
Breakeven - Bab 10
" Sayang." Ragu-ragu, dia memanggilku dengan na- da lirih.
Nara pulang lebih awal dari biasanya. Aku tidak bisa langsung menjawabnya. Rasa sesak itu masih kental. Meskipun semuanya terjadi tadi pagi. Yang kulakukan saat ini, membiarkan mataku tertuju pada layar TV. Sedangkan diriku berusaha mengendalikan diri dengan mengatur napas. Aku tidak ingin membuang waktu hanya untuk emosi kepadanya. Yang mungkin akan membuatku menyesal nanti.
Aku sedikit menegang ketika mendengar suara langkahnya semakin mendekat. Tanganku tanpa sadar mencengkeram bantal sofa di atas pangkuan. Karena ternyata, mengendalikan diri dari rasa sakit itu tidak semudah yang kubayangkan.
"Mengenai yang tadi, Abang bisa—"
Aku tertawa kecil. Aku bisa menebak kalimat klise itu dan aku sudah hafal dengan jawabannya. Lagi pula aku tidak ingin mendengarnya sekarang. Aku mengambil tangannya tanpa menoleh. Aku tahu dia berdiri di belakang sofa. Kurasa dia sedikit terkejut
dengan apa yang kulakukan. Aku menarik tangannya hingga dia rubuh, terjerembab. Wajahnya jatuh pas di satu sisi ceruk leherku.
"I love you," bisikku seraya mengusap satu sisi wajahnya.
Sejenak, aku tidak mendapatkan reaksi apa pun darinya. Ini membuatku berpikir, mungkin aku sudah salah melakukan hal seperti ini. Niatku hanya ingin menganggap semua yang sudah terjadi itu bukanlah sesuatu hal yang besar. Tapi nyatanya, aku bukan Mentari yang bisa menyeret Nara kapan saja saat membutuhkan, yang bisa meluluhkannya dengan berbagai cara.
Aku baru akan menghentikan usapan itu ketika pada akhirnya dia menggerakkan kedua lengannya, mendekapku begitu erat. Aku juga merasakan sentuhan ketat dari wajahnya yang berada di ceruk leherku.
"Maaf," bisiknya sendu.
Aku hanya terdiam. Karena bagiku bisikan sendu itu menimbulkan sebuah perasaan seperti disayat. Aku menarik napas panjang. Kemudian berdeham untuk menyembunyikan rasa ingin menangis saat ini.
"Abang, mau aku buatin cokelat panas?" tanyaku. Aku menjauhkan wajah lalu menoleh kepadanya. Dia masih tenggelam di ceruk leherku.
"Mentari hanya teman. Jangan berpikir lebih. Kamu tahu Abang cuma cinta kamu. Sayang, tolong."
Dia masih ingin membahas ini. Mataku mengerjap dalam diam. Tidak ada yang kulakukan lagi selain kembali menjalankan tangan untuk mengusap pipinya.
"Oke. Aku mengerti." Dan mencoba untuk memahami bahkan berharap jika nanti kamu akan menyadari bahwa keluarga adalah prioritas. Bukan sekadar orang yang bisa menerima apa pun tentang kamu.
"Kamu marah?" tanyanya pelan.
Aku menggelengkan kepala. Jika memang aku memiliki alasan untuk marah, maka aku juga memiliki alasan untuk tidak marah. Jadi untuk apa?
"Serius?"
Aku tertawa kecil, menghela napas, kemudian mengangguk. Dia terlihat tidak percaya, karena memang umumnya wanita akan meledakkan emosinya. Namun, aku memilih tidak. Dia melompat melewati sandaran sofa lalu duduk di sampingku.
"Abang nggak yakin. Kamu pasti marah. Abang tahu."
"Kalau Abang tahu aku akan marah, kenapa Abang lakukan itu?" tanyaku menoleh kepadanya.
"Karena dia hanya teman. Nggak lebih."
Aku kembali diam, berganti menatapnya, menelusuri manik matanya. Dia terlihat begitu gelisah. Bibirku memberinya sebuah senyuman tipis.
"Kamu tahu, Bang?" Aku menghela napas, memberi jeda pada kalimatku, sekaligus memastikan jika aku berada dalam kendaliku. "Aku hanya mencoba untuk mengerti. Aku tahu bahkan sadar diri, aku hanya orang baru di hidup Abang. Begitu banyak hal asing yang harus kupahami di sini. Nggak ada yang bisa kulakukan atau aku berikan selain mencoba mengerti. Tentang kamu dan sisi hidupmu.
Orang asing sepertiku nggak berhak menuntut lebih sama kamu. Nggak seperti Mentari yang sudah mengenal kamu jauh sebelum kamu bisa membedakan mana perempuan dan laki-laki."
Aku tahu mereka berteman sejak kecil. Bahkan sejak mereka belum tahu apa itu cinta, apa itu sahabat, dan apa itu teman. Semua hanya karena sebuah kebersamaan. Aku mengulum senyum lalu meraih tangan di pangkuannya. Dia menoleh sambil menatapku dengan segala kebimbangan. Apa mungkin ucapanku membuatnya terganggu?
"Jangan terlalu banyak berpikir. Abang bisa berteman dan bertemu dengannya, kapan pun. Karena di sini, aku hanya orang asing di antara kalian. Jadi, kupikir ...," aku menghela napas panjang, kemudian tersenyum tipis, "aku yang harus beradaptasi."
"Ichlal—"
"Ayolah, aku sedang mencoba berbaik hati. So, kamu mau makan apa atau butuh apa?"
Dia menggeleng pelan lalu beranjak dariku. Saat kepergiannya, aku terempas pada sandaran sofa. Rasa lemas itu bersamaan datangnya dengan kecewa juga sesak. Meskipun aku mengakui hati dan mulutku tidak sinkron. Aku hanya membohongi diriku sendiri. Aku menjebak diriku dalam sebuah kesalahan. Yang aku tahu, ini akan menjadi kesakitan barui. Berkali-kali aku membuang napas, mencoba untuk meredakan kesesakan itu. Aku membiarkannya tanpa memedulikan kesedihanku.
"Ichlal, terima kasih. Oh iya, Abang sudah makan barusan. Kamu bisa delivery untuk makan malam." Dia menyembulkan kepala dari celah pintu kamar.
Aku bahkan tidak memiliki apa pun yang bisa kubanggakan, yang bisa kuberikan demi memiliki hak kecil untuk menuntut Nara dari Mentari. Aku di sini hanya membawa diri. Aku tidak bisa memasak dan aku tidak bisa mengerti dirinya.
***
Apa yang bisa kulakukan untuk membunuh kesesakan selain berjalan-jalan keluar dari rumah? Ini yang kulakukan sekarang. Sendirian. Tidak masalah. Aku yang tadi sudah memutuskan untuk membiarkan Nara tetap berteman dengan mereka. Jadi, kubiarkan malam ini dia pergi ke kedai dengan alasan Bima membutuhkannya. Yang kutahu—dari pikiranku—Bima tidak sebutuh itu. Mentarilah yang membutuhkannya.
Aku tertawa seraya merapatkan sweter. Berjalan santai mene- lusuri pusat perbelanjaan. Ini adalah kegiatanku dulu saat aku masih menikmati masa-masa berkarier, menghabiskan gaji bulanan untuk memanjakan diri, tapi sekarang tidak lagi. Aku hanya berjalan,
mengenang apa yang pernah menjadi kesenanganku dulu, berharap aku bisa menghibur diri.
"Hei!"
Sebuah panggilan membuatku melarikan tatapan ke sumber suara. Langkahku terhenti seketika, tak pernah menyangka bahwa aku akan bertemu dengannya di sini. Dalam keadaan sendiri. Sedangkan dia? Aku hanya tersenyum kecut. Kami seolah sedang bertukar tempat. Di mana ada Mentari pasti ada Nara di sana. Dalam hati aku merutuk, kalau kau tidak mencintainya, kenapa kau menikahinya?
"Oh? Kalian mau ke mana?" tanyaku setelah menetralkan suara. Aku menatap keduanya bergantian. "Kami mau nonton, tapi nggak jadi. Hanya tersisa bangku paling depan. Kamu mau ke mana? Kamu boleh bergabung sama kami. Bima lagi ke toilet." Bukan Nara yang menjawab, melainkan perempuan itu.
Aku hanya ber-oh, kemudian menggeleng. Aku mengangkat kepalaku tegak. Menampakkan seorang Ichlal pada titik keangkuhan. Padahal sebenarnya, aku hanya membentengi diriku yang cukup rapuh ini.
"Anyway, makasih tawarannya. Lebih baik aku menikmati semuanya sendiri. Ini akan jauh lebih menyenangkan." Aku mengedikkan bahu, menyisakan senyum untuknya, kemudian melangkah pergi.
"Ichlal!"
Aku melirik mereka sekilas. Kenapa harus perempuan itu yang menyebut namaku? Ada tangan samar tak terlihat yang kini meremas kuat hatiku. Tidak ada siapa pun yang bisa memahami bagaimana remuknya aku sekarang. Tapi saat ingin menangis, seseorang menghampiriku dengan tatapan penuh selidik.
"Padnya Ichlal?!" panggilnya memastikan.
Aku terlonjak dalam keadaan berdiri. Di hadapanku, aku mendapati seorang pria dengan jaket hoodie dan celana pendek selutut sedang memastikan apa yang dia lihat.
"Aku?" tanyaku meragu, menunjuk diri sendiri.
Pria itu mengangguk mantap. Dia tersenyum lebar padaku. "Aha?! Aku cari kamu di pegadaian itu, tapi katanya kamu sudah keluar. Ah, bagaimana kabarmu?"
Dia siapa? Aku mengerutkan kening, berpikir keras, mencoba mengingat pria di hadapanku. Tapi tak kutemukan apa pun dalam memori.
"Aku pernah ke tempat kerjamu dulu, tapi hanya untuk mengantar teman. Aku lihat nama yang menempel di bajumu," jelasnya.
"Oh, oke. Senang berjumpa denganmu." Aku tersenyum ramah, melupakan kesesakanku.
"Davis. Davis Rendra," ucapnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan untuk kusambut.
Aku meringis lebar, menyambut uluran tangannya. "Kamu sudah tahu namaku."
Dia terkekeh. Aku tidak tahu kenapa, keadaan ini membuatku lupa pada statusku. Aku kembali merasa bahwa aku lajang, seperti saat aku masih bekerja dulu.
"Kamu ada waktu? Atau mungkin kalau bisa, kita mengobrol sambil minum teh, mmm ... kopi mungkin?" tawar pria itu.
Aku menaikkan alis, sedikit menimbang. Dan kupikir ini bukan sesuatu hal buruk untuk melupakan kesesakan sialan itu. Sampai kemudian aku mengedikkan bahu.
"Sebenarnya aku bukan orang yang menyukai kopi atau teh, tapi bukan masalah." Aku tersenyum simpul. Dia juga memberiku senyum yang sama.
Sekilas penilaianku, dia bukan orang sini. Sekalipun tekstur kulitnya hampir sama, tapi aksen bicaranya tidak dapat memboho- ngiku.
Sisi batinku berada di kursi kemenangan dengan seringaian penuh. Setidaknya, malam ini aku tidak menikmati kesendirian dengan kesesakan. Bertemu dengan orang baru adalah hal yang dulu pernah kulalui. Dan aku menyukainya. Saat ini yang sedang kuulangi. Davis menggerakkan tangan, mempersilakan aku untuk melangkah beriringan bersamanya. Aku mengangguk kecil, mulai berjalan. Sekilas aku menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang, masih terdapat Nara dan perempuan itu. Dia menatap tak percaya dengan apa yang kulakukan. Sedang aku melepaskan sebentuk seringaian untuknya. Tanganku terangkat, memberikan lambaian kecil
untuk Nara tanpa Davis ketahui.
Dan biarkan aku menjadi sedikit nakal malam ini, untuk melepaskan segenap sesak karenamu, Nara.
Jika ada orang yang mampu mendengar, hatiku sedang bersenandung ria. Di antara langkah ringanku bersama manisnya pembalasan yang sama sekali tidak kuperhitungkan datangnya. Bahkan, tidak ada di dalam rencana pikiranku. Setidaknya untuk malam ini, bukan hanya aku yang merasakan hal tak terduga yang datang bertubi-tubi.