Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 19



Breakeven - Bab 19


"Kamu ingin bercerai?" Suara ibuku membuat kepalaku tertunduk. Aku sudah menoreh luka untuk ibuku sendiri.


"Ibu yang bilang. Hidupmu nggak sebatas jangkauan suamimu. Kamu sendiri yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidupmu. Aku sudah memilih jalanku, Bu."


Aku melihat wanita di hadapanku mengembuskan napas. Terdiam selama beberapa saat. Lebih memilih melanjutkan kegiatannya menuang cokelat cair pada cetakan. Kegiatan Ibu setelah pensiun dari sekolah adalah membuat usaha kecil-kecilan di sela kesibukannya dengan teman-temannya. Membuat cokelat karakter yang digemari anak-anak. Adikku memberitahu beberapa pekan lalu.


"Apa yang menjadi masalahnya, Nak?" tanya Ibu lembut. "Nggak ada yang menyukaiku, Bu. Mereka menganggapku orang asing yang siap menghancurkan Nara kapan saja."


"Yang penting suamimu tetap bersamamu, kan?" Ibu beranjak membawa cetakan itu ke dalam lemari pendingin, lalu kembali menghampiriku.


"Nara jarang di rumah. Apalagi kalau teman wanitanya merengek-rengek, dia langsung buru-buru mendatanginya. Ibu Nara selalu membela teman wanitanya. Mentari sudah seperti anak ibu sendiri, Nak. Jadi nggak perlu takut, Nara nggak ada perasaan apa- apa sama dia. Bukan itu, Bu, poinnya. Tapi, istri mana yang tahan kalau diperlakukan seolah nggak penting. Nggak dihargai. Bahkan temannya sendiri yang bilang sama aku, aku hanya orang asing yang nggak tahu apa-apa. Istri mana yang nggak nahan sesak kalau lihat perempuan lain bersandar di bahu suami? Teman macam apa yang nggak tahu diri dan nggak tahu batasan?"


Ibu tertawa mendengar keluh kesahku. Aku memberengut. Ibu tidak langsung meresponsku. Tangannya kembali menuang cokelat cair dalam cetakan yang lain. Sepertinya cetakan cokelat lebih menarik dari ceritaku.


"Kamu sudah mencoba menegur suamimu?" "Yang ada dia bela Mentari," sahutku lemah.


"Tidak semua orang bisa sesuai dengan kemauan kita, Nak. Mungkin dalam pikiran mereka, kamu orang baru, jadi kamu yang harus beradaptasi dengan mereka. Seharusnya nggak begitu. Mereka sebagai tuan rumah harus lebih bisa mengarahkanmu. Tapi, sudahlah. Nggak semua bisa sesuai dengan keinginan kita. Jika berpisah dengan suamimu adalah yang terbaik menurutmu, maka lakukan, Nak. Yang penting, kamu melepaskannya bukan karena kamu sudah memiliki orang lain. Kamu nggak mencurangi suamimu. Jangan meminta apa pun darinya saat berpisah nanti. Kalau bisa, kamu memberinya sesuatu."


"Apa keputusanku salah, Bu?"


"Lanjutkan, Nak. Kalau mereka nggak menghargaimu, buat apa bertahan? Hal baik yang kamu lakukan akan berdampak sia-sia. Masih banyak orang di luar sana yang bersedia menghargaimu tanpa syarat."


"Tapi keadaan Nara kacau, Bu," desauku lirih, beranjak dari dudukku lalu berpindah di kusen jendela. Aku menatap ke luar sana.


"Perasaanmu masih tetap untuknya?" tebak Ibu. "Iya. Jujur saja, berat meninggalkannya."


"Ibu nggak pernah mengajarimu untuk mengemis kehormatan, Nak. Tetap berdiri di atas kakimu. Keadaanmu sedikit lebih mudah karena belum memiliki anak. Kamu seharusnya bisa lebih tegar dari Ibu dulu."


"Ya. Aku nggak akan menjadi selemah itu. Aku kuat, kan, Bu?" "Teman lelakimu itu baik, ya? Jarang, lho, yang mau murni


berteman saat kamu ada masalah seperti ini. Kebanyakan malah mereka ngomporin."


"Ibu sendiri yang bilang, cari teman itu yang terdidik bukan yang berpendidikan."


Ibu kembali tertawa. Alasan ibu, yang berpendidikan belum tentu dia terdidik. Memang benar. Sekarang banyak orang memiliki title tinggi tapi tidak memiliki attitude yang baik.


"Baguslah. Carinya teman yang banyak. Yang seperti temanmu itu. Siapa namanya? Da ... Dav—"


"Davis, Bu," sahutku. Ibu tadi melihat kami ber-video call begitu aku mengabari kalau aku sudah sampai di Solo.


"Kamu lama, kan, di sini?"


Bu."


"Sebentar. Kan, aku harus mengurus perceraian ke pengadilan,


"Yang kuat ya, Nak. Bahagia itu bukan sebatas kamu dan dia bersama selamanya. Itu ungkapan untuk menghibur orang-orang yang gagal, sih." Ibu meringis kepadaku. Seperti biasa, Ibu tidak betah berlama-lama bicara serius. Aku hanya terkekeh menanggapi celetukan Ibu.


***


Hanya dua hari aku di Solo. Setelah mendapatkan ketenangan, aku memutuskan untuk kembali. Saat ini aku baru tiba di stasiun, pemberangkatan selepas subuh dari Solo. Rencananya begitu sampai, aku akan singgah ke rumah sebentar, mengambil pakaianku yang sudah sempat kukemas di sana, lalu menumpang sebentar di rumah teman sampai aku mendapatkan tempat tinggal baru.


Ada sedikit rasa rindu ketika melihat rumah minimalis ini. Tanpa sadar, aku meringis tipis. Kuharap tidak ada Nara di dalam agar aku tidak merasakan sakit yang luar biasa ketika meninggalkannya. Sudah kukatakan, kan, meninggalkannya adalah kesakitan bagiku. Aku bukan wanita yang setangguh itu. Aku meyakinkan hatiku sebelum keluar dari taksi. Tapi baru membuka pintu, aku mendengar keributan dari dalam rumah. Ada Nara di dalam. Juga suara ibunya. Dan bunyi benda jatuh. Aku menduga, Nara tidak bisa mengendalikan luapan emosinya. Aku melangkah terburu-buru. Melupakan keadaan yang sebenarnya.


"Aku nggak butuh apa pun! Ibu lihat ini! Mungkin cuma dia satu-satunya perempuan yang melakukan ini, karena dia sadar aku sudah bekerja keras. Dia paham, kita bukan dari keluarga berada!


"Dia menerimaku, mau hidup seadanya denganku. Dia nggak pernah minta macam-macam. Apa masih ada perempuan sebaik dia di luar sana? Sekarang, apa yang Ibu lihat?! Dia pergi, Bu! Dia sudah terlalu membenciku!"


Aku menggigit bibir dalam, bersandar di dinding. Yang kudengar selanjutnya suara sesenggukan dari ibu Nara.


"Ini salahku. Salahku, Bu. Aku yang nggak bisa berkeras hati. Aku yang nggak tegaan sama Mentari. Kalau saja ibu nggak selalu membelanya, mungkin Tari nggak akan semanja ini. Apa kalau hidupku berhenti, Ibu akan berhenti membelanya juga?"


"Nak, Ibu hanya berpikir Tari nggak punya siapa-siapa. Tari anak baik," ucapnya terisak.


"Ya! Tari anak baik. Sampai Ibu lupa kalau punya menantu Ichlal! Ibu memang nggak pernah suka sama dia. Seperti Ibu nggak pernah suka sama Thalita!"


"Ibu hanya takut dia akan merendahkanmu! Kita orang nggak punya, Nara! Kenapa kamu susah buat mengerti?"


"Kenapa Ibu susah buat melihat?! Ichlal berbeda! Kalau dia berniat jahat, sudah sejak dulu dia memanfaatkan Nara! Bahkan sekelas Ichlal, Nara nggak masuk dalam standarnya! Aku selama ini berusaha menjaga kalian agar nggak menyentuh Ichlal. Tapi lama-lama, aku yang seperti orang tolol! Menuruti kalian dan melupakan istriku sendiri!"


"Ibu meminta maaf."


"Apa maaf bisa mengembalikan Ichlal, Bu? Apa maaf bisa mengembalikan segalanya? Aku tanya, Bu!" Nada suara Nara makin meninggi. Sedang ibunya semakin tergugu. "Ibu bahkan bilang, Ibu dengar sendiri apa yang Ichlal katakan sama Tari." Nada suaranya melemah. Aku sudah memprediksi bahwa bisikanku kemarin, masih mampu Ibu dengar. Cukup lama tidak kudengar barisan kata debat lagi. Hanya isakan dari Ibu Nara. Sebenarnya aku paham apa alasan Ibu Nara sulit menerima seseorang, apalagi seperti diriku. Thalita saja menyerah. Mungkin karena aku tidak paham tentang peran istri seperti yang ibunya inginkan. Aku tidak paham ***** bengek rumah tangga, mulai dari pekerjaan rumah hingga mengurus suami. Melihat pula dari latar belakangku, aku seorang wanita karier. Aku terbiasa dengan manajemen waktu,seperti kegiatan yang kesan individualnya begitu kental, bukan berkutat di rumah, belajar memasak, dan terbiasa bersih-bersih. Stigma masyarakat makin menambah pikiran buruk ibunya tentang wanita karier sepertiku. Beberapa wanita membuat lelaki seperti tidak berharga. Menjadikan lelaki beralih posisi sebagai pengurus rumah tangga. Bergaya angkuh karena merasa berpenghasilan. Juga, entah apa lagi.


Dia menginginkan seseorang seperti Mentari. Yang selalu menghabiskan banyak waktu di rumah. Sedikit yang kutahu tentang gadis itu. Penampilannya sederhana bahkan terkesan tidak begitu memedulikan apa yang dia pakai. Tanpa mengenal make-up begitu komplet, tidak seperti diriku. Dia mudah mengambil hati orang dengan mulut cerewetnya, terutama keluarga Nara. Tidak hanya itu, dia adalah gadis yang suka sekali memasak. Apa pun, dia bisa melakukannya. Intinya Mentari adalah paket sempurna untuk dijadikan istri.


Aku menarik napas dalam-dalam, meyakinkan diri untuk kembali melangkah. Aku mendapati Nara berdiri dengan dahi bertumpu di dinding. Tangannya merah. Kupikir dia habis meninju dinding. Sedang ibunya duduk tertunduk di sofa.


"Kita nggak kenal dia, Nara. Kamu hanya kenal beberapa bulan lalu menikah. Sementara yang kita kenal dekat saja terkadang menusuk kita. Kenapa kamu lebih memilih yang terlalu asing, bahkan untuk keluarga kita? Sudah menjadi hal wajar ketika seorang Ibu mencemaskan anaknya," ucap Ibu, bersikeras pada pendirian dan pandangannya.


"Ya. Tapi Ibu nggak wajar! Ibu menutup diri dari Ichlal! Aku yang selalu bilang, Ichlal berbeda!" kilah Nara.


"Memang jauh berbeda. Dia dengan apa-apa yang dia miliki! Dia bisa membuatmu jadi boneka! Bukankah Tari selalu mengingatkan itu?! Agar kamu berhati-hati memilih wanita. Tapi, kamu ... apa yang kamu lihat darinya? Apa kamu akan membiarkan dirimu menjadi budaknya? Kamu hanya melihat cantiknya dia. Ibu tahu dia cantik. Tapi, jangan sekali-kali terkecoh sama kecantikan seorang wanita! Buat apa menikah dengan wanita yang begitu cantik tapi nggak bisa ngapa-ngapain? Siapa yang akan mengurusmu nanti? Mengurus anak- anakmu? Kamu? Buka pikiranmu, Nak. Ibu menentangmu bukan tanpa alasan. Karena ibu peduli dengan masa depan kamu, anak Ibu. Kenapa kamu nggak bisa mengerti?"


"Ehm! Ibumu benar. Jangan sekali-kali terkecoh sama penampilan wanita. Itu fake! Hoax kalau kata ABG sekarang. Istri cantik bukan menjamin hidupmu akan sempurna, bahagia kayak dongeng anak yang selalu berakhir dengan happily ever after. Nggak sesimpel itu." Aku menginterupsi tanpa rasa bersalah. Aku tertawa kecil ketika mereka mengangkat wajah. Mendapatiku bersandar dengan satu kaki terangkat ke dinding. Kedua tanganku tersembunyi di saku. Gaya tengil seorang Padnya Ichlal.


"Ichlal?" Aku mendapati dua orang itu mendesiskan namaku dengan begitu terkejut.


"Aku masih istrimu, kan?"