Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 32



Breakeven -  Bab 32


Reuni? Aku mengernyit, membaca undangan reuni di grup messenger milik Nara. Tidak biasanya reuni dengan teman sekolah diadakan menjelang akhir tahun. Yang kutahu, mereka akan mengadakan reuni saat lebaran sekaligus halalbihalal. Tapi, ini? Selang seminggu dari malam perayaan hari ulang tahun pernikahan orang tua Nara. Aku mencium ada unsur kesengajaan di sini. Perempuan itu masih penasaran mengapa aku masih bersikeras bertahan bersama Nara.


Aku menarik napas dalam-dalam. Jika bukan karena dia mencintai Nara, lalu alasan apa yang membuatnya bersikeras agar pernikahanku dengan sahabatnya berakhir. Dia mati-matian meyakinkan Nara bahwa aku tidak jauh berbeda dengan Thalita. Dan atas dasar apa dia menyamaiku dengan Thalita? Tapi kalimatnya malam itu, memberikan kesan bahwa nanti Thalita akan datang mengambil Nara. Ah, entahlah. Mentari dengan segala pemikiran kompleksnya tidak bisa kuraba dengan baik. Kupikir dia mengalami disorientasi terhadap pemikirannya.


Aku jadi mengingat bagaimana kesibukan Nara akhir-akhir ini. Otakku tergerak untuk menyimpulkan bahwa kesibukannya karena dia terlibat dalam acara reuni SMA-nya. Reuni akbar dalam beberapa angkatan, hingga kemudian aku terdiam ketika menemukan sebuah nama dalam otakku. Dia dan masa lalunya yang belum tuntas. Nara dengan perasaannya yang pada akhirnya membuat dia berlari kepadaku. Lalu, bagaimana jika ucapan Mentari benar? Thalita. Sekalipun aku selalu meyakinkan diri bahwa Thalita bukanlah sesuatu hal yang penting untuk kuketahui, tapi pada kenyataannya aku sedikit terganggu.


―Sayang ....‖ Sebuah suara datang bersama langkah kaki mendekat.


―Iya?‖ tanyaku pelan, mengangkat wajah. Aku menemukan Nara dengan celana jeans dan setelan kemeja. Terlihat rapi untuk menjelang senja seperti ini. Dia akan keluar lagi dengan urusan entah apa di malam weekend ini.


―Kamu mau ikut Abang atau di rumah? Oh, Astaga. Abang lupa bilang. Malam ini ada reuni teman SMA Abang. Kamu mau ikut, nggak?‖


Aku mengembuskan napas, tak kunjung menjawabnya. Aku malah kembali menekuni artikel parenting di tablet milik Nara.


―Sayang,‖ panggilnya sekali lagi.


―Aku di rumah saja. Nggak apa-apa, kan?‖ tanyaku kembali menatapnya. Aku mendapati wajah cemberut Nara. Aku tahu dia menginginkan aku untuk ikut bersamanya.


―Padahal Abang pengin kamu tahu teman-teman Abang, lho, tapi kamunya nggak mau. Abang sudah janji mau bawa kamu. Mereka penasaran sama istri Abang.‖


Aku tertawa lirih. Mungkin memang ada baiknya aku ikut. Aku tertantang untuk bertemu dengan Thalita. Aku ingin membungkam Mentari bahwa aku dan masa lalunya itu sangat berbeda jauh. Dan akan kubuktikan pula jika nanti berhadapan dengan Thalita, Nara tidak akan pernah berbalik pada perasaannya yang dulu. Jadi, mari kita selesaikan kisah yang masih menggantung itu.


―Nggak pulang larut, kan?‖ tanyaku memastikan.


―Nggak. Abang janji nggak sampai larut malam. Kan, kamu sekarang nggak sendirian. Ada baby di badan kamu.‖


―Aku ganti baju dulu kalau gitu.‖


***


Terasa enggan ketika taksi yang membawa kami sampai di tempat tujuan, sebuah kafe yang menurutku baru beroperasi beberapa bulan, terlihat cukup ramai dengan orang-orang berkemeja putih dan celana jeans—persis seperti yang Nara kenakan saat ini. Aku membiarkan Nara menggenggam erat tanganku, membawaku masuk ke sana. Dia juga membalas sapaan beberapa temannya. Aku bahkan baru tahu kalau Nara dulu pengurus OSIS setelah beberapa teman menyinggung jabatannya dulu.


Aku sendiri cukup canggung berada di dalam ruangan ini, hingga kemudian aku menemukan sepasang mata menatapku lengkap dengan senyum miring. Memang dia tidak pernah lagi muncul di dalam kehidupan kami, tapi aku tahu benar, dia tidak mungkin berhenti begitu saja. Aku tidak bereaksi apa pun selain tatapan datar untuknya.


Sudah kubilang, kan? Untuk meruntuhkan seorang Ichlal itu membutuhkan kerja yang sangat ekstra, karena aku pernah mencecap hampir semua rasa sakit.


―Nara!‖


―Hei! Belum dimulai, kan, acaranya?‖ tanya Nara ketika seorang pria menghampirinya.


―Sebentar lagi. Gila ... tambah kece aja, Bro. Tadi Bima bisikin kalau wakil ketua OSIS kita dulu akan datang bawa permaisurinya. Kenalin, dong, penasaran siapa yang berhasil menggeser posisi Thalita. Gila aja, cewek secantik Thalita kalah saing,‖ kelakarnya membuat Nara refleks menonjok lengan pria itu.


Aku mengamati dari samping Nara, kemudian aku meringis saat Nara mengeratkan genggaman pada tanganku.


―Namanya Ichlal. Kalau nggak ada halangan, beberapa bulan lagi dia akan resmi menyandang gelar ibu dari seorang anak hasil jerih payah Naraspada Narendra. Sayang, kenalin, ini Putra. Dia dulu ketua OSIS. Dulu dia serius, cuma nggak tahu kenapa sekarang jadi sableng begini.‖


Aku tersenyum membalas uluran tangan Putra. Tapi tidak lama, karena dengan cepat Nara menarik tanganku dari tangan pria itu.


―Jangan lama-lama, takut naksir bini orang. Jaman sekarang bini orang kelihatan lebih menggoda daripada perawan lewat,‖ ucap Nara yang kemudian membawaku berlalu tanpa menunggu reaksi dari Putra.


―Sialan!‖ serunya setelah kami melangkah beberapa meter.


Nara terkekeh. Tangannya berganti merengkuh pinggangku, melewati beberapa gerombolan para perempuan dengan dress putihnya. Dia membawaku ke sebuah meja, menarik satu kursi untukku.


―Tunggu Abang di sini. Kamu mau minum apa? Biar Abang ambilin.‖


Dia mengecup puncak kepalaku tanpa peduli keadaan sekitar begitu aku duduk di kursi yang dia sediakan untukku. Tangannya juga memberikan usapan di lenganku.


―Jangan ke mana-mana. Abang nggak lama. Kalau ada yang ngajakin kamu ngobrol, jangan sok asik. Terutama cowok. Oke?‖


Aku tertawa. Sejak kapan dia menjadi seperti ini? Sekali lagi dia mengecup puncak kepalaku sebelum meninggalkanku. Aku sendiri tidak begitu tertarik dengan keadaan di sini. Entah, aku hanya merasa asing. Aku lebih memilih menenggelamkan diri pada ponsel Nara, memainkan salah satu game di sana.


Entah berapa lama aku tidak peduli dengan keadaan sekitar, yang kutahu dan kusadari Nara sudah cukup lama pergi. Aku mengangkat wajah dan mendapati Mentari tersenyum, berjalan mendekatiku.


―Cari Nara? Kamu tahu, kan, jawabannya? Aku bahkan pernah kasih tahu kamu bagaimana kalau dia datang.‖


Aku sudah memprediksi ini. Ini bukan reuni biasa. Sejenak aku terdiam, lalu menatap Mentari dengan tenang.


―Memangnya kenapa kalau dia datang? Nara sudah tahu risikonya, kok. Lagian apa untungnya, sih, buat kamu? Aku, kok, nggak habis pikir, ya?‖ Aku tertawa sinis.


―Karena aku tahu, kamu nggak seserius itu sama Nara. Dan Nara juga nggak secinta itu sama kamu.‖


―Hari gini masih bicarain cinta? Cinta yang mana? Yang belum kelar? Move on-lah.‖ Aku bergegas mengambil tas. Menanggapi perempuan ini hanya akan membuat tanganku gatal.


Mataku bekerja keras mencari Nara di antara kerumunan orang- orang setelah di stand minuman. Aku tidak menemukan sosoknya. Sejenak aku menarik napas, meyakinkan diri kalau Nara hanya untukku dan Thalita akan segera berakhir.


Samar-samar aku mendengar suaranya ketika melintasi stan snack. Aku menggerakkan kepala, meneliti setiap sudut. Dan aku terdiam sesaat, menahan gejolak yang tiba-tiba melanda. Dia dengan seorang perempuan sedang duduk, seperti berbicara hal serius. Cantik, dengan dress putih seksi, terlihat sempurna. Ini penilaian pertamaku mengenai perempuan itu. Rambut panjang yang dibiarkan ikal kusut menambah kesan seksi. Apa dia yang bernama Thalita? Aku membiarkan hatiku terus bertanya dengan mata yang masih mengamati, sementara kakiku melangkah pelan tanpa bisa kukendalikan.


―Jadi, sudah ada yang gantiin aku?‖ tanyanya terdengar sendu, sedikit menyesal dan menjadi sebuah kalimat yang menyengat telingaku.


―Namanya Ichlal. Seseorang yang sangat luar biasa. Dia masih berdiri ketika semua menolak kedatangannya. Dia mengorbankan segalanya demi hidup pas-pasan denganku. Padahal kalau dia mau, dia bisa menolakku dulu. Tapi, dia nggak. Jadi, bagaimana bisa aku kehilangan perempuan tangguh kayak dia? Aku merasa sangat beruntung, Lita. Hidupku sempurna sekalipun aku nggak punya segalanya.‖


―Aku pikir Tari becanda kalau kamu sudah menikah. Aku baru berniat menemui kamu, meminta maaf karena dulu pernah menyerah. Apa aku boleh bicara, kenalan sama istri kamu?‖


―Untuk apa?‖


Mendengar dia bicara, aku merasa yakin atas perasaannya. Dia bukan Nara yang mereka kenal. Nara yang masih memiliki perasaan terhadap Thalita. Nara yang belum move on dan hanya menganggapku sebagai pelarian. Bukan itu. Nara sekarang, hanya aku yang mengenalnya dengan baik. Dia pria yang mulai menata diri di atas komitmen yang dia bangun untukku. Untuk hidup bersamaku, membangun keluarga kecil bersama-sama.


―Abang,‖ panggilku pelan.


Seketika dia menoleh, juga perempuan itu. Nara segera berdiri dari duduknya, menghampiriku. Tangannya menyambut tubuhku untuk masuk ke dalam rengkuhannya.


―Kapan kamu datang? Maaf, Abang lagi ada urusan dikit. Kamu nunggu lama, ya, makanya cari Abang?‖


―Aku dengar semuanya,‖ bisikku menatap dirinya.


―Kamu?‖


Aku mengangguk, sedang dia menegang di hadapanku. Sekilas, aku melirik perempuan yang berdiri dari duduknya. Dia mengamati kami. Aku lantas memejamkan mata sebelum berjinjit untuk mengecup pipinya.


―Terima kasih untuk tetap menjadikan aku sebagai perempuanmu. Terima kasih untuk tetap bersamaku. Aku—‖


―Abang yang terima kasih. Terima kasih karena kamu nggak jadi pergi dari kehidupan Abang. Terima kasih karena kamu selalu percaya sama Abang. Kamu yang selalu ngasih kesempatan kalau Abang adalah pria yang cukup bisa kamu andalkan. Cuma kamu yang bisa melakukan ini. Tetap bersama Abang, ya?‖ Dia memotong kalimatku, matanya menatapku penuh kesungguhan.


Apa yang bisa kulakukan selain meleburkan diriku ke dalam dekapannya? Aku merasakan gerakan tangan membungkus tubuhku. Pelukan eratnya, menghadirkan senyuman tersendiri bagiku.


―Ichlal? Jadi, ini seseorang yang sudah membuat kamu berhenti dari perasaanmu terhadapku?‖


Nara melepas pelukannya padaku, tapi tidak dengan rengkuhannya. Aku terdiam menatap Nara. Aku menemukan senyuman tanda bangganya juga anggukan kepala darinya. Mataku beralih pada sosok perempuan itu. Sejenak kami saling menatap hingga kemudian dia tersenyum tipis kepadaku.


―Aku dulu pernah memiliki kisah bersamanya, tapi aku memilih untuk menyerah. Aku datang untuk menyambung kisah itu lagi setelah aku menyesal kenapa aku dulu selemah itu. Tapi sekarang aku lebih menyesal karena ternyata aku terlambat untuk kembali. Ichlal, senang bisa ketemu. Kamu beruntung memilikinya,‖ ucapnya terdengar bergetar, lalu tersenyum tipis di akhir katanya sebelum dia memilih berlalu dari hadapan kami. Mataku mengamati punggungnya yang makin menjauh. Dan aku tidak melewatkan tatapan Mentari kepadaku ketika Thalita benar-benar tak terlihat. Bahunya merosot seiring dengan senyum kemenanganku padanya.


Seseorang itu menyesal karena datang terlambat. Sedang aku pernah menyesal karena meninggalkan duniaku hanya untuknya yang hanya menyeretku dalam penilaian sebagai orang asing di mata keluarganya. Tapi seiring berjalan waktu aku berpikir, aku menyadari, segalanya yang kumiliki dulu tidak lebih berharga dari seorang Nara. Dia yang berperan penting menjadikan aku seorang wanita sekuat ini. Aku yang beruntung memilikinya. Karena dari kekacauannya aku belajar untuk memahami, berbenah diri agar dia tidak menyesal menjadikan aku sebagai istri.