Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 11



Breakeven - Bab 11


Abang tunggu kamu di rumah, sekarang!


Aku tersenyum kecil membaca pesan dari Nara. Belum lama duduk di sebuah kafe, aku mendapatkan pesan itu. Tepat saat Davis kembali bersama cangkir kopi dan camilan untuk kami. Dan aku tidak berniat untuk membalasnya. Sudah kukatakan, biarkan aku sedikit nakal sebentar. Aku hanya ingin melepaskan kesakitan dengan cara yang tidak biasa. Menghabiskan waktu dengan orang baru.


―Jadi, sudah berapa lama kamu keluar dari tempat kerjamu?‖ Davis membuka percakapan seraya memberikan satu cangkir kopi latte untukku.


―Belum lama. Sekitar dua bulan lalu kalau nggak salah.‖


Dia menyipitkan satu mata kemudian mulai menyesap kopinya.


Aku pun melakukan hal yang sama pada kopiku.


―Oh ya?‖ Tangannya mengetuk-ngetuk meja, seperti sedang memikirkan sesuatu. ―Aku ke sana sekitar awal bulan kemarin. sebenarnya sudah lama pengin ke sana, tapi baru sempat. Speak aja, sih, pengin kenal kamu. Sayangnya, kamu sudah keluar. Terus sekarang pindah kerja di mana?‖


Aku terkekeh. Kemudian menggeleng. Kulihat dia sedikit terkejut. Mungkin di benaknya muncul pertanyaan, kalau bukan pindah kerja, lalu kenapa berhenti?


―Why?‖ Dia menatapku seperti orang bodoh. Aku mengedikkan bahu, bergerak sedikit mencari kenyamanan dari posisi dudukku.


―Nggak ada. Hanya terkadang, ada hal yang mengharuskan kamu berhenti dari dunia yang kamu cintai,‖ jawabku tanpa beban.


―Oke. Tapi, ini, aku boleh bilang, terkadang mengorbankan apa yang sudah kamu cintai itu bukan hal baik. Kamu meraihnya, bukan perkara gampang,‖ bantahnya. Sebuah argumen yang terkadang muncul ketika aku merasa sudah salah memilih jalan.


Kalau saja kamu tahu alasanku, gumamku dalam hati. Namun aku hanya meringis tipis, kemudian menyesap kembali kopi di hadapanku.


―Entah. Awalnya aku merasa ini harus. Aku berpikir, nanti aku akan menemui dunia baru yang lebih menyenangkan. Menurutku, duniaku dulu terlalu monoton. Aku merasa sedikit bosan. Dan aku memutuskan itu,‖ sahutku, memberikan argumen balasan.


―Kamu hanya perlu sedikit berlibur,‖ kelakarnya yang disusul derai tawa.


―Kamu sendiri?‖ tanyaku.


Dia terdiam, tampak berpikir. ―Pada dasarnya, aku nggak punya


problem yang berarti. Hidupku bebas.‖


―Em?‖ Aku menelengkan kepala.


―Iya. Pekerjaanku hanya jalan-jalan, nanti aku dapat bayaran dari sponsor. Aku biasa buat foto atau video. Terkadang membosankan juga, but it’s okay. Kita harus menikmatinya, kan?‖ Dia mengakhiri ceritanya dengan senyum lebar.


―Ya, kamu benar. Berarti hidupmu nggak menetap di satu tempat, ya?‖ Aku bergerak menyandarkan punggung. Gayaku seperti seseorang sedang menilai. Tangan terlipat di dada dengan tatapan fokus kepadanya.


―Ya. Tapi, bukan berarti aku nggak punya tempat pulang di sini,‖ ujarnya, kemudian diakhiri dengan tawa kecil.


Aku mengambil napas lalu menikmati keadaan sekitar, sebelum menyesap kembali sisa kopi. Tanpa dia sadari, aku menilai sesuatu darinya. Penampilan, bentuk tubuh, bahkan gesturnya. Kupikir, dia bukan dari kalangan orang biasa. Gayanya menandakan dia memiliki kelas.


―Kenapa kamu nggak coba untuk bekerja di perusahaan?‖ tanyaku tiba-tiba. Bukankah kebanyakan seorang pria mencari pekerjaan yang menjanjikan? Perusahaan bonafide dengan gaji besar adalah hal yang tidak bisa diingkari siapa pun.


―Cukup temanku saja.‖ Dia tertawa renyah. ―Aku bahkan nggak tahu kenapa, dari dulu aku nggak tertarik kerja di perusahaan. Sekalipun aku lulusan sarjana, tapi serius, aku nggak tertarik.‖


Aku mengangguk-angguk. Baru aku mau membuka mulut, ponselku bergetar. Mataku melirik, kemudian senyum miringku tercipta begitu mendapatkan apa yang kuinginkan. Nara menelepon- ku setelah beberapa pesan darinya kuabaikan.


Lebih dari 45 menit aku menikmati ini. Bertukar cerita dengan Davis bukan hal yang buruk. Pria peranakan Turki–Iran itu cukup menyenangkan. Aku bahkan hampir lupa kalau saat ini sudah pukul 10 malam.


―Kamu mau pulang?‖ tebak Davis. Mungkin dia membaca gerak-gerikku yang beberapa kali melihat ke arah jam tangan.


―Ya. Ini sudah cukup larut buatku.‖ Aku melipat senyum sebagai tanda maafku.


―Oke. Mau kuantar atau ...?‖ tawarnya sopan.


Aku menggeleng. ―Aku bisa pulang sendiri. Mungkin pakai taksi saja.‖


―Serius?‖


―Kirimi aku pesan kalau kamu sudah sampai rumah, ya?‖


Aku tersenyum, mengangguk, lalu beranjak dari duduk. Aku sempat bertukar nomor dengannya tadi. Kali ini aku merasa di atas angin. Aku seperti mabuk, padahal tidak minum. Semuanya melayang pergi dari diriku.


Batinku bersenandung seiring langkah kakiku meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Aku membiarkan kedua tangan tenggelam dalam saku sweter, tidak peduli dengan masalah apa yang akan kuhadapi nanti. Yang pasti, aku akan memastikan sendiri bahwa aku bisa bertahan dengan caraku. Mungkin caraku salah atau bahkan terkesan murahan. Tapi percayalah, untuk kali ini saja, biarkan aku sedikit nakal. Aku memerlukan sesuatu hal yang tidak biasa. Setidaknya itu yang bisa mengembalikan seorang Ichlal menjadi lebih baik.


***


Aku seperti mendapatkan kembali kekuatanku. Aku merasakan kelincahan saat masih sendiri setelah keluar dari mal tadi. Begitu sampai rumah, aku beringsut turun dari taksi. Memejamkan mata sejenak, menghela napas, dan merasakan senyumku nyata di atas rasa yang membuncah.


Sejenak aku menatapi rumah mininalis itu, lalu motor Nara. Dia benar sudah pulang. Baguslah, batinku tertawa mengejek sebelum melangkah mantap memasuki bangunan itu. Tidak terkunci. Aku tahu, dia sengaja. Mungkin dia berharap aku akan pulang secepatnya begitu mendapatkan pesan masuk. Tapi pada kenyataannya, itu tidak terjadi. Aku pada pendirianku. Seorang Ichlal di masa lalu, bebas dan keras kepala.


―Jadi, siapa dia?!‖ Nara menyambutku dengan sebuah perta- nyaan bernada marah.


Aku menaikkan alis, menatap dirinya seolah aku terkejut. Namun kemudian aku mengembangkan senyum miring. Aku tidak melewatkan tatapan emosi dan gurat keras di wajahnya. Dia marah juga ... cemburu.


―Ichlal!‖ panggilnya, memperingatkan.


―Apa itu penting?‖ tanyaku sambil melangkah melewatinya begitu saja menuju ke kamar. Aku mendengar geraman kesal darinya.


―Kita belum lama menikah, tapi kamu sudah berani jalan sendiri, apalagi ketemu pria lain. Gimana bisa kamu nggak menghargai Abang sebagai suami yang harus kamu jaga nama baiknya?‖


Apa katanya? Aku berhenti dari langkahku, membalikkan badan demi memberinya tatapan tak percaya.


―Coba ulangi. Abang bilang apa barusan?‖ tanyaku kembali menghampirinya, menantang.


―Jangan buat Abang marah. Kamu jalan sama pria lain di hadapan teman-teman Abang. Kamu tahu perasaan Abang?‖


Aku mencondongkan tubuh kepadanya. Tanganku bergerak mengalung di lehernya. Begitu dekat. Entah, malam ini aku ingin sedikit bermain-main. Aku ingin tertawa ketika mendapati tubuhnya menegang, terkejut dengan apa yang kulakukan.


―Terus kenapa Abang jalan sama Mentari? Selalu Mentari. Apa Abang tahu perasaanku?‖ tanyaku pelan, memberinya tatapan sendu yang sengaja kubuat.


―Dia berbeda. Dia hanya teman. Abang, kan, sudah bilang sama kamu,‖ jawabnya kaku. Aku mengerti, dia tidak pernah menjumpai Ichlal yang seperti ini, yang sedikit nakal.


Aku mengulum senyum. Kali ini lebih berani. Aku mendekat- kan wajah padanya bahkan nyaris tanpa jarak.


―Jadi, dia teman Abang? Sahabat Abang?‖ Aku kembali terse- nyum miring, memberikan jeda pada kalimatku. ―Sama. Laki-laki itu juga teman aku. Namanya Davis. Sekarang sudah aku kasih tahu. Jadi, apa bedanya Davis dan Mentari? Mereka ada di posisi yang sama. Kalau kamu merasa marah, cemburu, atau bahkan sakit saat melihat aku bersamanya, lalu bagaimana denganku, Bang?‖


Dia terdiam. Dan aku cukup puas malam ini. Aku menyentak rengkuhanku padanya, lalu meninggalkannya begitu saja. Tapi apa yang kulakukan baru saja, bukan berarti aku menang. Aku malah kembali merasakan sesak itu. Kali ini bukan cemburu pada Mentari, melainkan karena cintaku padanya. Melihat dia terjerembab karena kalimatku, melihat dia termenung dengan tatapan terluka, itu adalah luka bagiku.


Tapi, aku hanya ingin mengajarimu satu hal. Ketika kamu menuntut pasanganmu untuk selalu menghargaimu, mencintaimu, maka ingatlah. Apa kamu juga melakukan hal yang sama?


Aku membiarkan dia dalam keadaannya. Sementara aku membersihkan wajah dari riasan tipis dan mengganti baju. Tidak membutuhkan waktu lama sebenarnya, tapi kali ini aku merasa harus lebih lama. Tidak ada yang kulakukan, hanya menatapi diri di cermin. Ada rasa bersalah yang mulai tercipta, ketika kusadari dia tidak kunjung masuk ke kamar.


Aku menghela napas panjang. Kemudian meraih ponselku untuk sekadar memberitahu Davis sesuai permintaannya. Begitu selesai, aku pikir aku butuh mencari Nara. Lebih tepatnya, memastikan keadaannya. Bisa saja dia sudah curhat sama Mentari dan mereka akan saling menghibur. Tapi, tidak. Aku menemukannya masih berdiri, bersandar di belakang sofa. Tatapannya kosong. Entah apa yang bermain di pikirannya. Aku melangkah mendekat, berinisiatif meraih tangannya. Dia tersentak, tapi tidak bicara, hanya menatapku lekat-lekat.


―Bang?‖ panggilku pelan.


―Jadi, begini rasanya cemburu?‖ tanyanya lirih. Bahkan suara- nya terdengar serak.


Aku kembali dikendalikan oleh perasaan sialan itu. Aku tidak tahan untuk tidak memeluk Nara dan menempatkan wajah di ceruk lehernya. Kembali sebagai Ichlal yang dia kenal selama ini. Rasa bersalah membuat sesak itu datang lagi. Aku tidak pernah melihat Nara begini.


―Jangan lakukan lagi, Sayang. Jangan bikin Abang hancur.


Kalau saja kamu tahu—‖


―Sudah malam. Sebaiknya kita tidur. Maaf untuk tadi. Dia hanya teman. Aku harap Abang mengerti. Abang, I love you, will always love you.‖ Aku memotong kalimatnya.


Dia membeku. Cukup lama hingga membuatku mengangkat kepala demi melihat dirinya. Matanya bergerak, membalas tatapanku dengan sorot tak terbaca. Untuk beberapa saat sampai kemudian dia kembali merubuhkanku di dalam pelukannya yang sangat erat.


Aku gagal marah padamu, karena perasaanku jauh lebih besar dari pada rasa marah itu, Nara.