Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 27



Breakeven -  Bab 27


Ini aku sekarang dengan rona bahagia yang tidak dapat kusembunyikan. Bahkan dua garis merah yang kutemukan saat menjelang siang tiga hari lalu, selang satu minggu setelah Nara menyeretku keluar dari rumah orang tuanya, menambah rasa membuncah itu. Pagi itu aku mencoba menggunakan alat tes tanpa sepengetahuan Nara. Tapi, rasa tak percaya diri membuatku lebih memilih membuangnya ke tempat sampah di pojok kamar mandi.


―Kamu bahagia?‖ tanya Davis, turut memberikan senyuman kepadaku.


―Sangat. Aku merasa Tuhan memudahkan apa yang kurencanakan. Ayah Nara menerimaku dengan cukup baik. Kamu benar, selalu ada celah yang tak terduga.‖ Aku tidak bisa menyembunyikan rasa membuncah di dalam diriku.


―Ibunya?‖


Aku terdiam. Setelah kejadian itu, Ibunya lebih banyak diam, seakan canggung. Apalagi saat berkunjung ke rumah bersama Ayah, wanita itu tidak banyak berucap. Hanya menatapku sendu, seolah ingin berkata maaf, tapi kelu. Seperti ingin membuka benteng keras hatinya, tapi ragu. Beberapa kali aku mendapati ibu Nara menghela napas. Aku memakluminya. Ini bukanlah hal yang mudah.


―Aku nggak bisa meminta mereka untuk menerimaku dengan cepat. Kamu tahu, kan?‖


―Tapi kamu juga harus tahu, seseorang nggak akan menyerah begitu saja. Sama sepertimu yang nggak menyerah untuk mematahkan argumen mereka tentangmu.‖ Davis menghela napas.


Aku mendapati kegelisahan di wajahnya. Setelah seminggu lebih aku tidak bertemu dengannya, kurasa dia sedikit berbeda.


―Kamu ada masalah?‖ tanyaku hati-hati.


Dia tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala. Tangannya meraih tanganku, kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan.


―Entah. Dari ceritamu, aku jadi memikirkan kamu. Aku kagum sama kamu. Tapi jangan salah paham. Aku mulai berpikir buruk tentang ini.‖ Dia mengedikkan bahunya.


―Maksud kamu?‖ tanyaku menyelidik.


―Ah, lupakan. Selalu berdiri di atas kakimu sendiri. Aku selalu support kamu, apa pun itu. Saat ini kamu nggak sendiri lagi. Ada calon anggota baru yang harus kamu jaga dengan baik. Mudah- mudahan ini hanya sebuah ketakutan saja.‖


―Mengenai?‖


―Ichlal, kamu tahu, someone will never stop to annoy you. Itu yang menjadi ketakutanku.‖ Dia berkata dengan sangat serius. Dan aku bisa menebak siapa yang dia maksud.


Aku menahan napas. Senyumku lenyap. Mengingat seseorang yang dimaksud Davis, membuat mood-ku terjun bebas. Seseorang yang tidak akan pernah berhenti mengganggu kami, tepatnya aku, adalah Mentari. Perempuan itu. Mungkin belum akan berhenti sampai aku bersedia meninggalkan Nara. Entah apa yang menjadi alasan perempuan itu setengah mati membenciku.


Tanpa sadar, aku mencengkeram tangan Davis. Aku memejamkan mata, menahan tubuhku agar tidak gemetar, dan tidak menangis. Aku ingin mengatakan padanya bahwa apa yang kuhadapi selama ini bukanlah sesuatu hal yang mudah, tapi ini cukup menguras semua yang ada di dalam diriku. Pikiran, tenaga juga perasaan.


―Apa aku boleh bilang kalau aku lelah?‖ ucapku bergetar. Aku membuka mata, menatap Davis. Mataku sudah berembun. Mungkin pria itu bisa melihat genangan air mata di pelupuk mataku.


―Yeah. Of course. But it doesn’t mean you can stop. You can give up.  No,‖  Dia  menggelengkan  kepala,  ―Apa  pun  yang  terjadi  nanti, kamu jangan takut. Kamu nggak akan sendirian. Aku selalu support kamu. Kalau Nara nggak mampu memahamimu, datang padaku. Aku akan ada setiap saat buat kamu. Kita teman. Hei, don’t cry. Itu akan membuat calon bayimu stres nanti.‖


Aku merasakan tangan Davis merangkum wajahku, memberi usapan di sana. Aku merasa ini sungguh melelahkan. Setelah semua yang kuhadapi selama ini, aku tidak bisa mengendalikan diri agar tidak menangis. Aku sungguh ingin menyerah rasanya.


―Nara tahu kamu hamil?‖ tanya Davis, berusaha mengalihkan perhatianku agar berhenti menangis.


―Belum,‖ jawabku lirih dengan sisa isak.


―Kenapa? Kenapa kamu nggak beritahu dia? Aha, aku tahu kamu berencana kasih kejutan buat dia, kan?‖


Aku tertawa di antara sisa tangis. Aku juga mendengar dia tertawa bersamaku. Tangannya yang tadi merangkum wajahku, kini berpindah mengusap kepalaku.


―Teman baik, teman yang kuat, jangan pernah menyerah meski nyawamu tinggal sesenti. Semuanya terlalu berharga untuk dibiarkan. Jika nanti kamu terjatuh, setidaknya kamu pernah merasakan apa itu berjuang, oke? Jangan sedih lagi. Kamu masih punya aku,‖ ujarnya menyemangatiku.


Aku tersenyum. Pria ini tidak pernah berhenti menyemangatiku agar aku tidak mempedulikan rasa lelah yang mendera. Namanya juga hidup, kalau tidak ada masalah rasanya tidak ada sensasinya. Tidak ada yang bisa membuat kuat kalau tidak ada masalah. Begitu katanya. Tapi, sepertinya hidup Davis tidak begitu pelik seperti aku yang sudah hampir sama dengan sinetron. Banyak drama!


―Hidupku kayak sinetron,‖ celotehku sambil mengambil cangkir minuman.


―Aku yang banyak belajar dari kamu, Ichlal. Bagaimana nanti aku harus menjadi laki-laki yang baik untuk istriku, agar istriku nggak merasa asing di keluarga barunya.


"Yang bisa kupahami dari yang kamu alami, bahwa ada banyak hal yang dikorbankan perempuan saat memutuskan untuk menikah. Dia meninggalkan orang tua yang selama ini membesarkannya demi hidup bersama suaminya. Dia harus beradaptasi dengan keluarga suaminya yang cukup asing, belum lagi teman-teman suami. Aku paham, itu bukan hal mudah. Aku belajar ini agar nanti aku lebih mampu mempedulikan istriku,‖ ucapnya sungguh-sungguh.


―Kamu akan menjadi suami yang baik. Istrimu adalah wanita yang beruntung. Tapi, kapan kamu akan menikah?‖


―Nanti, kalau kamu sudah pasti bahagia. Tugasmu, carikan aku calon istri. Yang tegar kayak kamu. Yang siap aku tinggal kapan saja karena pekerjaanku. Emangnya pekerjaanku kayak suamimu, selalu pulang sore dan ada weekend maupun tanggal merah?‖


―Akan kucarikan nanti. Atau kamu berminat sama Mentari?‖


―Tunggu aku amnesia dulu,‖ sahutnya berdecih, menghadirkan tawa bagiku.


***


Aku melangkah ringan begitu turun dari mobil Davis. Keningku mengkerut begitu melihat motor Nara sudah terparkir di depan rumah. Dia bilang ada sedikit pekerjaan yang mengharuskannya mengulur jam pulang sehingga tidak bisa menjemputku di kafe tempat aku dan Davis bertemu.


Ada banyak pasang sepatu di depan rumah. Apa mungkin teman Nara? Tapi, ini sepatu milik ayahnya Nara. Entah. Mendadak aku merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Aku melangkah tanpa suara memasuki rumah itu dengan lebih waspada.


―Mereka hanya teman! Stop bicara yang nggak-nggak tentang Ichlal!‖


Ada gemuruh yang tiba-tiba datang begitu mendengar bantahan tegas dari Nara. Sepertinya ada pembicaraan serius. Itu suara perempuan yang tadi kubicarakan dengan Davis.


―Teman mana yang sedekat ini? Bahkan kamu lihat sendiri video itu. Makanya aku memaksa Ayah dan Ibu untuk kemari. Agar kamu tahu bagaimana sebenarnya istrimu! Perempuan mana yang sudah bersuami, membiarkan tangan orang lain singgah di pipinya, mengusapnya kayak gitu? Istri baik mana yang tanpa sungkan menggenggam tangan pria lain? Jangan buta, Nara!


"Dia hanya akan menghancurkan kamu! Aku mati-matian berusaha ingin membuka mata kamu! Nggak ada wanita sepintar istrimu! Mempermainkan perasaanmu dan mengkhianati kamu. Di depanmu dia berlagak perempuan baik. Wanita yang kamu bela nyatanya sama dengan Thalita, masa lalumu. Hanya bedanya istrimu bukan dengan temanmu!‖


Dia mengikutiku seharian tadi. Merekam kami saat aku menangis di hadapan Davis. Selanjutnya, tidak kudengar apa-apa lagi. Niatku ingin mengabari kehamilanku sore ini lenyap. Perempuan itu sudah menjatuhkanku untuk kesekian kalinya. Kali ini lebih dalam.


―Ini urusan rumah tangganya! Kenapa kamu repot-repot mengurusinya? Kamu sendiri jual omongan sana-sini. Memang apa yang kamu dapat? Tujuanmu itu apa?‖ Terdengar suara Ayah bergema dari dalam.


―Ayah, Tari hanya peduli sama Nara.‖


―Kamu juga sama! Posisimu itu hanya teman. Jangan mencampuri urusan rumah tangga orang. Kamu memaksa Ayah hanya untuk melihat dan mendengar hal ini? Catering Ayah jauh lebih penting daripada masalah beginian. Ayo pulang, Bu. Kalau kamu cinta sama Nara, bilang! Jangan hanya bisanya jual cerita sana- sini!‖


Aku menarik napas dalam-dalam. Sekali lagi, ini terlalu menyakitkan.


―Tari serius. Ichlal hanya mempermainkan Nara. Nanti dia akan meninggalkan Nara!‖ ujarnya bersikeras pada pendapatnya.


Permainan ini masih berada di dalam kendaliku, kan? Aku meringis tipis. Rasanya aku ingin luruh.


―Sebaiknya kamu yang meninggalkan mereka!‖ ucap Ayah final. Aku mendengar langkah lebar makin mendekat, hingga kulihat


Ayah berhenti berjalan, terkejut mendapatiku bersandar di dinding.


―Putri Ayah?‖


Napasku tercekat. Aku menatap nanar pria paruh baya dengan kumis lebat itu. Matanya menatapku sendu.


―Lebih baik kamu tinggalkan Nara!‖


Mendengar itu, aku seperti sedang naik roller coaster yang melaju kencang pada saat melintasi turunan. Pria paruh baya itu mengatakan kalimat yang sama sekali tidak pernah kukira. Tapi lebih tidak mengira lagi saat Ayah memelukku, mengusap kepalaku seperti aku adalah anaknya sendiri. Pelukan untuk yang pertama kalinya.


―Pergilah, Nak, jika bertahan hanya akan menyakitimu seperti ini,‖ bisiknya parau di telingaku.


Aku tidak bisa menyahut. Leherku seperti tercekik. Ayahnya menyuruhku pergi. Ayahnya melepaskanku. Apa aku masih punya alasan untuk bertahan? Rasanya aku ingin lebur tanpa sisa. Apa aku kalah dalam permainanku sendiri?


―Pergilah. Untuk sebuah alasan, Ayah merestui langkahmu. Ini sudah lebih menyakitkan, Nak. Pergilah.‖


Aku menatap luruh ayah mertuaku saat melepaskan pelukannya. Sedang Ibu hanya terdiam menatapiku. Mungkin benar, Ibu tidak pernah menyukaiku. Aku makin ingin menangis saat tangan Ayah berada di puncak kepalaku, memberikan usapan di sana sebelum akhirnya melangkah pergi.


―Bukan hal mudah untuk datang seorang diri di sebuah keluarga asing. Butuh keberanian yang luar biasa. Apalagi saat kamu harus menghadapi satu per satu anggota keluarganya. Ayah bangga padamu. Jangan ragu untuk pergi demi sebuah alasan.‖


Kalimat terakhir dari Ayah diiringi sebuah senyuman. Entah apa yang Ayah maksudkan. Demi sebuah alasan?