
Naraspada Narendra. Bagiku, dia seorang yang tanpa cela. Bukan karena status sosialnya, tapi entah mengapa aku melihatnya bagai satu paket yang sempurna. Dia bukan bule, bukan pula CEO, atau apalah sebutan bagi orang-orang berduit lainnya. Yang kulihat darinya adalah seorang karyawan kantor biasa, tanpa jabatan, dan cukup ulet. Ya, dia ulet. Bahkan dari tabungan per bulan, dia sudah bisa mendirikan sebuah kedai impiannya.
Bisa dibilang, aku wanita yang terbilang beruntung dipersatukan dengannya dalam sebuah ikatan perkawinan. Meski aku tidak mengenalnya secara mendalam. Kisah kami berawal dari ketidakse- ngajaan di sebuah bus Transjakarta arah Harmoni–Blok M. Namun, seperti sebuah siklus kehidupan, semuanya tidak ada yang sempurna, bukan? Luka-luka yang kuanggap kecil sepertinya tidak bisa dibilang remeh. Karena hal kecil itu lama kelamaan akan menyeret luka yang lebih besar lagi, bahkan mungkin hingga mengakar. Akan tetapi, aku tetap beruntung pernah mengenal seorang pria bernama Nara.