikan Nara pada kalian. Aku orang asing yang pernah merenggut Nara dari kalian, keluarga dan teman-temannya. Aku mengembalikannya, membebaskannya.‖


―Jadi, keputusanmu tidak bisa diubah?‖ Suara bariton itu membuatku terlonjak.


Seorang pria paruh baya datang kemudian duduk di hadapanku.


Matanya menatapku tajam.


―Bagaimana kalau aku, sebagai ayahnya, yang memohon untuk tetap tinggal?‖


Aku mengangkat wajah, membalas tatapan ayahnya, bukan menantang. Tapi aku mewakili sebagai diriku sendiri atas nama sebuah  harga  diri.   ―Apa  aku   punya   alasan   untuk  tetap   tinggal? Sedangkan posisiku sangat jelas, Yah.‖


―Posisimu sangat jelas, Nak. Nyonya Naraspada Narendra, apa kamu lupa?‖ Pria tua itu tersenyum tipis seperti berusaha meyakinkanku agar tetap tinggal.


―Hanya status. Setelah kenyataan yang selama ini berusaha aku tutupi.‖


―Mentari nggak akan menjadi sumber masalah kalau dari Nara sendiri bisa membedakan mana teman dan mana istri. Saat istri berada di posisi paling bawah atau tidak memiliki arti penting apa pun, apa yang harus dipertahankan lagi? Ayah, maaf, sebelumnya aku datang sebagai istri, bukan orang asing yang sama sekali tidak dihargai.


Ibu bahkan pernah mendebatku, kan? Mentari sudah seperti anak perempuan ibu. Satu statement yang akhirnya kembali memukul kesadaranku, bahwa aku hanya sebatas orang asing. Aku bukan siapa- siapa di sini. Tapi, Yah, Bu, detik ini, aku, atas nama pribadi, meminta maaf atas segala ketidaksempurnaanku. Aku pernah mengambil Nara dari kalian. Aku membebaskan Nara. Bagaimanapun kalian dan teman-teman Nara adalah dunianya. Nara milik kalian dan kalian milik Nara. Seandainya aku tahu ini dari awal sebelum menikah, mungkin pernikahan ini nggak akan pernah ada. Baik aku maupun Nara, nggak ada yang tersakiti.‖


―Apa kamu nggak bisa mempertimbangkan lagi? Bagaimana jadinya nanti Nara tanpa kamu?‖ Kali ini Ibu membuka suara.


―Apa Ibu juga pernah berpikir, bagaimana aku jika tetap bertahan?‖ Aku menatap wanita tua itu dengan segenap ketegasan.


Aku meninggalkan duniaku, segala yang pernah menjadi kebanggaanku demi seorang Naraspada Narendra. Bukan untuk dipermainkan seperti ini? Jika aku tidak bertekad meninggalkannya, apa mereka akan memohon seperti ini kepadaku?


―Aku akan pulang. Kupikir ini sudah cukup. Mungkin, seminggu lagi panggilan dari Pengadilan Agama akan Nara terima.‖ Sebenarnya, ini terlalu sakit untuk kuucapkan. Separuh dari diriku bersujud kepadaku agar membatalkan keputusan, untuk memberikan kesempatan bagi Nara. Bagian dari diriku itu adalah hati dan segenap perasaan yang selalu utuh untuknya. Betapa aku ingin menghampiri Nara di kamarnya, memeluk sosoknya yang terlelap karena kelelahan. Aku ingin berbisik kalau aku selalu mencintainya.


Apa kamu pikir ini adalah kemenanganku? Berpisah dengannya adalah kebebasanku. Bukan. Ini adalah hal paling menyakitkan yang pernah kulakukan. Setelah ini, aku harus membiasakan diri tanpa suara Nara. Tanpa kehadirannya. Tanpa pelukannya. Sedang perasaan itu tidak bisa kutinggalkan begitu saja. Dia pasti akan ikut ke mana pun, bahkan mungkin dalam masa depanku nanti.


―Nak!‖ Wanita itu berseru memanggilku.


―Bu, ini sudah menjadi keputusannya.‖


―Tapi, Nara ...? Apa kita akan melihat dia seperti orang gila lagi? Dia pernah mengalami ini. Tapi, mungkin sekarang jauh lebih parah. Dia dengan kesalahannya yang akan menjadi penyesalan. Ini juga kesalahan kita yang membiarkan Mentari terlalu dekat dengan Nara!‖


Di ambang pintu, aku mendengar raungan ibu Nara. Dan Ayah yang mencoba menenangkan istrinya.


Dia pernah mengalami ini?


Keningku mengernyit. Ada sesuatu yang dengan bodohnya tidak kucari tahu. Aku yang selalu berpikir masa lalunya bukanlah hal yang perlu kutahu, yang terpenting adalah saat ini. Seketika aku berpikir, aku perlu menanyakan ini pada seseorang.


Tapi sekali lagi, aku bergidik sendiri lalu melangkah meninggalkan rumah itu. Bukankah segalanya tentang Nara bukan lagi sesuatu hal yang harus kuketahui sekarang? Aku sudah melepaskannya, kan? Jadi, apa pengaruhnya buatku untuk tahu atau tidak?


―Ichlal! Ichlal! Ichlal, stop!‖


Mendengar suara itu, aku merasakan gemuruh di dadaku. Apalagi saat bunyi langka kaki yang berlari makin dekat. Dia sudah terbangun dari tidur. Aku ingin tetap berjalan, tapi tidak mampu. Kenyataannya, aku selemah ini. Bahkan aku membalikkan badan. Saat ini, aku mendapati tubuh dalam dekapannya yang begitu erat. Hanya dalam sekejap, aku membalikkan badan.


Rasa nyaman saat berada di sisinya kembali kurasakan, tapi kali ini bercampur sesak dan rasa bersalah. Aku menyakiti Nara dengan meninggalkannya.


―Aku nggak butuh apa pun kecuali kamu berada di hidupku sebagai istri,‖ bisiknya makin menambah rasa sesak itu.


Jauh di dalam hatiku berkata, Nara adalah pria yang baik. Dia tidak pernah mengizinkan aku melakukan semua hal di rumah sendirian. Dia selalu menghabiskan akhir pekan di hanya untuk merapikan rumah bersamaku, mencuci pakaian bersamaku. Hanya saja, dia pun sering meninggalkanku tiba-tiba demi seorang Mentari.


Dia pun lebih sering mengkhawatirkan Mentari. Dia adalah pria yang baik. Hanya saja, dia belum mampu menaruh skala prioritas dengan baik.


―Jangan pergi. Aku memohon dengan sangat. Jangan pergi,‖ pintanya seraya mengeratkan pelukan ketika aku ingin melepaskan diri darinya.


―Aku sudah bilang, kamu bebas sekarang,‖ ucapku datar. Sekali lagi aku mengeraskan hati.


―Apa aku bebas mengikutimu ke mana pun kamu pergi? Apa aku bisa bebas untuk memilih tetap bersamamu?‖ Pertanyaannya menghadirkan kesakitan tersendiri bagiku. Sungguh, sebenarnya aku tidak menginginkan ini terjadi.


―Kamu akan memiliki kehidupan baru lagi nanti. Jangan berlebihan. Akan ada wanita yang bisa memahamimu dengan sangat baik nanti. Yang teman-teman dan keluargamu bisa menerima kehadirannya,‖ ucapku, meski aku tidak bisa memungkiri rasa sakit itu ketika bibirku mengucap.


―Seseorang pernah mengatakan ini. Apa kamu mencoba membohongiku dengan alasan yang sama dengannya? Kenapa? Kenapa kamu seperti dia?!‖


Dia melepaskan pelukan dengan tiba-tiba, membuatku sedikit limbung. Matanya berkilat penuh luka. Seakan memori yang dia pendam, kini muncul di hadapannya. Aku segera mengingat apa yang ibunya katakan tadi pada ayah.


―Nara?!‖ Aku mencoba memanggilnya.


Dia hanya menatapku dengan bibir bergetar. Matanya bergerak liar. Lalu dia meremas kuat kepalanya hingga menampakkan urat-urat wajahnya.


Ada apa dengannya?


Aku menatapnya beberapa detik kemudian memilih untuk berjalan cepat meninggalkannya. Keadaannya saat ini menimbulkan rasa bersalah di dalam diriku. Aku ingin memeluknya, tapi aku butuh sedikit waktu untuk mengendalikan diriku sendiri setelah apa yang kulihat baru saja.