Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 31



Breakeven -  Bab 31


Aku beranjak diam-diam dari meja, menghampiri pemilik sepasang mata itu dengan sedikit keberanian. Makin dekat, aku makin melihat wajahnya basah. Benar-benar basah oleh air matanya. Tubuhnya bahkan sedikit bergetar. Entah dia menangis untuk apa.


Saat aku tepat di hadapannya, kami hanya saling menatap. Aku melihat ada luka di sana. Aku menarik napas dalam-dalam. Yang kutahu dari cara dan sikapnya selama ini, dia itu perempuan tak tersentuh. Dia sangat pintar menyembunyikan apa yang dia harapkan. Apa yang menjadi tujuannya, sangat pintar disembunyikan.


―Jadi kamu hamil?‖ tanyanya parau.


―Apa itu yang membuatmu menangis?‖ tanyaku bergumam.


Mataku masih menyelami manik matanya.


Dia tersenyum getir lalu tertawa sumbang. ―Pertanyaanmu menjadi jawaban untukku. Kamu hamil, dan itu milik Nara. Aku—‖ Dia memejamkan mata. Tangannya mengepal kuat. Bersamaan dengan itu, air matanya jatuh lagi. Dia menghentikan kalimatnya.


―Kamu mencintainya?‖ tebakku iseng.


Dia menghela napas, mungkin menenangkan diri. Lalu menggelengkan kepalanya, tersenyum sinis. ―Kalau aku mencintainya, sudah sejak dulu aku menerimanya saat dia bilang cinta,‖ sahutnya sambil menatapku seolah aku seorang wanita yang tidak tahu malu karena mengejar-ngejar Nara. Tapi ini lucu bagiku, serendah itukah aku?


―Terus?‖ Aku menaikkan alis sebelah.


―Keputusannya menikahimu itu tiba-tiba. Sedang selama ini dia nggak bisa move on dari Thalita, kalau kamu mau tahu.‖ Dia mengusap kasar air matanya.


Entah drama apalagi yang sedang dia mainkan sekarang. Tiba- tiba dia membahas Nara dengan masa lalunya. Aku hanya memberikan tatapan jengah untuknya.


―Apa kamu pernah berpikir, kamu hanya pelarian bagi Nara? Apa kamu pernah berpikir kalau tiba-tiba masa lalunya hadir? Aku menjaga Nara dari keadaan saat nanti dia akan menyesal lalu meninggalkan wanita yang sudah bersamanya ketika tiba-tiba Thalita datang atau dia teringat Thalita.


"Aku hanya nggak mau Nara yang seperti itu. Dia nanti hanya akan menyakiti wanitanya. Tapi, nyatanya ini sulit. Kamu bahkan hamil sekarang.‖


Aku terdiam. Aku memang tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Tapi, aku pernah berpikir bahkan berdebat dengan Nara mengenai posisiku sebagai pelariannya. Bukan dengan Thalita, melainkan wanita di hadapanku ini. ―Jadi, ini yang membuatmu bersikeras agar Nara nggak jatuh di dalam genggamanku? Agar Nara meninggalkanku?‖


Wanita itu terdiam. Entah, aku tidak bisa memahami pikiran kompleksnya. Wanita ini sangat membingungkan. Setelah tadi memberiku tatapan merendahkan, sekarang kalimatnya bernada seolah peduli dengan nasib pernikahanku. Aku menarik napas dalam- dalam. Meraih kedua bahunya. Membuat wanita ini membalas tatapanku.


―Nggak masalah Nara hanya menjadikanku pelarian saja. Hidup itu berjalan, Tari, nggak bisa kamu patri di tempat. Kalau Nara pada akhirnya berlari padaku, berarti dia masih hidup. Dia masih bisa menggunakan akal sehatnya. Buat apa menangisi orang yang sudah pergi meninggalkannya? Hidup harus berjalan, kan? Masa depan kita yang ciptakan. Kita yang menentukan. Bukan membiarkan mereka mengalir, sedang kita hanya diam, berharap semuanya akan berakhir indah.‖


Aku berkata serius padanya. Apa pun yang kita pilih pasti akan meninggalkan jejak dan mendatangkan risiko. Saat aku memilih menerima Nara, artinya aku harus siap untuk segala masalah yang akan datang. Karena hidupnya saat ini terlahir dari masa lalu. Aku tidak bisa menyuruhnya untuk melupakan atau bahkan menghapus beberapa bagian.


―Saat Nara ingin melanjutkan hidupnya, seharusnya kamu mendukung. Masalah nanti dia akan menyakiti, itu pilihannya. Sudah menjadi risiko seseorang karena memilih sesuatu.‖ Aku melepaskan tanganku dari bahunya.


―Kamu bahagia bersamanya? Kamu nggak takut nanti masa lalunya akan datang? Kamu nggak takut Nara akan mengecewakan kamu?‖ tanyanya, mencoba mempengaruhiku dengan pikiran buruknya.


―Hidup itu nggak selalu bahagia, Ri. Kamu nggak tahu rasanya dipandang rendah. Di umurmu yang matang, saat yang lain sudah mengantar anaknya sekolah SD, tapi kamu masih melajang, masih enak-enakan bekerja dan orang-orang mencibirmu perawan tua, rasanya itu sakit.


"Saat kamu kerja seharian dan kamu memilih menikmati hasil kerjamu, mereka bilang, 'kerjamu jadi jablai, ya, bisa belanja senang- senang terus?' Kamu nggak tahu, kan, rasanya direndahkan seperti itu? Aku pernah mencecap semuanya. Kalau kamu bilang kayak gini biar aku melepaskan Nara, kamu salah, Ri. Nggak segampang itu kamu membuat aku sakit. Nggak segampang itu aku jatuh. Nara ada di genggamanku. Dia tahu risiko apa yang harus dia terima saat melakukan kesalahan.‖


―Kamu berniat ingin mempermainkan dia?‖


Aku tertawa, bersandar di dinding. Aku memang terlihat begitu santai, apalagi saat mendapati dia menatapku serius.


―Tergantung. If you wanna a game, I’ll show you the real game. How to play so well, how to handle yourself then how to win the game once in a round.‖ Aku menyeringai di akhir kalimatku.


Aku  mengangkat  bahu.  ―Nggak  penting.  Aku  nggak  mau  tahu tentang dia. Aku nggak tahu dia. Dan kamu juga nggak tahu aku.‖


―Oke. Tapi, jika saat nanti waktu itu tiba, apa kamu masih akan tetap mempertahankan Nara seperti yang kamu lakukan saat ini? Saat kamu menendangku keluar dari kehidupan Nara.‖


Aku tersenyum simpul. ―Logikanya saja, kucing pasti akan mencakar kalau diganggu. Tapi bagiku, sakit itu mahal harganya. Jadi, siapa pun yang melakukan itu terhadapku, harus membayar dengan kesakitan yang lebih.‖


Dia tertawa lirih, menatapku sekian lama. Kemudian tangannya menyentuh bahuku. Menepuknya beberapa kali di sana.


―Aku tahu. Kamu melakukan itu padaku. Aku sudah tahu saat aku mendengar sendiri kamu bicara dengan laki-laki itu, bagaimana kamu menjalankan permainan ini. Kamu berhasil membuat Nara hanya percaya padamu sekalipun berkali-kali aku bilang ini hanya permainanmu,‖ ucap Mentari, mungkin berharap aku akan terkejut begitu dia mengatakannya.


―Aku juga tahu. Tapi, aku beruntung ketika dia menciptakan permainan itu. Sekalipun saat pertama dengar itu menyakitkan. Tapi, bukan apa-apa. Aku jauh lebih menyakitinya ketika aku nggak memedulikan dia.


"Aku berpikir, apa jadinya kalau dia tetap pada keputusannya? Mungkin saat ini, kehidupanku mati. Kami berpisah. Dan nggak akan ada dia. Tapi, saat itu dia mengubah keputusannya. Bertahan bersamaku meski tujuannya hanya untuk mempermainkan aku. Dari sana aku belajar, Tari. Dia yang bilang di hadapan ibuku kalau aku adalah pria yang selalu belajar dari kesalahannya. Dan aku berusaha keras melakukan itu agar dia yakin kalau aku adalah pria yang layak untuk dipertahankan.‖


Nara hadir di antara kami secara tiba-tiba. Ternyata dia mengikuti langkahku. Dasar Nara! Aku mendengar setiap katanya penuh sesak. Kalau saja dia tahu, aku melakukan permainan ini dengan mengabaikan rasa sakit. Mempermainkannya adalah sebuah kesakitan tersendiri karena aku mencintainya. Tapi, mencintainya tidak harus menerima apa pun dia. Keburukannya adalah hal yang harus dia atasi.


―Karena dia masa depanku, Tari. Aku sudah memilih itu. Bisa aku meminta satu hal saja darimu, atas nama sahabat? Sekali ini saja, karena kamu tahu, kan, selama ini aku nggak pernah meminta apa pun?‖ ucap Nara.


Mentari    menatap    Nara.    Tatapannya    sendu.    ―Apa?‖    Aku mendengar nada suara perempuan itu seperti tercekik. Jelas terlihat dia berusaha baik-baik saja di hadapan Nara.


―Jangan merusak apa yang sedang kuperjuangkan. Ini adalah langkah awal kehidupan baru sahabatmu. Aku nggak meminta kamu bersahabat dengan Ichlal, tapi tolong jangan membuat Ichlal meninggalkanku dengan kata-katamu. Dia masa depanku, Tari. Terlepas dari apa yang pernah terjadi. Jangan membuatku kehilangan masa depanku. Dia sudah memberiku kesempatan sekali lagi setelah aku tanpa lelah memohon untuk tetap tinggal. Jika kamu merusaknya, dia nggak akan memberiku kesempatan lagi,‖ ucap Nara sungguh- sungguh.


Selalu ada kesempatan, Bang. Saat ikatan itu tersimpul makin kuat, aku hanya percaya kamu nggak akan pernah melakukan kebodohan itu lagi. Maka selalu ada kesempatan bagi kamu. Dariku, seorang perempuan biasa yang mencintai kamu.


Aku melihat mulut Mentari berucap 'ya' tanpa suara, lalu dia beranjak meninggalkan kami, mendekap dirinya sendiri. Mataku melirik sosok di sampingku. Dia menatapi punggung sahabatnya. Mungkin salam perpisahan. Dia tidak akan pergi. Hanya salam perpisahan untuk batasan yang dia terapkan pada seorang teman.


―Kita pulang. Sudah malam. Kamu perlu istirahat, tapi pamit dulu sama Ayah Ibu,‖ putusnya tiba-tiba.


―Bang tapi—‖


―Ayo. Abang pengin cepet pulang, mau peluk kamu. Sudah lama nggak gitu.‖


―Ayo, apa, nih?‖ tanyaku menatap dirinya penuh selidik.


―Ayo pulang. Abang gendong, nih, kalau nggak jalan juga,‖ ancamnya lengkap dengan tatapan meyakinkan.


Aku terkekeh, menyelipkan diriku dalam rengkuhannya. Sekilas dia memberikan kecupan singkat di puncak kepalaku.


―Just wanna say thank you so much, karena kamu mau bertahan untuk aku. Laki-laki bodoh yang sering buat kamu menangis diam- diam. Jangan pernah lelah untuk bertahan di sisiku, ya?‖ bisiknya di puncak kepalaku.


―Is this love?” tanyaku menengadah—menatap dirinya.


―He-em ... but never ending.‖ Dia tersenyum lembut. Tangannya sedikit meremas pinggangku. Kupikir semuanya sudah terbayar lunas.


Aku hanya menginginkan ini, bukan apa pun yang sempurna. Aku menginginkan dia tetap bersamaku, tidak peduli banyak orang yang menentang. Tidak harus semua orang mendukung kami, karena rasanya itu tidak mungkin. Dalam hidup pasti akan ada orang yang tidak menyukai kita, entah apa alasannya, meski kita juga sudah berusaha bersikap baik. Tapi, menurutku itu tidak terlalu penting. Bagiku, Nara masih menempatkan aku di skala prioritasnya itu yang terpenting.


Tanganku kini melingkar di punggung pria ini. Melangkah ringan meninggalkan rumah orang tua Nara. Melupakan apa yang baru saja terjadi. Tak peduli pada perempuan-perempuan dari masa lalu Nara, karena sekarang aku adalah satu-satunya yang mendampingi setiap langkahnya. Jadi, apa yang harus kutakutkan lagi saat Nara hanya menggenggam tanganku untuk tetap di sampingnya?